Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta

Reza Gunadha | Dian Kusumo Hapsari
Liputan Khas: 'Bis Kota', Melawan Kopi Saset dari Utara Jakarta
Toko Sedap Djaja Wong Jin, tempat penggilingan, peracikan, dan pengemasan kopi "Bis Kota", di Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara, Jakarta. [YouTube]

Bahkan, sejumlah kedai kopi milenial atau kafe juga menjadi pelanggan setianya.

Dede bercerita, saat tokonya dikelola sang kakak, Wong Kieky Widjaja—meninggal dunia pada 10 Januari 2018—pernah mendapat tawaran menggiurkan dari perusahaan besar kopi.

Saat itu, perusahaan tersebut menawarkan mereka untuk membuat dan memasarkan kopi “Bis Kota” dalam kemasan saset.

Tapi, tawaran itu ditampik mendiang Kieky, karena tak mau menghilangkan ciri khas kopi buatan keluarganya.

Dede juga mengakui tidak berniat membuka cabang di daerah lain atau memasarkannya secara daring (online). Sebab, tanpa membuka cabang pun ia menuturkan masih kewalahan untuk menjalankan bisnisnya tersebut.

“Kami tetap mempertahankan apa yang diwariskan saja. Sebisa mungkin kami tetap bertahan, ini sudah masuk generasi ketiga, jadi sebisa mungkin ciri khas ini dipertahankan,” tekatnya.

Kopi Bis Kota yang diproduksi di Toko Sedap Djaja Wong Jin, Jalan Pintu Pasar Timur Nomor 40 Pasar Jatinegara, Jakarta. [YouTube]

Gaya Hidup

Kekukuhan Dede untuk tetap memertahankan tradisi lama dan tua dalam penjualan kopi “Bis Kota” masih perlu diuji.

Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, dunia perkopian di Indonesia justru terbilang semakin “muda”.

Dulu, kopi kerap diidentifikasi sebagai minuman untuk kalangan berusia 40 tahun ke atas.  Tapi kekinian, penikmat kopi justru banyak dari kalangan muda.

“Peremajaan” itu tidak terlepas dari menjamurnya kedai-kedai kopi bergaya modern, yang membuat kopi menjadi lebih dekat kepada konsumen.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian pada 2016, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia dan pertumbuhan kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan.

Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri, meningkat rata-rata lebih dari 7 persen per tahun.

Sedangkan penjualan ke pasar luar negeri, ekspor produk kopi olahan tahun 2015 lebih manis lagi.

Pada tahun itu, ekspor kopi olahan tercatat mencapai USD356,79 juta alias meningkat 8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab.

Erwin Halim, pengamat usaha dari Proverb Consulting menilai, potensi perdagangan kopi di Indonesia masih sangat besar.

Apalagi, di Indonesia sudah banyak jenis kopi jenis kopi bernilai tinggi, sekelas kopi internasional. Plus, kebiasaan masyarakat yang banyak melakukan pertemuan di kedai kopi.

“Wajar saja kalau banyak kedai dan pemasok kopi yang menjamur untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang rata-rata kaum milenial ini. Banyak kan kita temui yang meeting di kafe atau menunggu seseorang di kafe begitu,” kata Erwin.

Namun, Erwin juga mengingatkan kepada para pelaku usaha untuk terus berinovasi kalau tak mau tergerus oleh pesaing.

Sebab, ia memprediksi pelaku usaha di bidang penjualan kopi akan semakin banyak dalam jangka waktu ke depan.

“Inovasi itu kan tetap berjalan, harus diingat usaha kopi ini banyak di Indonesia, jadi harus terus berinovasi agar tidak kalah bersaing. Ada juga kopi saset yang terus berkembang. Jadi inovasi itu sangat penting untuk menarik perhatian,” ujarnya.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS