Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta

Reza Gunadha | Dian Kusumo Hapsari
Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta
Toko Sedap Djaja Wong Jin, tempat penggilingan, peracikan, dan pengemasan kopi "Bis Kota", di Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara, Jakarta. [YouTube]

Bahkan, sejumlah kedai kopi milenial atau kafe juga menjadi pelanggan setianya.

Suara.com - Sebelum kopi saset beraneka merek menyesaki etalase gerai maupun warung kaki lima, bungkusan kopi cap ”Bis Kota” adalah label nomor wahid bagi warga ibu kota. Kini, perbawanya telah meredup. Tapi, gerigi mesin penggiling Toko Wong Hin masih bersetia melahirkan kopi itu, di utara Jakarta.

Dua mesin penggiling kopi yang tampak kusam, ketinggalan zaman, dan berdebu, masih berputar menggiling biji-biji kopi dan mengeluarkan suara bergemuruh dari dalam Toko Sedap Djaja Wong Hin, dua pekan lalu.

“Mesin ini sudah dipakai sejak masa Jepang,” tutur Wong Fiefie Widjaja, pemilik toko tersebut.

Fiefie adalah generasi ketiga yang mengelola Toko Sedap Djaja, satu-satunya toko tempat penggilingan, peracikan, sekaligus pengemasan kopi cap “Bis Kota”.

Ia mewarisi usaha itu dari sang ayah, Martono Widjaja, yang merupakan generasi kedua pemilik toko yang persisnya berada di Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara tersebut.

Dulu, ketika kakek Fiefie kali pertama merintis usaha pada tahun 1939, kopi yang diproduksi toko tersebut bernama “Kopi Terompet”.

“Tapi, sejak 1943, namanya menjadi ‘Kopi Bis Kota’. Sejak saat itu, kami juga tak pernah mengganti gambar dan tulisan yang tertera pada bungkusnya,” tutur Dede—sapaan akrab Fiefie.

Pada bungkus setiap kopi di toko itu, memang masih tertera tulisan dalam ejaan lama: “Toko Sedap Djaja d/h Wong Hin. Kopi Wahid No 1 Bis Kota. Kopi pilihan dari Djawa jang paling baik. Terdjual di mana-mana warung. Tergiling dan terbungkus di Djl. Pintu Pasar Timur 40.“

Lambang yang terdapat dalam bungkus kopi itu juga terbilang sederhana, yakni gambar bus kota bernomor polisi B 1943, yang menandai tahun kelahirannya.

Arab Saudi dan AS

Sejak dulu, Dede mengakui jenis kopi produksi tokonya yang paling banyak diburu pembeli adalah robusta. Biji kopinya didatangkan langsung dari Sumatera.

“Kopi jenis robusta paling banyak dibeli, sejak dulu sampai sekarang. Kami menjual paling kecil ukuran 250 gram, seharga Rp9.000,” terangnya.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS