Taruh Nyawa di Selat Perbatasan, Wanita Ini Sukses Ubah Nasib Ratusan Ibu-Ibu di Sebatik

Taruh Nyawa di Selat Perbatasan, Wanita Ini Sukses Ubah Nasib Ratusan Ibu-Ibu di Sebatik


Suara.com - Perjuangan memperluas literasi serta akses keuangan di wilayah perbatasan Indonesia membutuhkan daya tahan dan komitmen tinggi.

Perjalanan tersebut dirasakan langsung oleh Fipi Novita Sari, seorang Account Officer (AO) Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar, yang bertugas menembus tantangan geografis jalur darat dan laut untuk mendampingi para pelaku usaha ultra mikro di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Selama penugasannya di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut, Novita harus mengarungi perairan dengan perahu kecil serta melintasi medan darat yang berkelok di antara perkebunan kelapa sawit.

Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi kerap menjadi tantangan harian saat hujan deras mengguyur wilayah pesisir. Kendati demikian, rintangan fisik tersebut dibayar dengan dampak sosial nyata yang dirasakan oleh masyarakat lokal.

Saat ini, ia mendampingi sekitar 18 kelompok yang menaungi hampir 100 nasabah perempuan di daerah tersebut.

Mayoritas nasabah yang didampingi merupakan para perempuan pembudidaya dan pengolah hasil laut, khususnya komoditas rumput laut, udang, serta kerang tudai. Sebelum memperoleh saluran pembiayaan dari PNM Mekaar, sebagian besar perempuan di Sebatik hanya berperan sebagai buruh pengikat rumput laut (Mak Betang).

Kehadiran modal usaha dan pendampingan berkelanjutan memungkinkan mereka bertransformasi menjadi pemilik usaha mandiri yang mampu membeli sarana budidaya seperti tali bentangan dan peralatan penjemuran.

"Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang, apalagi ketika banyak kendaraan roda empat yang melintas. Namun, dari sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri," ujar Novita.

Ia mengamati bahwa geliat usaha rumput laut di Sebatik memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok ekonomi nasional dan global.

Sebagian hasil panen dari Nunukan dikirim ke Pulau Sulawesi untuk diolah di pabrik pengolahan hingga menembus pasar ekspor, sementara sebagian lainnya diolah masyarakat menjadi produk turunan seperti amplang rumput laut. Pertumbuhan skala usaha nasabah ini pada akhirnya membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.

Kisah dedikasi Novita dan para pelaku usaha di Sebatik merupakan bagian dari komitmen Holding Ultra Mikro (UMi) yang digawangi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai induk, bersama PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Sinergi tiga entitas ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem pembiayaan terintegrasi bagi segmen masyarakat yang sebelumnya sulit terjangkau layanan perbankan formal.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa keberhasilan Holding UMi diukur dari sejauh mana kehadiran negara mampu menggerakkan kemandirian ekonomi masyarakat di pelosok. Hingga kini, Holding UMi telah mencatatkan penyaluran pembiayaan kepada lebih dari 33,6 juta nasabah pinjaman, yang ditopang oleh basis simpanan mikro mencapai lebih dari 166,3 juta rekening di seluruh Indonesia.

"Kisah Novi di Sebatik menjadi salah satu gambaran bagaimana manfaat tersebut hadir hingga ke pelosok daerah. Di tengah medan yang menantang, Novi terus menjangkau dan mendampingi nasabah agar dapat mengembangkan usaha, termasuk para pelaku usaha rumput laut," pungkas Dhanny.


Copyright © 2026 Suara.com - BRI. All rights reserved.