Miris, 5 Fakta Perburuan Sadis Lumba-lumba yang Hasilkan Miliaran Rupiah

Dany Garjito
Miris, 5 Fakta Perburuan Sadis Lumba-lumba yang Hasilkan Miliaran Rupiah
Bayi lumba-lumba. [Shutterstock]

Perburuan lumba-lumba di Jepang dikenal sadis.

Suara.com - Tradisi menahun perburuan lumba-lumba di Taiji, Jepang tak henti memancing emosi dari banyak pihak.

Perburuan sadis lumba-lumba dengan dalih tradisi tahunan ini rutin diadakan sedari September hingga Maret setiap tahunnya.

BACA JUGA: 

Dicari, Pegawai untuk Jalan-jalan Gratis dan Digaji Miliaran Rupiah

Air Mata Pun Dapat Membeku, Ini 4 Fakta Oymyakon, Desa Terdingin Sejagat

Dilansir dari berbagai sumber, Guideku.com mencatat lima fakta soal perburuan sadis lumba-lumba yang mengancam ekositem laut tersebut. Apa saja?

Mendapat restu dari pemerintah setempat

Ilustrasi bayi lumba-lumba dan induknya. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi bayi lumba-lumba dan induknya. (Sumber: Shutterstock)

Tiap tahunnya, pemerintah kota pesisir nan kecil dan dihuni sekitar 3.500 penduduk tersebut merestui perburuan 2 ribu ekor lumba-lumba dan pesut dari tujuh spesies berbeda.

Mayoritas lumba-lumba tersebut diburu untuk dimakan namun tidak sedikit pula yang dijual hidup-hidup ke seluruh dunia.

BACA JUGA:

5 Chef Tercantik dari Indonesia, Bakatnya Luar Biasa

Ngakak, Video Kucing Dapet Kultum Sebelum Makan, 'Sabar Ini Godaan'

Bisnis sadis yang bernilai miliaran

Terdapat tiga jenis lumba-lumba yang jadi incaran para pemburu di Taiji yakni lumba-lumba hidung botol, lumba-lumba belang dan lumba-lumba risso.

Ketika perburuan berlangsung, kawanan lumba-lumba akan digiring dari tengah laut menuju bibir pantai sebelum dibantai dengan bengis.

Satu lumba-lumba dihargai senilai 600 Dollar AS atau setara Rp 8,3 juta.

Bayangkan terdapat sekitar 2 ribu lumba-lumba yang diburu dengan kisaran total 16 miliar rupiah.

Bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa lumba-lumba yang dijual ke akuarium di seluruh dunia dibanderol seharga Rp 2 miliar per ekornya.

Merusak ekosistem laut

Ilustrasi ikan laut. (Shutterstock)
Ilustrasi ikan laut. (Shutterstock)

Lumba-lumba adalah mamalia pemakan ikan-ikan pelagis.

Menurunnya populasi lumba-lumba akibat perburuan di Taiji menyebabkan tingginya populasi ikan-ikan pelagis yang digemari banyak ikan predator. Akibatnya kelompok ikan predator pun semakin meningkat dan berdampak buruk pada keseimbangan populasi biota laut.

BACA JUGA: 

Obat Kangen, Ternyata Lemper Juga Ada di New York

Hotel Tempat Persembunyian Edward Snowden Tewaskan Seorang Wanita

Daging lumba-lumba merusak kesehatan

Sejumlah pakar kesehatan menilai daging lumba-lumba bukanlah pilihan yang tepat untuk dikonsumsi.

Lumba-lumba yang kerap memangsa ikan-ikan kecil ini dikhawatirkan memiliki kandungan logam berat seperti merkuri yang begitu pekat dalam dagingnya.

Departemen Kesehatan Jepang diimbau untuk dapat mengukur dan memantau kandungan logam berat maupun senyawa nuklir pada tubuh penduduk Taiji.

Mendapat kecaman banyak aktivis permerhati hewan

Sejak film dokumenter tentang perburuan di Taiji, The Cove booming dan memenangkan banyak penghargaan pada tahun 2009, kelompok pecinta alam dan pemerhati hewan di seluruh dunia menyoroti kegiatan sadis berkedok tradisi tersebut.

Bermacam kampanye dan petisi penolakan digelar serta menarik perhatian tidak sedikit tokoh besar dan selebritis dunia. Dua di antara mereka, komedian Ricky Gervais dan Duta Besar Amerika untuk Jepang, Caroline Kennedy.

Itulah lima fakta soal perburuan sadis lumba-lumba!

GuideKu.com/Aditya Prasanda

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS