Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Tak Ada Hujan Emas di Kabul atau Jakarta Bagi Pencari Suaka yang Terdampar

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Tak Ada Hujan Emas di Kabul atau Jakarta Bagi Pencari Suaka yang Terdampar
[Suara.com/Ema Rohimah]

Awalnya saya bersama keluarga, saat terjadi perang situasi panik dan kami terpisah. Aku sendirian di Indonesia, kenang Ali.

Suara.com - Petitih 'hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri' tak berlaku bagi imigran pencari suaka yang terdampar di Indonesia. Tak ada 'hujan emas' baik di Afganistan maupun Indonesia. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan untuk tetap hidup.

LELAKI BERMATA COKELAT itu tetap berdiri tegak, meski bertumpu pada dua tongkat di pelataran gedung bekas markas Kodim TNI AD Kalideres, Jakarta Barat.

Panas matahari sedang terik-teriknya, sehingga muka lelaki bertongkat itu memerah, Jumat (12/7/2019). Dia tak sendirian, tapi datang bersama istri dan anak-anaknya.

Lelaki bernama Asraf itu adalah imigran asal Afganistan. Ia dan keluarganya bagian dari seribuan pencari suaka, karena konflik bersenjata di negaranya tak kunjung padam.

Asraf mengaku sudah satu tahun enam bulan berada di Indonesia. Selama ini, dia dan keluarga tinggal di rumah kontrakan daerah Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Dia tidak betah kalau tinggal di Jakarta karena panas. Ia justru merasa cocok di daerah Puncak Bogor yang adem, sebab di negaranya cuaca dingin.

Lelaki 44 tahun ini datang ke tempat penampungan bersama keluarganya berharap dapat kepastian mengenai kepindahan mereka ke sejumlah negara tujuan pencarian suaka: Australia, Newzeland, Kanada, atau Amerika Serikat.

Pada akhir 2017, Asraf bersama keluarganya datang ke Indonesia dari Afganistan naik pesawat. Tujuannya ke Indonesia untuk meminta perlindungan ke UNHCR, lembaga PBB yang menangani pengungsi.

Setibanya di Indonesia, Asraf diarahkan untuk sementara tinggal di Cisarua, Bogor.  Di sana ia menyewa rumah kontrakan Rp1,5 juta per bulan.

Dalam rumah itu, keluarga Asraf hidup bersama satu keluarga lain, sama-sama pengungsi Afganistan.

Setiap bulan, ia merogoh kocek Rp 750 ribu dan rekannya menambah Rp 750 ribu untuk membayar kontrakan.

Asraf, pengungsi Afghanistan. [Suara.com/Erick Tanjung]
Asraf, pengungsi Afghanistan. [Suara.com/Erick Tanjung]

 “Kami nyaman tinggal di Cisarua, di sana dingin sama seperti di Afganistan. Di Jakarta panas, kalau di sini badan terasa lelah,” kata Asraf kepada Suara.com.

Selain itu, ia merasa aman dan nyaman tinggal di Cisarua karena tetangganya ramah-ramah. Bahkan, ia juga sering dibantu dan diberi makanan oleh warga setempat.

Asraf mengakui sering ke masjid di lingkungan rumah untuk salat berjemaah lima waktu, sehingga dekat dengan penduduk asal.

“Di Cisarua warganya baik-baik, kami sering dibantu. Saya juga sering berkumpul dan berbincang dengan tetangga, khususnya saat salat Jumat di massjid,” ujar dia.

Asraf mengaku belum mendapat bantuan untuk tempat tinggal dan makan dari UNHCR. Jadi, selama ini, biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan sewa rumah berasal dari kiriman mertuanya di Afganistan.

Setiap 3 bulan sekali, mertuanya mengirim uang yang kalau ditukar ke Rupiah seharga Rp 9 juta sampai Rp 10 juta.

Uang kiriman mertua Asraf itu terbilang pas-pasan. Karenanya, ia harus irit dengan mengurangi lauk pauk sehari-hari. Bahkan untuk anak-anaknya, Asraf membeli susu kiloan.

Tenda pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]
Tenda pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]

“Enaknya beli beras di Indonesia murah, satu kilogram cuma Rp 8 ribu. Sehari-hari kami makan pakai kentang, sayur-sayuran. Sesekali beli telur ayam, daging ayam, tapi daging ayam kan mahal, jadi kami irit,” ungkapnya.

Asraf tak bekerja. Sehari-hari, ia hanya di rumah, bermain bersama keluarganya. Sedangkan anak-anaknya ikut sekolah informal, belajar bahasa Inggris.

Setiap bulan, ia membayar biaya sekolah Rp 10 ribu per anak. Asraf memiliki 5 anak, dan anak sulungnya sudah berusia 14 tahun. Bila dirinya atau anak-anaknya sakit, mereka berobat di Puskesmas.

“Kalau anak-anak sakit berobat di Puskesmas, kalau di Rumah Sakit mahal,” kata dia.

Kena Bom Hingga Kehilangan Dua Kaki

Asraf berjalan memakai tongkat. Kedua kakinya beralas sepatu, tapi di dalamnya adalah kaki palsu. Kedua kakinya dari tumit ke bawah buntung kena bom di negaranya, 20 tahun silam.

Ketika itu,ia sedang di ladang, tiba-tiba bom rudal meluncur ke arah Asraf dan meledak di kedua kakinya. Beruntung ia selamat, namun kedua kakinya yang koyak terpaksa diamputasi.

“Kaki saya terkena bom roket teroris Taliban. Ketikat itu saya saat menanam apel di ladang dekat rumah,” katanya mengenang.

Suasana penampungan untuk imigran pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Suasana penampungan untuk imigran pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Ia mengaku masih sadarkan diri saat kakinya terkena bom roket oleh kelompok Taliban. Dirinya harus menjalani operasi sampai tiga kali, karena perdarahan.

Terakhir, kakinya terpaksa diamputasi. Hampir setiap hari ada warga yang tewas kena tembak atau kena bom di negaranya.

“Saat kena bom itu rasanya sangat sakit, saya sampai dioperasi tiga kali,” tutur dia. 

Asraf menuturkan, di negaranya ia berprofesi sebagai petani buah-buahan. Ia memiliki ladang pertanian buah sendiri di belakang rumahnya.

Namun, tempatnya tinggal di Afganistan dikuasai oleh kelompok pemberontak Taliban, sehingga ia dan keluarganya harus minggat ke luar negeri.

“Di Afganistan saya bertani buah buahan, ada apel, tomat dan lainnya,” kata dia.

***

Khunsum juga imigran pencari suaka yang datang ke penampungan untuk mencari perlindungan. Ia dan suaminya sudah 4 tahun berada di Indonesia untuk mencari suaka.

Sebelum ke penampungan, perempuan asal Afganistan itu tinggal menyewa rumah di Cisarua bersama suami dan anak-anaknya, selama setahun. Sebelum di Cisarua ia bersama keluarganya tinggal di Ciawi, Bogor selama 3 tahun.

Khunsum memiliki tiga anak. Si sulung berusia 5 tahun, anak kedua berusia 3 tahun dan anak bungsunya masih bayi umur 8 bulan. Dia mengaku dua anaknya lahir di Bogor dengan bantuan bidan Puskesmas.

 “Kalau anak sakit berobatnya ke Puskesmas, kalau di rumah sakit bayarnya mahal,” kata dia.

Selama di Indonesia, ia dan suaminya tidak bekerja, sehari-hari hanya di rumah. Sedangkan biaya sewa rumah dan makan sehari-hari, mereka mendapat kiriman dari keluarga di Afganistan.

Para pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]
Para pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]

Dia tidak tahu sampai kapan berada di Indonesia sebagai negara transit. Ia berharap segera mendapat suaka dari negara maju.

“Kami tidak tahu sampai kapan begini,” ujarnya.   

Hal yang sama juga diutarakan imigran asal Afganistan lainnya, Mohammad Ali. Dia sudah 6 tahun berada di Indonesia untuk mencari perlindungan.

Ia kabur dari negaranya yang tengah dilanda perang saudara sejak berusia 18 tahun. Ali kini sebatang kara dan terpisah dari keluarganya saat perang pecah di Kota Kabul.

“Awalnya saya bersama keluarga, saat terjadi perang situasi panik dan kami terpisah,” kenangnya.

Sebelum tiba di Indonesia, ia melarikan diri ke Pakistan terlebih dahulu melalui jalur darat dari Afganistan. Tak lama di Pakistan, ia lalu terbang ke Indonesia melalui jalur resmi.

“Dari Pakistan saya ke Indonesia untuk mencari perlindungan, katanya di sini ada kantor perwakilan PBB (UNHCR),” ucapnya.

Tenda pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]
Tenda pengungsi asal Afghanistan di Kalideres. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sedangkan orang tua dan saudaranya yang lain masih ada di Afganistan. Ia juga masih sering berkomunikasi dengan keluarganya melalui telpon.

Dia mengakui belum ada rencana untuk kembali ke negaranya, sebab kondisinya masih perang.

“Bagaimana mau balik, di sana kondisinya masih perang,” ujarnya.

Ali mengatakan, sampai sekarang belum ada kepastian dari UNHCR, mengenai kapan mereka mendapat suaka untuk tinggal di negara pemberi suaka.

Bahkan, lembaga PBB mengurus pengungsi itu tidak melarang kalau ada di antara mereka yang ingin kembali ke negara asal.

“UNHCR mengatakan negara ketiga (pemberi suaka) belum mau menerima, kalau mau balik lagi silakan. Tetapi tidak ada yang mau balik, karena di sana masih perang,” tambahnya.

Selama 6 tahun belakangan, Ali menempati indekos di daerah Depok. Ia tidak bekerja. Sehari-hari dirinya menghabiskan waktu untuk belajar bahasa Inggris melalui aplikasi ponsel.

Dia mengaku betah tinggal di Indonesia, karena orangnya ramah-ramah dan suka menolong.

“Saya suka di sini, orangnya baik-baik,” terangnya.

Melihat kondisi mereka yang terlantar, Pemerintah DKI Jakarta memberikan bantuan berupa tempat tinggal di gedung bekas kantor Kodim Kalideres dan 7 tenda besar untuk bersama. Pemda DKI juga melengkapi sarana prasarana berupa tempat MCK atau kamar mandi dan toilet dan tempat salat. Air mandi dan mencuci juga sudah dicukupi dan sudah tidak kekurangan lagi.

Pemda memberikan bantuan makan dan minum untuk pengungsi sebanyak 1.100 kotak. Dan terbuka bagi masyarakat yang ingin membantu mengirim makanan atau minuman secara lansung ke lokasi.

“Kami berharap kalau ada masyarakat yang ingin membantu mengirim makanan kirimlah makanan yang siap saji, jangan kasih beras,” kata Kepala Dinas Sosial DKI Irmansyah.

Selain makanan dan minuman, yang dibutuhkan pengungsi adalah kebutuhan bayi seperti makanan bayi, susu, pempers.

Sebab, Dinsos DKI tidak menyiapkan sepenuhnya kebutuhan pengungsi, khususnya kebutuhan bayi dan anak-anak.

“Kami tidak menyiapkan sepenuhnya, karena dalam perencanaan di Dinas Sosial pun tidak merencanakan,” tambahnya.

Semua bantuan logistik akan didistribusikan secara merata kepada para pengungsi oleh petugas di lapangan, sehingga tidak ada pengungsi yang tidak kebagian.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS