Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta

Reza Gunadha | Dian Kusumo Hapsari
Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta
Toko Sedap Djaja Wong Jin, tempat penggilingan, peracikan, dan pengemasan kopi "Bis Kota", di Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara, Jakarta. [YouTube]

Bahkan, sejumlah kedai kopi milenial atau kafe juga menjadi pelanggan setianya.

Selain robusta, kopi “Bis Kota“ jenis arabika juga banyak diminati pelanggan. Berbeda dengan robusta, kopi jenis arabika dijual lebih mahal, Rp72 ribu per kilogram.

Pelanggan kopi ”Bis Kota” kekinian tak lagi hanya dari pedagang kopi eceran di Jakarta dan sejumlah daerah penyangganya.

“Ada penggemar setia kopi kami yang berdomisili di Arab Saudi. Kami juga mengirimkan kopi ini ke Amerika Serikat, karena saya pernah bersekolah di sana,” terangnya.

Bahkan, sejumlah kedai kopi “milenial” atau kafe juga menjadi pelanggan setianya.

Toko Sedap Djaja Wong Jin, tempat penggilingan, peracikan, dan pengemasan kopi "Bis Kota", di Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara, Jakarta. [YouTube]

Pertahankan Tradisi

Meski dulunya dikenal kopi nomor wahid di Jakarta, Dede mengakui usaha kopinya kekinian mulai mengalami penurunan dalam jumlah penjualan.

Grafik penurunan penjualan itu, diakuinya terjadi sejak satu dasawarsa lalu, tahun 2008. Persisnya, sejak kopi instan dalam kemasan saset produksi perusahaan besar dalam maupun luar negeri menyerbu pasar.

Tatkala masih menguasai pasar ibu kota tahun 1970-an sampai 1980-an, Toko Sedap Djaja mampu menjual 3 sampai 5 ton kopi per hari.

“Tapi sejak 2008 sampai sekarang, paling per hari menjual tidak sampai satu ton. Dulu juga mesin kopi jalan terus dari pagi sampai sore. Tapi karena sudah banyak kopi saset, orang lebih pilih kopi saset itu.”

Walau masa-masa keemasan penjualan kopi “Bis Kota” telah terlampaui dan memasuki era senjakalanya, Dede mengakui bakal tetap bertahan pada sistem pemasaran yang sama.

Ia tak mau mengubah cara tokonya menjual kopi. Dia meyakini, ketika banyak yang telah beralih ke kopi saset, kopi “Bis Kota” telah memunyai pasar dan konsumennya sendiri, yakni warga dari kalangan perekonomian bawah.

“Istilahnya, kami membantu konsumen kalangan ke bawah lah. Karena, ini kopi sangat bersejarah, jadi saya sebisa mungkin mencoba mempertahankan ciri khas kami,” tuturnya.

Sedikit berpromosi, Dede mengklaim kopinya lebih aman dikonsumsi ketimbang kopi saset. “Tidak bikin maag, karena ini pure kopi. Tidak pakai pengawet atau tambahan rasa lain.”

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS