facebook
Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Seribu Jalan Menuju DPR, Kisah Klenik dan Caleg-caleg Kuburan

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Seribu Jalan Menuju DPR, Kisah Klenik dan Caleg-caleg Kuburan
[Suara.com/Ema Rohimah]

"Dukun tua itu kini jadi relawan saya. Dia minta kartu nama saya. Dia sampai bilang, satu kampung ini semua milih kamu, tenang saja pasti menang," tutur Supri

Suara.com - Ada seribu jalan menuju Senayan, begitulah prinsip para caleg yang menjadi peserta Pemilu 2019. Sebab ada dari mereka yang tak hanya mengandalkan jalur biasa seperti menebar poster, baliho, atau menggelar pertemuan, tapi juga ”jalan gaib.”

MODAL yang cekak, membuat Supriatno harus benar-benar memeras otak agar mampu menemukan cara paling moncer untuk memenangkan pertarungan melawan caleg-caleg berkantong tebal.

Mengandalkan ketokohan keluarganya, caleg yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk DPR RI ini telaten menyambangi warga di daerah pemilihannya, Sukabumi, Jawa Barat.

Ia menceritakan, sang nenek semasa hidup dulu adalah orang terkenal di wilayah Kabupaten Sukabumi, khususnya Pelabuhan Ratu. Sebab, neneknya adalah paraji atau dukun beranak yang populer dengan nama Mak Haji Jawa.

Baca Juga: Sirkuit Mandalika Bukan untuk Balapan F1

"Nenek saya terkenal karena suka membantu orang tanpa bayaran di kampung. Karenanya ia disegani. Sekarang, orang-orang di Pelabuhan Ratu sudah mengenal saya sebagai cucunya Mak Haji Jawa," tutur Supriatno, pekan lalu kepada Suara.com.

Ketika era Mak Haji Jawa berakhir, pamor keluarga Supriatno sebagai paraji diampu oleh sang bibi. Sama seperti Mak Haji Jawa, bibinya juga populer di kalangan massa.

Karenanya, setiap berkampanye di hadapan warga Sukabumi, Supri selalu menjelaskan dirinya sebagai cucu Mak Haji Jawa dan juga keponakan bibinya yang paraji.

Tak hanya itu, Supri juga mendorong ayah dan keluarganya yang berprofesi sebagai nelayan untuk turut menyosialisasikan dirinya kepada rekan sekerja.

“Relawan saya ya keluarga sendiri, teman-teman di kampung, dan jaringan aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di Sukabumi—dulu saya sempat menjadi pemimpin organisasi itu,” jelasnya.

Baca Juga: PT PAL Akan Luncurkan Kapal Selam Rakitan Dalam Negeri

Namun, Supri menginsafi ada keterbatasan pada pola kampanyenya. Ketokohan sang nenek maupun pamor keluarganya yang lain, belum menjadi jaminan calon konstituen setia memilihnya pada hari pencoblosan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar