Jangan Berbohong Kayak Ratna Sarumpaet, Ini Efeknya ke Kesehatan

Ade Indra Kusuma
Jangan Berbohong Kayak Ratna Sarumpaet, Ini Efeknya ke Kesehatan
[Twitter/arsad_al8]

Perilaku Berbohong seperti yang dilakukan Ratna Sarumpaet ternyata bisa berpengaruh pada kesehatan seseorang.

Suara.com - Ratna Sarumpaet akhirnya mengaku berbohong dan mengarang cerita soal wajahnya yang penuh lebam sehabis lakukan perawatan kecantikan sedot lemak.

Ratna Sarumpaet berbohong dan mengarang cerita dianiaya hingga wajahnya babak belur ke anaknya. Kebohongan Ratna Sarumpaet itu pun menyebar ke luar rumah, hingga viral di media massa dan sampai ke kuping calon Presiden Prabowo Subianto.

"Setelah operasi dijalankan tanggal 21, tanggal 22 saya melihat wajah saya lebam," kata Ratna Sarumpaet dalam konferensi pers di kediamannya, Jalan Kampung Melayu Kecil 5 No 24, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018).

"Saya memohon maaf kepada Pak Prabowo, yang tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat,” tuturnya sembari menangi.

Sebelumnya polisi berhasil mengungkap misteri foto Ratna Sarumpaet bonyok yang diklaim karena dianiaya sejumlah orang tak dikenal. Saat Ratna diklaim dipukuli di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat, tanggal 21 September 2018, ternyata dia kala itu berada di Rumah Sakit Khusus Bina Estetika, Menteng, Jakarta.

Perilaku Berbohong ternyata bisa berpengaruh pada kesehatan seseorang.

Bicara orang yang sering atau suka berbohong biasanya memiliki kesehatan yang semakin buruk. Tapi itulah kenyataan yang dibuktikan melalui sebuah penelitian oleh The Science of Honesty Project yang dilakukan oleh Anita E. Kelly, Ph.D. dan Lijuan Wang menganalisis 72 orang selama lima minggu.

Mereka mengikuti eksperimen kejujuran yang berlangsung selama lima minggu, usia rata-rata relawan 41 tahun.

Para peneliti membagi relawan menjadi grup jujur dan grup perbandingan, grup jujur diminta dalam masa eksperimen selama 5 minggu itu harus berbicara jujur, tidak hanya terhadap masalah besar, terhadap masalah kecil seperti memberi penjelasan tentang mengapa terjadi keterlambatan, juga boleh bersenda-gurau atau menyampaikan fakta sebenarnya secara berlebihan.

Dalam masa eksperimen relawan setiap minggu harus datang ke laboratorium peneliti, untuk menerima pemeriksaan fisik dan uji kebohongan secara anonim. Anehnya di akhir penelitian, peserta ini dilaporkan lebih sedikit memiliki masalah kesehatan dibanding kelompok kontrol dan beberapa di antaranya bahkan merasa bisa tidur lebih nyenyak.

Melansir healthmeup, beberapa gangguan kesehatan atau penyakit yang bisa muncul gara-gara sering berbohong adalah sakit punggung, sakit kepala, depresi, pilek, kekebalan tubuh menurun, kecanduan yang tak sehat, meningkatkan risiko obesitas dan kanker.
   
Selain dampak tersebut, tubuh sebenarnya secara alami telah memiliki alarm yang bisa mendeteksi apakah seseorang sedang berbohong atau tidak. Alarm itu berupa tekanan yang muncul secara perlahan dan bisa membuat seseorang stres, lalu akan muncul keringat dingin.

loading...
Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS