Senjakala Metromini dan Cinta yang Tertinggal di Jok Belakang

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Senjakala Metromini dan Cinta yang Tertinggal di Jok Belakang
[Suara.com/Emi Rohimah]

Memang sudah keadaannya begini, metromini enggak dihapus pun nanti hilang sendiri penumpangnya."

Suara.com - Zaman terus melaju cepat, sekencang metromini yang meliuk-liuk mengejar setoran di Jakarta. Tapi laju metromini justru kian terseok-seok. Tahun ini, bus tua dan reyot bakal hilang. Pengamen dan pedagang asongan terancam. Sementara kisah cinta di jok belakang, bakal jadi kenangan.

SATU dekade silam, Nanda Julinda masih duduk di bangku kuliah untuk menimba ilmu dan meneguk manis cinta bersama kekasih di kampus.

Sebagai mahasiswi, ia tak memunyai kendaraan pribadi. Jadi, setiap hari, Nanda memakai metromini dari rumah ke kampus pun pulangnya.

Begitu pula pada akhir pekan, Nanda kerap memakai bus Metro Mini P-70 dari rumahnya di Ciledug, Kota Tangerang, Banten ke Blok M Jakarta Selatan—tempat muda-mudi dulu biasa berkumpul—untuk berpacaran.

“Dulu, zaman kuliah tahun 2011, setiap Sabtu dan Minggu saya suka naik Metro Mini dari Ciledug ke Blok-M, main ke mal, belanja dan jalan-jalan dengan pacar,” tutur Nanda kepada Suara.com, pekan lalu.

Ketika itu ongkos Metro Mini dari Ciledug ke Blok-M tergolong murah, hanya Rp 2.500. Banyak kenangan romantis yang dicecap Nanda dan sang kekasih kala remaja dalam metromini.

Perjalanan naik bus tua itu lebih lama ketimbang transportasi umum lainnya, sehingga banyak waktu untuk mereka berduaan di jok bagian depan, terkadang tengah, atau belakang.

“Karena waktu perjalanan yang lama, jadi bisa lebih lama bersama pacar di dalam metromini. Dia sering menemani saya pulang ke rumah,” kenangnya.

Nostalgia Nanda tentang metromini tak melulu romantis. Ada pula kenangan pahit kala itu. Ia menceritakan, kalau sudah sore, metromini selalu penuh penumpang.

Ketika para penumpang berdesak-desakan dalam metromini, banyak kejadian seperti pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan.

Belum lagi kawanan copet yang  kerap beraksi, maupun pengamen yang suka memaksa meminta uang dan sebagainya.

Metromini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Metromini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

“Kalau pulangnya sudah sore, saya sering berdiri (tidak dapat tempat duduk) dalam metromini. Lalu banyak laki-laki cabul, suka grepe-grepe. Banyak copet dan pengamen yang maksa-maksa minta uang di terminal blok M,” ujar dia.

Susah senang Nanda dan juga kawula muda generasi era 90-an dalam metromini, mungkin tak lagi bakal dirasakan oleh kaum milenial Jakarta pada zaman kiwari.

Metromini, seperti Kopaja dan Metro Mini yang sudah tua dan reyot, sebentar lagi akan hilang dari peredaran.

Bus berukuran sedang itu, mulai tahun 2019 sudah tidak lagi boleh mengaspal di jalanan Ibu Kota.

Itu sesuai amanat Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 5 tahun 2014 tentang Transportasi. Pasal 51 dalam perda itu menyebutkan, masa pakai bus berukuran sedang, maksimal 10 tahun.

Selain karena aturan, bus-bus tua itu telah ditinggal oleh penggunanya yang beralih ke transportasi umum lain, seperti TransJakarta, Mini TransJakarta, taksi maupun ojek online.

Metromini, kini, memasuki zaman senjakalanya.

Tergerus Ojek Online

Terik panas matahari menembus jendela pintu depan Metro Mini U-24 jurusan Senen - Tanjung Priok, pada penghujung bulan Februari, Kamis (28/2) pekan lalu.

Tri Sugiarto bergeming, sang sopir, tetap duduk di bangku belakang kemudi. Sorot matanya kosong, penumpang busnya sepi sejak pagi.

Sejak pukul 05.00 WIB hingga jam 11.00 jelang siang, ia sudah memacu busnya dua putaran dari Terminal Senen ke Terminal Tanjung Priok.

Namun, dari dua putaran pulang-pergi, Sugiarto baru mendapat uang Rp 100 ribu. Belum cukup untuk disetor ke bos pemilik armada.

Sugiarto harus menyetor Rp 200 ribu ke pemilik otobus per hari. Ditambah Rp 150 ribu untuk membeli bahan bakar, artinya ia sedikit-dikitnya harus mendapat Rp 350 ribu sehari.

“Tapi kalau sudah jam 09.00 WIB, untuk dapat satu atau dua penumpang saja susah, seperti sekarang ini. Di teminal sekarang enggak ada penumpang, jadi bus-bus ini nge-tem sebentar, langsung jalan,” ucapnya.

Tri Sugiarto, sopir Metro Mini U-24 jurusan Senen - Tanjung Priok, pada penghujung bulan Februari, Kamis (28/2) pekan lalu. [Suara.com/Erick Tanjung]
Tri Sugiarto, sopir Metro Mini U-24 jurusan Senen - Tanjung Priok, pada penghujung bulan Februari, Kamis (28/2) pekan lalu. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sugiarto sudah lama mencari makan dengan metromini. Lelaki berusia 59 tahun ini mengakui, menjadi sopir bus kota di Jakarta sejak tahun 1978, kala metromini masih jaya-jayanya.

Awalnya, ia meniti karier sebagai kondektur tatkala masih bersekolah, kelas 2 SMA. Setelah belajar mengemudi, ia naik pangkat menjadi sopir.

Sebelum menjadi sopir Metro Mini U-24 sejak dua tahun lalu, Sugiarto menarik Kopaja P-20 rute Pasar Senen – Lebak Bulus selama 8 tahun.

Dulu, ketika metromini masih menjadi primadona warga ibu kota, Sugiarto bisa meraup keuntungan besar.

Tapi akhir-akhir ini, dalam sehari, Sugiarto hanya bisa mendapat Rp 200 ribu, hanya cukup untuk setoran ke bos.

Sementara penghasilan dari menarik metromini yang bisa dibawa pulang Sugiarto kekinian cuma Rp 30 ribu.

Dia baru bisa membawa lebih banyak uang kalau busnya disewa oleh rombongan, seperti carteran pelayat orang meninggal, pernikahan, dan sebagainya.

Untuk rute dalam kota, biaya mencarter busnya berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.

“Sekarang ini, setiap hari, penumpang semakin berkurang. Metromini meski tidak dihapus pun akan habis sendiri. Karena sudah ada ojek online, taksi online, TransJakarta dan lainnya. Kalau dulu sebelum ada ojek online, saya bisa bawa uang pulang Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu sehari,” ujarnya.

Sugiarto sudah pasrah kalau metromini tidak boleh beroperasi, ia akan mencari usaha lain. Dia sudah tidak mau menjadi sopir angkutan umum lagi di kemudian hari.

Sopir metromini tampak bersantai di dalam busnya karena sepi penumpang, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Sopir metromini tampak bersantai di dalam busnya karena sepi penumpang, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Duda ini menyadari, sepinya penumpang yang naik metromini adalah keniscayaan. Seiring perubahan zaman, orang sudah beralih ke transportasi lain yang lebih modern, nyaman, dan cepat.

“Memang sudah keadaannya begini, enggak dihapus pun nanti hilang sendiri penumpangnya. Zamannya sekarang berubah, sekarang jaman ponsel, tinggal pencet bisa pesan angkutan online. Beli mi ayam saja orang pakai ponsel doang sudah datang,” tuturnya.

Nasib Sugiarto terbilang lebih beruntung, karena jurusan busnya belum tutup. Sebab, banyak armada Metro Mini jurusan lain yang sudah berhenti beroperasi karena sepi peminat.

Seperti Metro Mini P-03 jurusan Pasar Senen – Rawamangun; Metro Mini P-05; atau, Metro Mini Rute P-01, yang lebih dulu berhenti beroperasi, menyerah kalah oleh zaman.

Selain itu, Metro Mini maupun Kopaja sekarang sudah tidak ada yang pakai kondektur, karena penumpang sepi.

Segendang sepenarian, Jawawin (48) sopir Metro Mini trayek U-24, juga merasakan hal sama.

Jawawin sudah memacu busnya sejak pukul 04.00 pagi setiap hari. Kamis pekan lalu. Tapi sampai pukul 11.20 WIB siang, baru dapat Rp 150 ribu, belum cukup buat uang setoran.

Metromini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Metromini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Ia mengakui sejak pukul 09.00 WIB nge-tem di Terminal Pasar Senen, tak kunjung mendapat penumpang yang banyak.

“Saya narik dari jam 4 pagi sampai sekarang baru dapat Rp 150 ribu. Setoran harus Rp 250 ribu jadi masih murang Rp 100 ribu. Belum lagi buat beli solar Rp 150 ribu. Biasanya jam 12 siang sudah dapat buat setoran, tapi sekarang ini sepi banget,” ungkapnya.

Jawawin menuturkan, sebelum ada ojek online, ia bisa mendapat penghasilan bersih Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu. Tapi kini, dia hanya bisa membawa Rp 70 ribu dan mentok Rp 100 ribu ke rumah.

“Sekarang, pendapatan sopir metromini dengan biaya kebutuhan hidup sehari-hari enggak seimbang.”

Derita Pedagang Asongan

Sepinya penumpang metromini juga berdampak besar terhadap pengamen maupun pedagang asongan yang kerap beroperasi di dalamnya.

Seperti yang dikeluhkan oleh Rusdi, pedagang asongan yang menjual minuman botol dalam metromini di kawasan Terminal Pasar Senen.

Lelaki berusia 44 tahun ini mengakui, dalam sehari minuman air mineral botolan yang ia jual paling laku hanya setengah kardus.

Dulu, saat masih banyak warga yang menumpangi metromini, jualannya bisa laku sampai 3 kardus dalam sehari.

“Sekarang dalam sehari paling dapat untung Rp 40 ribu, untuk makan saja harus irit. Kalau dulu bisa menabung Rp 50 ribu sehari,” ujar bapak tiga anak ini.

Pedagang asongan tengah menjajakan dagangan di dalam Metro Mini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Pedagang asongan tengah menjajakan dagangan di dalam Metro Mini yang sepi penumpang, Terminal Senen, Kamis (28/2/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Sementara Bakhtiar (50), juga pedagang asongan, merasakan hal serupa. Jeruk yang ia jajakan sejak pagi belum laku-laku. Ia berjualan dari pukul 8 pagi sampai jam 6 sore di Terminal Pasar Senen.

Belakangan ini, ia hanya mendapat keuntungan Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu sehari. Kalau dulu, ia bisa untung dari jualan buahnya Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu sehari.

“Sepi banget sekarang, soalnya tak ada penumpang naik bus di sini,” tuturnya.

Bapak dua anak ini belum bisa membayangkan kalau Metro Mini dan Kopaja sudah tidak boleh beroperasi. Ia belum tahu harus berdagang asongan di mana lagi.

“Saya bingung nanti kalau metromini enggak bisa beroperasi lagi, kasihan para pedagang-pedagang ini.”

Aldi (45), pedagang kacang asongan, bahkan mengakui dari pagi sampai pukul 12.30 siang baru mendapat Rp 13 ribu.

“Sekarang bus sepi penumpang, jadi jualan juga ikut sepi. Dulu saya bisa dapat untung dari jualan kacang Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu, sekarang paling banyak untung berjualan sehari Rp 50 ribu,” kata dia.

Karenanya, ia berharap bisa medapatkan modal bantuan dari pemerintah untuk membuka usaha lainnya. “Saya berharap bisa dibantu modal untuk jualan kopi.”

Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko menjelaskan, pemprov sudah sejak lama menyosialisasikan kebijakan revitalisasi metromini kepada pemilik perusahaan otobus seperti Metro Mini dan Kopaja.

Kalau tak direvitalisasi, maka izin operasi metromini berusia tua tak lagi bisa diperpanjang. Kebijakan ini untuk menciptakan transportasi umum yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Terkait operasional bus ukuran sedang, sudah sejak tahun 2015 dilakukan komunikasi dan diskusi. Bahwa hak masyarakat untuk mendapatkan layanan angkutan umum yang baik dan berkeselamatan,” kata Sigit.

Sementara Ketua Organda DKI Shafruhan Sinungan mengatakan, kebijakan tidak diperpanjangnya izin operasi metromini tua sudah disampaikan pemprov sejak lama.

Karenanya, pemilik armada Metro Mini dan Kopaja seharusnya bisa memperbaiki pengelolaan angkutan bus kotanya menjadi lebih baik.

“Pemilik armada bus sedang seperti Metro Mini dan Kopaja ini posisinya sangat lemah. Mereka harus merubah pola pikir. Mereka harus mengikuti aturan, bus-bus mereka harus diperbarui agar layak sesuai standar pelayanan nasional (SPN), sesuai Permenhub No 29 tahun 2015,” terangnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS