Dari Gang Kecil ke Panggung Dunia, Priska Bawa Budaya terbang Lebih Tinggi Bersama BRI

Dari Gang Kecil ke Panggung Dunia, Priska Bawa Budaya terbang Lebih Tinggi Bersama BRI


Suara.com - Di sebuah sudut sederhana di Jalan Tani, Gang Cisadane, kawasan Pasiran, Singkawang, sebuah revolusi kreatif sedang berlangsung.

Di rumah produksi yang bersahaja, kain-kain batik berkualitas lahir dari tangan-tangan terampil yang kini karyanya telah melanglang buana hingga ke pasar internasional.

Adalah Priska Yeniriatno (38), sosok di balik layar yang membangun ekosistem batik di Singkawang. Menariknya, Priska memulai usaha ini bukan karena warisan keluarga, melainkan berawal dari rasa penasaran saat ia berkuliah di Yogyakarta.

Melihat kerumitan proses membatik di Pasar Beringharjo yang terkadang kurang diapresiasi, ia pun tergerak untuk belajar secara autodidak sejak tahun 2013.

Perjalanan Priska tidaklah instan. Mengingat Singkawang awalnya tidak memiliki tradisi membatik, ia harus menciptakan pasarnya sendiri.

Dengan ketekunan, ia berkeliling dari sekolah ke sekolah, kampung ke kampung, bahkan masuk ke lembaga pemasyarakatan untuk mengenalkan seni mencanting ini.

"Setiap motif tidak sekadar visual, tetapi mengandung filosofi dan cerita budaya," ungkap Priska, via Antara.

Karyanya dikenal unik karena mengusung pendekatan kontemporer yang bebas. Ia mengangkat kearifan lokal seperti motif anggrek Singkawang, tengkawang, nelayan bejale, hingga ikon budaya Cap Go Meh.

Tak hanya itu, Priska sangat peduli pada lingkungan dengan memanfaatkan pewarna alami dari limbah tinta cumi, ampas kopi, hingga daun ketapang.

Demi memperluas dampak, Priska mendirikan komunitas 'Batik Kote Singkawang' dan menggagas Kampung Wisata Edukasi Batik “Ragam Corak Tiga Penjuru”. Wadah ini merangkul berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga kelompok difabel, memberikan mereka ruang kreativitas sekaligus penghasilan tambahan.

Berkat dedikasinya, Priska dinobatkan sebagai Local Champion dalam ajang Satu Indonesia Awards pada tahun 2020. Produk batiknya pun dibanderol mulai dari Rp300 ribu hingga Rp3 juta untuk kain premium, dengan jangkauan pasar hingga ke Malaysia, Jepang, Norwegia, dan Swiss.

Peran Strategis KUR BRI sebagai Mesin Pertumbuhan

Keberhasilan Priska menembus pasar global tidak lepas dari dukungan akses pembiayaan yang tepat. Ia mengakui bahwa program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi tulang punggung perputaran modal usahanya sejak awal.

Priska mulai memanfaatkan KUR dari plafon Rp10 juta dan terus meningkat seiring perkembangan usaha hingga mencapai Rp40 juta lebih. Baginya, KUR adalah pilihan utama karena menawarkan suku bunga yang sangat kompetitif.

“Peran KUR sangat berarti, terutama karena bunganya paling rendah. Ini sangat membantu perputaran modal usaha,” jelasnya.
Kemudahan akses modal ini terbukti sangat krusial, terutama saat menghadapi tantangan pandemi.

Dukungan finansial dari BRI memungkinkan produksi tetap berjalan, menjaga arus kas tetap stabil, dan memastikan para pengrajin di bawah naungannya tetap memiliki penghasilan di masa sulit.


Copyright © 2026 Suara.com - BRI. All rights reserved.