Terbukti Ilmiah, Efek Jatuh Cinta untuk Otak Mirip dengan Kecanduan Narkoba

M. Reza Sulaiman | Vessy Dwirika Frizona
Terbukti Ilmiah, Efek Jatuh Cinta untuk Otak Mirip dengan Kecanduan Narkoba
Efek jatuh cinta untuk otak. (shutterstock)

Ilmuwan sebut jatuh cinta memberikan kepuasan yang sama seperti sedang menggunakan narkoba. Benarkah?

Suara.com - Terbukti Ilmiah, Efek Jatuh Cinta untuk Otak Mirip dengan Kecanduan Narkoba

Masih ingat rasanya jatuh cinta? Ya, jatuh cinta membuat orang merasakan bahagia dalam satu menit, lalu cemas mendadak cemas berhari-hari, hingga hampir putus asa.

Pada waktu yang sama, jantung bisa berdegup kencang hingga perut melilit, seperti sedang naik roller coaster yang bagitu memacu adrenalin.

"Saat jatuh cinta Anda bisa sangat bahagia, tapi bisa juga gelisah," kata Prof Lucy Brown, seorang ahli saraf dari Albert Einstein College of Medicine di New York, seperti dimuat Huffpost, Senin (16/9/2019).

Berdasarkan hasil penelitian, itu terjadi karena perasaan jatuh cinta dirangsang melalui otak. Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan dengan mengamati 10 perempuan dan 7 lelaki yang sedang jatuh cinta.

Masing-masing ada yang sudah memiliki pacar sejak lama, baru berpeacaran satu bulan hingga sudah bersama selama dua tahun.

Rupanya, frekuensi hubungan memengaruhi aktivitas otak. Partisipan yang sudah berpacaran lama, merasakan respon senang ketika diperlihatkan foto pasangannya. Rasa senang itu berasal dari pusat rasa senang yang ada di bagian otak.

"Gairah cinta yang dirasakan terbentuk di bagian otak, sama dengan ketika seseorang mengalami kecanduan narkoba dan obat-obatan terlarang," kata penulis studi, Arthur Aron, seorang psikolog dari State University of New York di Stony Brook.

Otak manusia saat jatuh cinta. (Shutterstock)
Otak manusia saat jatuh cinta. (Shutterstock)

Artinya, mereka sangat menginginkan orang yang dicintainya, sama seperti menginginkan narkoba. Para ahli menjelaskan cinta adalah salah satu emosi paling kuat yang dimiliki seseorang.

Otak manusia telah ditransfer untuk memilih pasangan, dan manusia menjadi termotivasi untuk memenangkan pasangan itu, kadang-kadang melakukan hal ekstrem untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mereka.

"Ini membantu kita mengenali kapan sesuatu terasa enak. Dorongan untuk merasa senang dengan pasangan, mungkin akan lebih kuat daripada dorongan untuk melakukan hubungan seks," tutup Brown.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS