Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Kaum Yahudi Ortodoks di Jakarta: Melawan Stigma, Meretas Jalan Pengakuan

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Kaum Yahudi Ortodoks di Jakarta: Melawan Stigma, Meretas Jalan Pengakuan
[Suara.com/Ema Rohimah]

"Artis-artis Indonesia yang keturunan Yahudi di Indonesia sebenarnya banyak," tuturnya.

Suara.com - Mereka tak seberuntung saudara-saudaranya yang juga berasal dari tradisi Abrahamik. Mereka terpaksa sembunyi, menghindari perburuan. Sembari teguh memegang kanon Torah, kaum Yahudi penganut Yudaisme di Jakarta melawan stigma, mencoba meretas jalan pengakuan.

HUJAN deras tak henti-henti mengguyur sejak sore, sehingga suasana senja semakin temaram di barat Jakarta, Minggu (7/4) akhir pekan lalu.

Seorang perempuan yang sedari lama menunggu di sebuah apartemen, akhirnya turun dari kamarnya di lantai 26 ke lobi. Dia menyambut sang tamu yang sudah telat 20 menit dari waktu janjian mereka, pukul 18.20 WIB.

Perempuan berambut hitam panjang bernama Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja itu ramah menyambut Erick Tanjung—jurnalis Suara.com di lobi, lantas mengajak naik ke lantai atas.

Pada lantai 26, persis di depan flat, Eli menyentuh sebuah benda berisi gulungan kertas yang menempel di samping pintu.

Gulungan kertas itu berisi ayat-ayat doa. Kebiasaan Eli ini adalah tradisi kepercayaan. Benda yang terletak di samping pintu itu disebut Mezuzah.

“Silakan, ini basecamp kami, komunitas Yahudi ortodoks di Jakarta. Terkadang, digunakan juga untuk sembahyang,” tutur Eli.

Ruang utama berisi rak-rak berwarna putih yang menempel di dinding. Rak-rak itu tempat sejumlah peralatan yang biasa digunakan untuk ibadah Sabat dijejerkan.

Menorah—kandil lilin bercabang dari logam—yang digunakan saat makan-makan dan berdoa, Cawan Eliyahu buat memulai Sabat, Kipah—kopiah khas orang Yahudi—dan beberapa ornamen lain rapi dipajang pada rak tersebut.

Sabat adalah hari tanpa bekerja dan bebas dari aktivitas, yang dimulai dari Jumat menjelang matahari terbenam hingga Sabtu menjelang malam.

Sejumlah kitab Torah juga tampak tersusun rapi di rak-rak yang menempel di dinding. Begitu pula kain putih dan kain hitam yang terdapat bordir tulisan berbahasa Ibrani.

Basecamp Yahudi Ortodoks di Jakarta. [Suara.com/Erick Tanjung]
Basecamp Yahudi Ortodoks di Jakarta. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sedangkan di atas meja ruang utama, tergeletak sejumlah roti, keju, coklat dan makanan kosher. Eli menjamu Erick untuk makan roti dibalut keju kosher atau makanan halal versi penganut Yudaisme.

Sebelum makan, Eli mencuci tangan di wastafel menggunakan cawan dari logam. Bagi seorang Yahudi Ortodoks, mencuci tangan sebagai simbol penyucian memunyai aturan khusus.

Tidak boleh dua telapak tangan bersentuhan, sehingga Eli membasuh telapak tangannya satu per satu secara bergantian memakai air dari cawan.

Saat mencuci tangan ia melafalkan doa. Kemudian sebelum makan roti, ia juga mengucapkan doa dalam bahasa Ibrani.

“Baruch atah Adonai, Eloheinu melech ha-olam, hamotzi lechem min ha-aretz (Kami memuji Engkau, Allah yang Kekal, yang berdaulat atas alam semesta, yang menghasilkan roti dari bumi),” rapal Eli.

Nada Lafalan doanya terdengar seperti doa-doa berbahasa Arabik.

Sinagog Tersembunyi

Eli menuturkan, satu unit pada apartemen itu sudah bisa disebut sinagog, karena juga digunakan untuk berkumpul dan beribadah.

Unit apartemen ini sangat privat, tapi terbuka bagi penganut Yudaisme yang sedang berada di Jakarta kalau ingin makan dan bersembahyang.

Tempat makan sangat penting bagi Yahudi ortodoks. Sebab, cukup sulit bagi mereka untuk mencari makanan kosher bila sedang berada di Jakarta. 

“Kami bikin basecamp ini supaya nanti kalau ada Yahudi traveler datang ke Jakarta, dia kan susah mencari makanan kosher. Nah kami terbuka untuk mereka makan di sini,” kata Eli.

Namun, beberapa tahun ke belakang, kaum Yahudi ortodoks sudah jarang beribadah di sinagog itu. Sebab utamanya adalah, jumlah mereka yang sedikit.

Untuk bersembahyang seperti pada hari Sabat, syarat minimal yang harus dipenuhi adalah jumlah jemaah 10 orang laki-laki.

Kaum Yahudi yang beragama Yudaisme di Indonesia tengah menjalani ibadah. [Hadassah Indonesia]
Kaum Yahudi yang beragama Yudaisme di Indonesia tengah menjalani ibadah. [Hadassah Indonesia]

Selain jumlah yang tak cukup untuk bersembahyang, sinagog itu jarang digunakan karena sentimen anti-Yahudi yang semakin kuat di masyarakat.

Eli menceritakan, aksi penolakan paling diingat adalah yang dilakukan oleh kelompok intoleran saat komunitas Yahudi merayakan Pesach di Hotel Pullman Jakarta, April 2016.

Ketika itu, perayaan Pesach tak hanya dihadiri orang-orang Yahudi di Indonesia, tapi juga Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dan beberapa ulama Muslim.

“Padahal waktu itu acaranya hanya makan malam, tidak ada doa atau ibadah. Sejak itu, kami sudah jarang melakukan perayaan Pesach atau hari raya lain di Jakarta,” ujarnya.

Kini, untuk merayakan hari keagamaan Yudaisme, kaum Yahudi ortodoks melakukannya di luar Jakarta, terkadang di Bali, Singapura, Bangkok, Hongkong atau di Amerika Serikat.

Mayoritas kaum Yahudi ortodoks berlatar belakang kelas menengah atas, sehingga untuk bepergian ke luar negeri terbilang mudah.

Sementara di Indonesia, salah satu sinagog yang diakui untuk beribadah Yahudi ortodoks ada di Bali, namun tempatnya rahasia dan tertutup. 

Tumbuh dari Keluarga Muslim

Elisheva terlahir dari ayah beragama Islam dan ibunya berkeyakinan Kristen. Namun orang tuanya membebaskan ia dan sang adik untuk memilih agama yang dianut saat dewasa.

Sebelum menganut Yudaisme, Eli kecil mengikuti ibunya menganut Kristen. Sedangkan adiknya lebih dekat ke ayah yang beragama Islam.

Ketika dewasa, Eli melacak jejak nenek moyangnya hingga melakukan tes DNA. Ia mengakui, nenek moyangnya dari pihak ayah adalah perempuan keturunan Yahudi dari Eropa Timur, persisnya Polandia.

Sesampainya di Indonesia, nenek moyangnya dari pihak ayah ada yang menikah dengan salah satu kiai Cirebon.

Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja. [Suara.com/Erick Tanjung]
Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja. [Suara.com/Erick Tanjung]

Ibunda Eli juga memunyai darah Yahudi beragama Kristen dari keturunan Yaman. Mayoritas keluarga besarnya tak mempersoalkan Eli yang kini menganut Yudaisme. 

Keputusan Eli untuk kembali memeluk agama nenek moyangnya, berawal dari perjalanan spiritual sejak 2007.

Selang tiga tahun, pada 2010, ia semakin serius mendalami ajaran Yudaisme dan pada 2014 mantab menjadi Yahudi ortodoks.

“Setelah saya riset lebih dalam, nenek buyut dari ayah dan saya lahir pada tanggal sama. Saya pikir kayak closing the circle. Jadi saya merasa harus kembali, untuk menutup lingkaran itu. Lalu saya dan adik saya convert (berpindah ke Yudaisme),” ungkapnya.

Banyak Artis Indonesia Yahudi

Pendiri Yayasan Eits Chaim Indonesia (YECI) ini menuturkan, keturunan Yahudi di Indonesia yang terdata ada sekitar 2.000-an orang. Mereka menganut agama yang berbeda-beda, ada yang Islam, Kristen dan lainnya.

Sedangkan keturunan Yahudi di Indonesia yang menganut Yudaisme tercatat hanya sekitar 200 orang. Mayoritas Yahudi di Indonesia adalah keturunan dari negara-negara Islam, seperti dari Iraq, Afganistan  dan Yaman.

Mereka berasal dari beragam profesi dan latar belakang. Bahkan, tak sedikit artis dan sosok populer yang berdarah Yahudi.

Salah satunya adalah musikus yang kekinian banting setir menjadi politikus sekaligus caleg partai besar.

Meski berdarah Yahudi, musikus cum politikus yang tengah terbelit masalah hukum itu beragama Islam.

Selain itu, ada pula pengusaha jam mewah yang kekinian menjadi suami dari artis penyanyi beken Indonesia.

Salah seorang sumber Suara.com dari komunitas Yahudi menyebut, pengusaha jam mewah itu kerap hadir dalam setiap perayaan hari raya Yahudi seperti Pesach di Sinagog Singapura.

Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, tengah membaca Torah, kitab suci umat Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]
Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, tengah membaca Torah, kitab suci umat Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]

Karenanya, pernikahan pengusaha itu dengan penyanyi beken sempat membuat heboh komunitas Yahudi di Singapura.

Sebab, seorang Yahudi penganut Yudaisme ortodoks tidak boleh menikah di luar komunitas mereka.

“Artis-artis Indonesia yang keturunan Yahudi di Indonesia sebenarnya banyak, tapi memang mereka bukan penganut Yudaisme,” tuturnya.

“Meski begitu, banyak dari mereka yang 100 persen Yahudi, karena keturunan Ibu. Ada teman saya yang artis, dia keturunan Yahudi dari Iraq.”

Tak Benar Ada Syiar Yudaisme

Elisheva menerangkan, dalam ajaran Yudaisme, semua manusia pada akhirnya akan masuk surga. Tanpa menganut Judaisme pun, semua manusia bakal masuk surga.

Sama seperti agama tradisi Abrahamik yang lebih muda—Kristen dan Islam—Yudaisme meyakini Tuhan maha esa. Tuhan tidak melihat apa agamanya, namun hati dan akhlaknya.

Karenanya, kata Eli, dalam Yudaisme tak ada syiar atau misi untuk mengajak pemeluk kepercayaan lain berpindah keyakinan.

Bahkan, rabi atau pemuka agama mereka, melarang orang yang bukan keturunan Yahudi untuk berpindah agama menganut Yudaisme.

Jadi, terus Eli, keliru bila masyarakat mengkhawatirkan ajaran Yudaisme bakal berkembang di Indonesia. Sebab, Yudaisme adalah agama eksklusif bagi keturunan Yahudi.

Penganut Yudaisme memercayai Tuhan maha adil bagi semua umat manusia. Itu sebabnya rabi mereka kerap menolak orang yang bukan keturunan Yahudi untuk memeluk Yudaisme.

“Tapi ada orang yang ngotot sekali untuk memeluk agama Yahudi. Dulu pernah ada orang China di Singapura ingin convert. Tapi butuh waktu 10 tahun untuk meyakinkan rabi-nya agar dia bisa ikut agama Yahudi,” kata dia.

Bagi orang Yahudi sendiri, terdapat budaya malu atas “ke-Yahudi-annya” kalau sikap mereka bertentangan dengan 10 perintah Tuhan.

“Misalnya, bagi kami sendiri, buat apa menjadi Yahudi dan menganut Yudaisme kalau hatinya busuk, mencuri uang rakyat,” tuturnya.

Eli lantas menjelaskan, ada dua jenis Yahudi, yakni ortodoks dan reformis alias liberal. Kaum Yahudi ortodoks menjalani keimanan dan peribadatan secara ketat. Sebaliknya, Yahudi liberal lebih santai dan bebas dalam ibadah.

Misalnya, Yahudi ortodoks tidak bisa menikah dengan orang di luar komunitas mereka, sedangkan Yahudi liberal lebih bebas, bisa menikah dengan orang dari agama apa saja.

“Nah, anehnya di Indonesia, banyak orang yang mengaku-ngaku keturunan Yahudi. Kaum ortodoks sangat ketat, kami memunyai data base terpusat. Jadi, jika ada yang mengaku Yahudi, mudah dicek,” tuturnya.

Begitu juga untuk menjadi rabi atau pemimpin agama Yudaisme, tak mudah. Untuk menjadi rabi, ada sekolah formal yang harus diikuti sejak usia kanak-kanak, 6 tahun.

Sekolah untuk menjadi seorang rabi hanya ada di Amerika Serikat dan Israel. Sedangkan di Indonesia belum ada orang yang sekolah rabi sejak kecil.

Selain itu, untuk memeluk agama Yudaisme juga tak gampang, baik bagi keturunan Yahudi apalagi yang sama sekali tak memunyai silsilah darah.

“Orang yang dianggap 100 persen Yahudi itu kalau dia punya darah dari ibu. Sedangkan keturunan dari ayah, dianggap sudah terputus,” jelasnya.

Nah, bagi keturunan Yahudi yang terputus tersebut, kalau ingin kembali memeluk Yudaisme, harus mengajukan permohonan ke pengadilan agama mereka.

“Pengadilan agama Yudaisme yang terdekat ada di Sidney Australia atau AS,” ungkapnya.

Meski terbilang ketat, ada pula orang-orang yang bukan keturunan Yahudi maupun keturunan dari pihak ayah (terputus) tapi tetap melakukan tata cara agama Yudaisme.

“Orang-orang yang begitu disebut Bnei Noah. Dia mengikuti tata cara doa, hukum-hukum Yahudi. Di Jakarta, banyak orang Bnei Noah,” jelasnya.

Bnei Noah atau bahasa Indonesianya adalah Bani Nuh, yakni orang-orang yang mengakui dan menjalankan 7 perintah Tuhan kepada Nabi Nuh. Karenanya, mereka juga mengakui dan mau menjalankan 10 perintah Tuhan yang menjadi dasar Yudaisme.

***

Bagi Elisheva, menjadi kelompok mikro minoritas di republik ini tidak mudah. Menurutnya, untuk menjadi seorang Yahudi ortodoks yang taat di Indonesia hampir tidak bisa. Sebab, di negara ini sulit untuk mendapatkan makanan kosher alias halal.

Untuk mendapatkan makanan kosher, orang-orang Yahudi Indonesia harus membeli ke Singapura atau Bangkok Thailand. Meski ada beberapa makanan kosher di negara ini, tapi masih sangat terbatas. 

Kemudian untuk pendidikan agama, tidak ada sekolah yang mengajarkan agama Yudaisme. Karenanya, anak-anak orang Yahudi tidak bisa mengakses pendidikan agama. Tak heran, orang Yahudi Indonesia banyak berpindah ke luar negeri.

Untuk menikah pun susah. Setiap Yahudi ortodoks harus menikah di sinagog. Karenanya, mereka harus menikah di luar negeri.

Sementara tak semua Yahudi ortodoks di Jakarta atau daerah lain Indonesia yang memunyai uang cukup untuk menikah di luar negeri.

“Jadi minoritas di sini susah, karena di-kotak-kotak-kan. Ada departemen khusus di Kementerian Agama untuk agama tertentu, nah untuk Yahudi departemennya mana, enggak tahu,” keluhnya.

Banyak Hoaks soal Yahudi

Eli mengakui, kesulitan hidup sebagai Yahudi dan beragama Yudaisme di Indonesia juga disebabkan stigmatisasi.

Anggapan Yahudi adalah buruk, tumbuh subur lantaran maraknya hoaks atau informasi mengenai mereka.

Ia tak menyalahkan publik. Sebab, Eli meyakini, sikap anti-Yahudi di Indonesia dikarenakan tak mengenal dan tak pernah berhubungan dengan orang Yahudi secara langsung.

Padahal, banyak orang Indonesia yang bertemu, bergaul, bahkan menjalin kerja sama dengan orang Yahudi, tanpa mereka ketahui.

Makanya Eli berani terbuka mengenai identitasnya sebagai keturunan Yahudi dan penganut Yudaisme di Indonesia.

Melalui Yayasan Eits Chaim Indonesia (YECI), ia melakukan edukasi kepada masyarakat untuk memberi pemahaman yang lebih baik dan benar mengenai literatur, bahasa, aliran kepercayaan dan budaya Ibrani.

“Jadi kenapa saya mau begitu terbuka, di Facebook saya sengaja tulis i'm jewish. Karena saya tahu, di Indonesia itu, tak kenal maka tak sayang. Karena enggak tahu bahwa orang Yahudi seramah itu,” ucap dia.

Dia menambahkan, di Jakarta maupun daerah lain Indonesia memunyai budaya terbuka dan mau menerima segala perbedaan. Masalah mereka memiliki sentimen anti-Yahudi, lantaran minimnya informasi yang baik dan benar.

“Sebenarnya orang Indonesia itu orang baik hati. Kalau sudah mengenal dekat, mereka baik, itu aslinya orang Indonesia. Tak picik atau apa. Sebenarnya kalau dibuka kesempatan untuk orang lain bicara, dia terima,” kata dia.

***

Hal yang sama dirasakan oleh Monique Riejkers, perempuan yang juga keturunan Yahudi dan tinggal di Jakarta.

Monique menuturkan, baru mengetahui dirinya memiliki darah keturunan Yahudi dari neneknya, pada 7 tahun silam. Berawal dari kunjungannya berziarah ke Gereja Makam Kudus di Yerusalem, tahun 2012. 

Perempuan keturunan Belanda ini mengakui, selama ini neneknya sengaja menutup informasi soal jati diri garis keturunannya.

Logo Hadassah Indonesia [Suara.com/dok]
Logo Hadassah Indonesia [Suara.com/dok]

Sebab, sejak dahulu, Yahudi dibenci dan distigmatisasi oleh masyarakat. Tapi pada suatu waktu, sang nenek akhirnya mau membongkar silsilah keluarganya. Kakek buyutnya dari pihak bapak, adalah seorang Yahudi keturunan Belanda. 

“Kakek buyut saya dulu seorang apoteker, orang Belanda keturunan Yahudi. Oma saya merahasiakan identitas keturunan Yahudinya karena dilarang bapaknya untuk membuka,” kata Monique saat ditemui di sebuah resto Plaza Sarinah, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Kisah keluarganya itu, kemudian mendorong dia untuk mendalami agama dan budaya bangsa Yahudi.

Kemudian pada 2013, Monique membuat liputan khusus tentang komunitas Yahudi di Indonesia dengan judul, Berdarah Yahudi Bernafas Indonesia.

Ketika itu ia bekerja sebagai produser untuk salah satu stasiun televisi swasta nasional khusus berita. Tayangan itu mendapatkan respons dan apresiasi yang cukup banyak dari penonton. 

Belakangan, tayangan itu memicu protes sekelompok mahasiswa Islam puritan dengan dilaporkannya ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), meski akhirnya dinyatakan tak melanggar etik serta peraturan.

Kemudian pada 2015, Monique kembali mendapat undangan untuk berkunjung ke Israel. Setelah melihat langsung situasi dan kondisi di sana, ia merasakan ada kejanggalan.

Segala yang disaksikan Monique di Israel, berbeda jauh dengan penggambaran yang beredar di media-media Indonesia.

Monique Rijkers di Israel. [Hadassah Indonesia]
Monique Rijkers di Israel. [Hadassah Indonesia]

“Justru setelah di sana, saya melihat berbeda dengan apa yang diberitakan dan beredar di media sosial. Di sana sangat demokratis. Warga Israel tidak hanya Yahudi, tetapi Islam dan Kristen juga bebas. Bahkan ada sekitar 1,8 juta jiwa orang Arab muslim jadi warga negara Israel. Mereka mendapatkan hak yang sama dengan warga lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan gratis,” ujar dia.

Pada 2016, mantan jurnalis ini membuat lembaga bernama Hadassah of Indonesia. Lembaga ini nirlaba yang bergerak untuk menyebar edukasi tentang Israel, budaya dan bangsa Yahudi.

Lewat Hadassah of Indonesia, Monique membongkar stigma dan hoaks tentang Yahudi lewat pemutaran film dan diskusi.

Ia meyayangkan masih maraknya sentimen anti-Yahudi di masyarakat. Hal itu menurutnya harus dilawan dengan informasi-informasi yang benar.

Namun, dalam aksinya memberikan edukasi tentang Yahudi dan Israel, Monique mengakui mendapat banyak kendala dan tantangan.

Suatu ketika pernah terjadi, ketika Monique menggelar acara menonton bareng film tentang komunitas Yahudi.

“Saat menonton dan tahu film itu soal Yahudi, ada pengunjung yang keluar. Mereka rata-rata pelajar SMA. Saya bingung, lho, ini kan temanya tentang toleransi, tapi mereka tetap tak mau.”

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS