-
PSSI resmi memproses naturalisasi dua pemain muda, Mitchell Baker dan Luke Vickery.
-
Kebijakan ini bertujuan mengisi kekosongan skuad Timnas Indonesia menjelang tahun 2030.
-
Erick Thohir menegaskan pembinaan talenta lokal lewat Elite Pro Academy tetap berjalan.
Suara.com - PSSI resmi memulai langkah hukum untuk mengubah kewarganegaraan dua talenta keturunan, Mitchell Baker dan Luke Vickery. Langkah strategis ini diambil demi mengantisipasi krisis regenerasi pemain Timnas Indonesia di masa depan.
Saat ini, kedua pemain tersebut bahkan sudah berada di Jakarta untuk mengikuti sesi latihan bersama skuad Garuda. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkuat lini serang tim nasional dalam jangka panjang.
Baker merupakan ujung tombak potensial yang saat ini merumput bersama klub Amerika Serikat, Vermont Green FC. Sementara itu, Vickery beroperasi sebagai penyerang sayap di kompetisi kasta tertinggi Australia bersama Macarthur FC.
![Luke Vickery kembali cetak gol dahsyat melalui tendangan jarak jauh untuk Macarthur FC di A-League. Simak aksi spektakuler pemain yang diincar John Herdman untuk Timnas Indonesia. [Dok. IG Luke Vickery]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/15/21874-luke-vickery.jpg)
Otoritas tertinggi sepak bola Indonesia kini tengah memacu kelengkapan administrasi kedua pemain tersebut. Proses ini melibatkan koordinasi intensif antar-lembaga negara agar berkas bisa segera rampung.
"Bismillah, segera suratnya keluar gitu. Ya, kami coba lakukan proses. Tentu ada proses-proses yang harus dilalui baik di pemerintah, di DPR, kami lakukan," kata Erick, Senin (8/7).
Kebijakan mendatangkan pemain keturunan ini bukan sekadar program instan demi mengejar prestasi jangka pendek. PSSI melihat adanya ancaman kekosongan pilar saat skuad senior saat ini memasuki usia pensiun.
![Pemain keturunan Indonesia, Mitchell Baker. [Dok. Instagram/@_mitchell.baker]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/07/15/25054-pemain-keturunan-indonesia-mitchell-baker.jpg)
Federasi menilai fondasi tim nasional harus dipersiapkan sejak dini agar tidak terjadi penurunan kualitas performa yang drastis. Proyeksi jangka panjang hingga tahun 2030 menjadi dasar utama dari keputusan penambahan amunisi baru ini.
Kendati gencar mencari darah segar di luar negeri, PSSI menegaskan komitmennya terhadap pembinaan pesepak bola lokal. Talenta dalam negeri tetap menjadi pilar utama yang terus dirangsang pertumbuhannya melalui kompetisi berjenjang.
PSSI menyadari bahwa bibit-bibit unggul nusantara membutuhkan wadah kompetitif yang sehat untuk bisa mematangkan kemampuan mereka. Turnamen usia muda dipandang sebagai instrumen vital dalam menyaring aset terbaik bangsa.
Melalui program seperti Elite Pro Academy dan Piala Soeratin, federasi berupaya menjaring bakat terpendam dari berbagai daerah. Panggung inilah yang nantinya memicu lahirnya bintang-bintang baru bagi masa depan sepak bola tanah air.
Asa besar ditaruh pada kompetisi domestik agar mampu melahirkan pemain yang siap bersaing di level internasional. Beberapa nama dari kompetisi lokal terbukti sudah mulai memperlihatkan taji mereka di tim kelompok umur.
Kolaborasi antara pemain lokal dan naturalisasi dipandang sebagai formula terbaik untuk membangun kekuatan nasional yang disegani. PSSI membuka pintu lebar bagi siapa saja yang memiliki kualitas dan komitmen tinggi untuk merah putih.
Program naturalisasi di era kepemimpinan Erick Thohir menjadi salah satu pilar utama dalam mendongkrak performa sepak bola Indonesia secara kilat di panggung Asia. Kendati sempat menuai perdebatan terkait nasionalisme, kebijakan ini terbukti berhasil menaikkan peringkat FIFA Indonesia secara signifikan.
Kini, fokus federasi bergeser pada aspek kesinambungan jangka panjang dengan menyasar pemain berusia muda. Langkah ini diambil agar tidak terjadi kesenjangan kualitas yang masif saat generasi emas Timnas Indonesia saat ini mulai menua pada dekade berikutnya.