Kredit Tumbuh Agresif, Begini Strategi BRI Jaga Kualitas Aset dan Likuiditas

Kredit Tumbuh Agresif, Begini Strategi BRI Jaga Kualitas Aset dan Likuiditas


Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri perbankan nasional hingga Juni 2026. Kredit dan pembiayaan BRI Group mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sebagai pembanding, kredit industri perbankan nasional pada periode yang sama tumbuh 12,67 persen yoy menjadi Rp9.080,9 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan kredit BRI berada sekitar 3,53 poin persentase di atas pertumbuhan industri.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit BRI pada semester I 2026 berlangsung lebih cepat dibandingkan laju ekspansi kredit perbankan secara keseluruhan.

Namun, tingginya pertumbuhan kredit belum dengan sendirinya menunjukkan seluruh aspek kinerja BRI lebih baik dari industri. Kualitas aset, struktur pendanaan, efisiensi, dan profitabilitas tetap menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Pertumbuhan kredit menjadi salah satu penopang utama kinerja BRI sepanjang semester I 2026. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy. Sementara kredit dan pembiayaan tumbuh lebih cepat, yakni 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy. Artinya, laju pertumbuhan kredit BRI jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan dana yang dihimpun dari masyarakat.

Kondisi ini penting dicermati karena secara industri, DPK perbankan nasional tumbuh 10,21 persen yoy pada Juni 2026, mencapai Rp10.281,8 triliun. Dengan kata lain, pertumbuhan DPK BRI sebesar 6,7 persen berada di bawah pertumbuhan DPK industri sekitar 3,51 poin persentase.

Perbedaan tersebut memperlihatkan karakter ekspansi BRI yang cukup agresif dari sisi penyaluran kredit, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan untuk memperkuat pertumbuhan pendanaan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan transformasi yang dilakukan perseroan tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar pertumbuhan kredit.

“Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Hery, Senin (31/8/2026)

Menurut Hery, agenda transformasi BRI mencakup penguatan bisnis inti sekaligus pengembangan sumber pertumbuhan baru.

BRI tumbuh lebih cepat, tetapi industri juga sedang ekspansif

Pertumbuhan kredit BRI sebesar 16,2 persen perlu dilihat dalam konteks industri perbankan yang juga sedang mengalami akselerasi.

BI mencatat kredit perbankan nasional pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 sebesar 11,51 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong kredit investasi yang meningkat 24,90 persen, kredit modal kerja 8,94 persen, dan kredit konsumsi 5,75 persen.

Bahkan, data BI terbaru menunjukkan kredit perbankan nasional kembali tumbuh menjadi 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Artinya, tren ekspansi kredit tidak hanya terjadi di BRI, tetapi merupakan bagian dari penguatan intermediasi perbankan nasional.

Dalam konteks tersebut, selisih pertumbuhan sekitar 3,53 poin persentase antara BRI dan industri tetap relevan. BRI bukan hanya tumbuh ketika industri tumbuh, tetapi mencatat laju ekspansi yang lebih tinggi.

Ekspansi kredit tersebut beriringan dengan peningkatan laba. Hingga akhir Triwulan II 2026, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen yoy. Net interest income meningkat 9,9 persen menjadi Rp80,5 triliun, sedangkan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.

Dari sisi profitabilitas, Return on Asset (ROA) BRI berada di sekitar 2,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ROA industri perbankan nasional yang berada pada 2,47 persen pada Juni 2026.

Dengan demikian, bukan hanya pertumbuhan kredit BRI yang berada di atas industri. Dari sisi kemampuan menghasilkan laba terhadap aset, BRI juga mencatat posisi yang lebih tinggi.

Meski demikian, terdapat indikator yang perlu dibaca secara lebih hati-hati.

NPL BRI secara bank only turun dari 3,0 persen pada Juni 2025 menjadi 2,9 persen pada Juni 2026. Cost of Credit juga membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Namun, NPL gross industri perbankan nasional pada Juni 2026 berada pada 2,09 persen. Dengan demikian, NPL BRI sebesar 2,9 persen masih lebih tinggi sekitar 0,81 poin persentase dibandingkan NPL industri.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit BRI yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kualitas kreditnya juga lebih baik daripada industri. BRI memang berhasil memperbaiki NPL secara tahunan, tetapi level NPL-nya masih berada di atas rata-rata industri.

Di sisi lain, Loan at Risk (LaR) industri perbankan berada pada 8,47 persen pada Juni 2026, sementara BRI dalam paparan kinerjanya menekankan perbaikan kualitas aset sebagai bagian dari transformasi bisnis.

Perbedaan antara pertumbuhan kredit dan DPK menjadi salah satu aspek yang layak diperhatikan.

Kredit BRI tumbuh 16,2 persen, sedangkan DPK hanya 6,7 persen. Secara industri, kredit tumbuh 12,67 persen dan DPK 10,21 persen.

Ini berarti ekspansi kredit BRI berlangsung dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sumber dana masyarakat. Strategi pendanaan menjadi penting agar ekspansi tersebut tetap efisien dan tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap biaya dana.

BRI menyatakan tengah memperkuat funding franchise melalui peningkatan dana murah berbasis ekosistem, optimalisasi BRImo, QRIS, BRILink Agen, akuisisi merchant, serta integrasi value chain.

Cost of Fund BRI secara bank only sendiri turun dari 3,0 persen menjadi 2,4 persen. Cost to Income Ratio juga membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Secara keseluruhan, data semester I 2026 menunjukkan posisi BRI yang relatif kuat dalam ekspansi intermediasi. Pertumbuhan kredit 16,2 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri 12,67 persen. Profitabilitas yang tercermin dari ROA sekitar 2,7 persen juga berada di atas ROA industri 2,47 persen.


Copyright © 2026 Suara.com - BRI. All rights reserved.