Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Ingin Peluk Jakarta, Eko si Pengojek Online Bertangan Satu

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Ingin Peluk Jakarta, Eko si Pengojek Online Bertangan Satu
[Suara.com/Ema Rohimah]

Kan masih ada tangan kiri, saya masih bisa bekerja, masih bisa bawa motor, ucapnya.

Suara.com - Jakarta tak menjanjikan apa pun, kecuali pintu kementakan untuk merengkuh keuntungan. Orang-orang harus sekuat tenaga membukanya. Tak sedikit yang patah asa. Tapi tidak untuk Eko, walaupun dia hanya memunyai satu tangan.

SEORANG PEMUDA berjaket hijau tiba di Jalan Tanah 80, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, dengan mengendarai sepeda motor matik ketika hari belum begitu panas, Selasa (16/7) pekan lalu.

Dia dan rekan sekerjanya sesama pengemudi ojek online biasa menyebut tempat itu sebagai basecamp. Tempat mereka rehat, makan, merokok, sembari menunggu orderan.

Eko Saiful Nur Amin sebenarnya baru menempuh jarak 10 kilometer dari rumahnya di Bekasi.

Namun, ia hanya sejenak melepas lelah di basecamp, dan segera mengaktifkan aplikasi Go-Jek untuk mencari pelanggan.

Dia langsung mendapatkan empat orderan mengantarkan paket barang. Selama menjadi pengojek daring, ia lebih banyak melayani jasa kurir.

Biasanya ia berusaha sesegera mungkin menyelesaikan order, supaya tidak kehabisan waktu dan bisa mendapat order ke-2 di hari yang sama.
Biasanya ia berusaha sesegera mungkin menyelesaikan order, supaya tidak kehabisan waktu dan bisa mendapat order ke-2 di hari yang sama.

Satu dari empat orderan itu adalah pengantaran barang dari Klender, Jakarta Timur ke Cilengsi, Kabupaten Bogor.

Anak sulung dari dua bersaudara ini terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan bapaknya buruh bangunan. Sebelum menjadi pengojek, Eko pernah menjadi buruh pabrik dan penjaga toko.

Ia beralih profesi sejak satu setengah tahun silam, ketika satu tangannya putus lantaran terlibat kecelakaan. Kekinian, Eko hanya mengandalkan lengan kirinya.

Sepeda motor matik yang ditunggangi lelaki 25 tahun itu sehari-hari untuk bekerja pun sudah dimodifikasi, pedal gas dipindah ke setang kiri.

Ziarah ke Makam Sendiri

Peristiwa nahas itu terjadi pada September 2017. Setelah menghadiri undangan anak pamannya yang menikah di Kebumen, Jawa Tengah, Eko pulang ke Bekasi dengan mengendarai motor matik.

Dalam perjalanan, ia mendapat kabar ada beberapa rekannya sesama komunitas sepeda motor sedang berkonvoi beberapa kilometer di depannya.   

Nalurinya sebagai pecinta touring muncul. Eko berupaya mengejar mereka agar dapat berkendara beriringan. Kondisi jalanan yang sepi membawanya tancap gas.

Selang beberapa saat, usahanya membuahkan hasil. Dia berhasil menyusul satu sepeda motor yang ditumpangi dua orang kawannya.

Seringkali Eko menggunakan kepala atau mulutnya untuk membantu untuk menahan atau menyangga sesuatu.
Seringkali Eko menggunakan kepala atau mulutnya untuk membantu untuk menahan atau menyangga sesuatu.

Namun celaka, ketika memasuki wilayah Kebumen, tepatnya daerah Gembong, terjadi hal yang tidak pernah ia bayangkan. Sesuatu yang mengubah hidupnya.

Saat hendak menyalip mobil di depannya, dari arah berlawanan muncul truk tronton mengangkut beton bantalan kereta api bermuatan 10 ton.

Saat ia kembali ke jalur di kiri, semuanya terlambat. Tangan kanan Eko tersambar truk tersebut. Nyawanya selamat, namun tangan kanan putus di tempat.

“Saat tangan saya putus, saya masih sadar dan menunggu pertolongan dari teman-teman. Waktu itu saya dibawa ke rumah sakit pakai motor bonceng tiga dengan teman, karena waktu menyetop mobil tidak ada yang mau mengantarkan,” kata Eko kepada Suara.com.

Tangan kanannya yang putus diletakkan di depan bagian bawah dekat kaki dengan berkendara motor ke rumah sakit.

Warga sekitar yang ramai berkumpul hanya bisa menonton, tanpa berusaha memberikan pertolongan.

Eko Saiful Nur Amin menunggu order Go-Send Same Day di tempat tinggalnya di kawasan Pekayon, Bekasi, Jawa Barat.
Eko Saiful Nur Amin menunggu order Go-Send Same Day di tempat tinggalnya di kawasan Pekayon, Bekasi, Jawa Barat.

Setibanya di ruang UGD RSUD Kebumen, penanganan pertama yang dilakukan oleh perawat adalah membasuh luka tangan kanan yang putus. Sontak Eko berteriak kesakitan.

“Saat dibasuh alkohol itu sakitnya luar biasa, mungkin disangka perawat, saya sudah tak sadar. Setelah itu baru saya dibius dan menjadi setengah sadar,” ujar dia.

Ia dirawat di RSUD Kebumen selama sepekan. Setelah itu dibawa pindah ke rumah sakit di Bekasi.

Eko bahkan harus menjalani operasi sebanyak 5 kali, karena pangkal tangannya yang terputus itu mengalami infeksi.

Sedangkan potongan tangan kanannya yang putus itu dibawa oleh keluarga ke kampung halaman di Karang Anyar, Jawa Tengah untuk dikuburkan.

Setelah pulih, ia pulang kampung untuk ziarah ke makamnya sendiri. Tempat sebagian anggota tubuhnya dikuburkan.

Eko Saiful Nur Amin. [Suara.com/Erick Tanjung]
Eko Saiful Nur Amin. [Suara.com/Erick Tanjung]

“Akhirnya setelah beberapa bulan penyembuhan, sekitar November 2017 saya pulang ke Jawa untuk melihat makam, karena tangan saya dikubur di sana,” tutur dia.

Pada makam itu, Ekotidak lantas meratapi sebagaian jasadnya yang telah dikubur lebih dulu. Ia tegar dan tetap bersemangat untuk melanjutkan hidupnya meski bertangan satu.

Yang paling sedih dengan kondisinya yang cacat permanen itu justru keluarga, terutama Ibunya.

Sang ibu khawatir terhadap masa depan anaknya, bagaimana buah hati akan menjalani kehidupan tanpa satu tangan.

Tapi kekhawatiran ibunya salah. Eko tidak larut dalam kesedihan. Ia tetap ingin melanjutkan hidup seperti orang pada umumnya.

“Kan masih ada tangan kiri, saya masih bisa bekerja, masih bisa bawa motor,” ucapnya.

Menjadi penyandang disabilitas bukan penghalang bagi Eko untuk bekerja. Ia tidak mau berdiam diri di rumah, apalagi meminta-minta. Ditambah orang tuanya seorang buruh masih harus membiayai sekolah Afif, adik Eko yang masih duduk di bangku SMA.

Eko yang sebelumnya bekerja sebagai pengojek daring khusus pengantar penumpang, memutuskan untuk melamar pada jasa pengiriman barang berbasis aplikasi daring. Katanya, supaya ia tetap bisa menyalurkan hobi berkendara roda dua.

Ketika order masuk, Eko segera bergegas untuk melakukan pick up barang.
Ketika order masuk, Eko segera bergegas untuk melakukan pick up barang.

Sekilas terdengar aneh, seseorang tanpa tangan kanan ingin tetap berkendara sepeda motor. Tapi Eko membuktikan bahwa itu bukan hal mustahil.

Terinspirasi dari seorang teman sesama pegiat klub motor, Eko memodifikasi sepeda motor miliknya sedemikian rupa.

Tuas gas dipindah ke kiri dan komstir ia perkencang demi kestabilan kendali saat motornya harus melewati jalan berlubang, dan jadilah ia pengendara sepeda motor dengan satu tangan.

Meski sempat ditolak beberapa perusahaan aplikasi karena kondisinya, akhirnya Eko diterima bekerja di Go-Jek yang melayani jasa kurir Go-Send Same Day Delivery.

***

Setiap hari, Eko keluar dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB dan pulang magrib atau malam. Sebagai pengojek Go-Send, sehari ia dapat penghasilan kisaran Rp 100 ribu – Rp 150 ribu.

Menurutnya, untuk satu order yang masuk melalui aplikasi, biasanya berisi hingga 5 barang. Itu artinya dalam satu pengerjaan order, Eko harus menjemput barang dari 5 titik pengirim dan mengantarkannya ke 5 titik penerima, mencakup wilayah Jabodetabek.

Barang yang diantar juga bervariasi, mulai dari makanan, pakaian dan barang lainnya yang ukurannya berbeda-beda.

Eko mengakui, total perjalanan yang ia tempuh untuk satu kali orderan masuk hingga selesai seluruh pengantaran rata-rata 50 Km.

Eko berkendara dua kali lebih banyak kalau sehari ia menyelesaikan dua order, ditambah perjalanan pulang dari titik pengiriman terakhir menuju tempat tinggalnya. Dan sekali lagi, dengan satu tangan.

Ia juga masih sanggup dan mampu untuk berkendara memboncengi penumpang. Cuma kendalanya, penumpang terkadang khawatir dibonceng dirinya yang berkendara dengan satu tangan.

“Kendalanya ya terkadang penumpang khawatir dengan saya yang berkendara cuma satu tangan,” tutur dia.

Eko mengungkapkan, ia sudah biasa berkendara jarak jauh dengan memboncengi orang lain.

Saat lebaran lalu, ia mudik ke Karang Anyar, Jawa Tengah dari Bekasi yang menempuh jarak sepanjang 500 Km lebih dengan berkendara roda dua. Ia juga berkendara sendiri ke kampung halamannya dengan kondisi satu tangan.

“Waktu lebaran dari Karang Anyar, saya jalan-jalan ke Jogja naik motor dengan memboncengi adik saya pulang-pergi. Saya sudah biasa memboncengkan orang walau hanya satu tangan,” ungkapnya.

Bantu Ojol Tuna Rungu

Eko mengatakan, selain di Klender, ia juga biasa mangkal di basecamp ojol Kalibata. Di sana, para pengojek adalah penyandang disabilitas tunarungu.

Eko dan rekan-rekannya yang lain sering membantu para driver ojol tunarungu dalam berkomunikasi dengan penumpang. Misalnya untuk menelpon penumpang guna menanyakan titik lokasi dan sebagainya.

“Kalau teman-teman driver tunarungu mau menghubungi penumpangnya, nanti dia ngomong di group WA. Selanjutnya, kami yang menelepon dan bicara dengan penumpangnya,” terang dia.

Eko Saiful Nur Amin. [Suara.com/Erick Tanjung]
Eko Saiful Nur Amin. [Suara.com/Erick Tanjung]

Dia mengungkapkan, rekan-rekannya driver ojol tunarungu di basecamp Kalibata jumlahnya ada puluhan orang.

“Sahabat-sahabat saya yang tunarungu di sana ada sekitar 50 orang,” katanya.

Sebagai sesama pengojek online, Pepen (33) mengakui Eko adalah sosok pemuda yang gigih dan pantang menyerah. Menurutnya Eko teman yang baik dan suka membantu teman.

“Dia orangnya senang terus. Apalagi kalau ada acara-acara pergi touring, dia paling hobi. Kalau bawa motor lebih kencang dia dibanding kami orang berkendara dua tangan. Kami saja yang berkendara dengan dua tangan takut kencang, dia malahan biasa saja.”

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS