Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Santri Atas Angin dan Alkitab Hijau: Kalam Ilahi Melawan Kerusakan Alam

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Santri Atas Angin dan Alkitab Hijau: Kalam Ilahi Melawan Kerusakan Alam
Ilustrasi [Suara.com/Ema Rohimah]

Dia mengkritik ajaran-ajaran agama yang ditafsirkan secara antroposentris.

Suara.com - Orang-orang saleh seringkali dinilai hanya mau berurusan dengan hal yang ilahiah. Belakangan, ada pula yang sibuk berpolitik dengan balutan agama. Tapi santri Atas Angin dan Romo Andang, menggunakan kalam-kalam profan untuk melawan kerusakan lingkungan.

FATHAN ARIO NALDO duduk berteduh di bawah satu pohon rindang di lereng Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat, agar terhindar  dari panas matahari yang sedang terik-teriknya.

Rimba di lereng gunung itu memang dipenuhi pepohonan rimbun. Ario tak sendirian. Kelima rekannya, yakni Jauhari, Mansyur, Kholiq, Furqon, dan Habib Mustofa juga melepas penat di bawah pohon rindang. Mereka rehat setelah mencangkul tanah untuk menanam pohon kapulaga.

Keenam lelaki itu adalah santri Pondok Pesantren Atas Angin, yang diasuh Kiai Haji Irfa’i Nahrowi An Naqsyabandi, yang terletak di Desa Darmacaang, Cikoneng, Ciamis.

Pondok Pesantren Atas Angin merupakan madrasah beraliran tarekat Naqsabandiyah. Lebih 10 ribu jemaah mereka yang berasal dari berbagai latar profesi.

Pesantren Atas Angin juga memunyai lahan perkebunan sendiri, yang ditanami beragam bibit pohon: kapulaga, akasia, pala, maupun kopi.

Semua berawal pada tahun 2001, pesantren itu memunyai  1 hektare lahan kebun. Kekinian, lahan mereka sudah bertambah luas menjadi 15 Ha di kawasan Gunung Sawal.

Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah sedang menggarap ladang kebun sebagai perintah ajaran mereka. Melestarikan alam adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada Allah. [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah sedang menggarap ladang kebun sebagai perintah ajaran mereka. Melestarikan alam adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada Allah. [Suara.com/Erick Tanjung]

Semua lahan dikerjakan oleh jemaah Naqsyabandiyah, tak mengupah buruh tani. Mereka meyakini, menjaga kelestarian alam terutama hutan-hutan di sekitar pesantren dari eksplotasi pasar adalah tugas suci.

Teologi Naqsyabandiyah yang merupakan tarekat sufistik terbilang unik, karena memunyai dalil-dalil tentang ekologi atau ilmu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi alam sekitarnya.

Menjaga dan melestarikan alam dan seisinya merupakan kewajiban yang harus dilakoni jemaah Naqsyabandiyah.

Mursid atau guru tarekat mereka, Kiai Haji Irfa’i Nahrowi An Naqsyabandi, mengajarkan pentingnya mengelola dan memanfaatkan alam yang lebih ramah lingkungan sesuai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

“Bercocok tanam di lahan-lahan yang masih kosong adalah bagian dari pengamalan kami sebagai jemaah tarekat,” kata Fathan kepada saya, Selasa (6/8/2019).

Saya penasaran, apakah benar pengalaman itu sesuai dengan Alquran sebagai rujukan nomor satu umat Islam—termasuk jemaah tarekat Naqsyabandiyah.

“Ada,” kata Fathan, “Terkandung dalam ayat-ayat surah Al Faqih.”

Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah sedang menggarap ladang kebun sebagai perintah ajaran mereka. Melestarikan alam adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada Allah. [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah sedang menggarap ladang kebun sebagai perintah ajaran mereka. Melestarikan alam adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada Allah. [Suara.com/Erick Tanjung]

“Kami diajarkan oleh guru untuk bercocok tanam. Ini amalan ayat-ayat Al Faqih, ayat-ayat alam, seperti pepatah suku Minang Kabau, alam terkembang jadi guru,” sambung Fathan.

Nabi Muhammad SAW pun begitu kata Fathan. Ia mengisahkan, Rasulullah pernah memberikan sepetak lahan tanah kepada sahabatnya—budak yang dimerdekakan—Bilal bin Rabbah di dekat lembah, kota Mekkah.

Lalu, lahan itu dipagar oleh Bilal. Kemudian, setelah Rasulullah wafat, Khalifah Umar bin Khatab mengatakan kepada Bilal, lahan itu jangan hanya dipagari, tetapi sebaiknya ditanami tumbuh-tumbuhan yang berguna.

“Secara fiqih, bercocok tanam merupakan konsep Ihyaul Mawat, menghidupkan lahan yang mati,” ujar Fathan.

Jalan ke arah kesempurnaan batin bagi jemaah Naqsyabandiyah adalah berupa pengabdian. Manusia merupakan abdi yang bertanggung jawab kepada Tuhan sekaligus khalifah atau wakil Ilahi yang mengelola dan menjaga bumi.

Ketika manusia melihat kondisi lingkungan seperti lahan yang kosong atau tandus, perlu ditanami agar lestari. Kemudian tanaman yang kering juga wajib untuk disirami agar tumbuh subur. Dengan begitu, batin mereka bisa mendekati kesempurnaan.

Tanaman di kebun garapan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah. [Suara.com/Erick Tanjung]
Tanaman di kebun garapan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah. [Suara.com/Erick Tanjung]

“Apa yang ada dalam alam ini adalah manifestasi diri manusia. Kalau tanaman kering, begitu juga jiwa manusianya. Begitulah konsep ekologi sufistik kami,” kata sarjana Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Dalam tarekat Naqsyabandiyah ada kegiatan Suluk, dilakukan rutin tiap bulan Muharam dan Rajab. Suluk adalah acara spiritual yang dikenal dengan perjalanan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam melakoni Suluk, jemaah ditemani sang mursid selama 10 hari.

Suluk ini juga sangat dekat dengan nuansa melestarikan lingkungan. Selama Suluk, siang hari, jemaah berkhidmat kepada sang guru untuk menjaga alam.

Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah dalam prosesi khataman Suluk. Dalam acara Suluk, mereka juga diperintahkan menjaga alam. [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah dalam prosesi khataman Suluk. Dalam acara Suluk, mereka juga diperintahkan menjaga alam. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sesuai perintah gurunya, mereka ada yang ke kebun bercocok tanam dan mencangkul lahan. Sedangkan bagi jemaah Ibu-ibu, memasak di dapur umum.

Malam harinya, jemaah bersuhbah atau mengaji dengan guru. Mereka menyampaikan ihwal yang dilakukan pada siang hari kepada sang guru. Misalnya, tanamannya kering dan sebagainya.

Dari aduan murid, sang guru memberikan pencerahan tentang kehidupan. Pada malam harinya juga mereka berzikir dan bersyalawat.

“Alam dan segala isinya adalah medium kita mendekatkan diri kepada Allah, termasuk menjaga lingkungan, menjaga dan melestarikan hutan. Jadi alam dan seisi bumi ini adalah amanah, titipan Allah yang harus dijaga,” kata Fathan.

***

BAGI JEMAATNYA, lelaki murah senyum itu disapa sebagai romo karena menjadi pastor dari tarekat Yesuit. Tapi di kalangan pegiat pelestarian alam, dia meminta cukup dipanggil Andang, lengkapnya Andang Listya Binawan.

“Kerusakan alam di Indonesia semakin parah. Maka, agamawan harus menafsirkan dalil-dalil Ilahiah lebih luas lagi,” kata Andang kepada saya.

”Seperti apa meluaskan tafsir itu?” kata saya, penasaran.

“Di kalangan kami, sedang digencarkan kampanye menjaga alam dengan perspektif Green Bible, atau Alkitab Hijau,” jawab Romo Andang.

“Alkitab Hijau?” cecar saya, semakin penasaran.

”Iya, ajaran-ajaran agama, khususnya dalam Alkitab, harus ditafsirkan lebih luas, jangan antroposentris atau berpusat pada manusia saja,” kata dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara ini.

Dia mengkritik ajaran-ajaran agama yang ditafsirkan secara antroposentris. Sebab, tafsiran seperti itu hanya berpusat pada manusia, dan hanya untuk keuntungan manusia.

Ilustrasi kebakaran hutan. (Antara)
Ilustrasi kebakaran hutan. (Antara)

Alam merupakan bagian penting dari kehidupan manusia kata Romo Andang. Contohnya, ada dua ayat dalam Alkitab yang tampak berbeda tapi sebenarnya sejajar, yakni Injil Matius 28:19-20 dan Injil Markus 16:15.

Injil Matius 28:19-20 disabdakan, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Perintah yang mirip bisa ditemukan dalam Injil Markus 16:15, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

“Kalau perspektif kedua ayat itu diperluas, segala makhluk dan alam di dunia ini bagian dari ciptaan Tuhan,” kata Romo Andang.

“Kedua,” kata dia, “Yang dimaksud Injil itu bukan semata kata-kata atau huruf, tapi sebagai cinta kasih.”

Dalam Injil Matius, ada perintah menyebar cinta kasih kepada segala bangsa. Itu dilanjutkan dengan perintah Injil Markus, yakni sebarlah cinta kasih kepada semua makhluk.

“Kan berbeda. Tafsirnya, kita harus melihat bahwa seluruh ciptaan Tuhan di atas bumi ini dari kacamata iman adalah saudara, itu spiritnya.”

Manusia pada dasarnya bersifat homo economicus, artinya manusia bagian dari seluruh isi bumi yang saling terkait. Manusia hidup di atas bumi yang sama dengan makhluk lainnya, maka tidak bisa menafikkan keberadaan yang lain.

Dalam sejarahnya, manusia berada pada dua kutub, yang pertama dulu manusia sadar bahwa dirinya adalah bagian dari seluruh bumi ini.

Tetapi, ketika manusia mengembangkan akal budinya, sehingga muncul teknologi, manusia yang dulu bersahabat dengan alam, lama-lama kemudian bermusuhan.

Apalagi ditambah dengan keserakahan manusia yang muncul dalam wujud homo economicus atau manusia ekonomis yang sangat egosentris, yakni mementingkan dirinya sendiri.

Kualitas Udara Jakarta. (Antara)
Kualitas Udara Jakarta. (Antara)

Maka, alam bukan lagi sahabat, tetapi sekadar menjadi alat dan dieksploitasi, sehingga dalam titik tertentu, manusia merasa bisa mengambil jarak, bahkan memisahkan diri dari alam.

Setelah apa yang terjadi dari kerusakan dan kehancuran lingkungan, manusia baru sadar lagi bahwa kita ini adalah makhluk dan nonmakhluk yang sebenarnya saling terkait dan bahkan saling tergantung.

“Manusia harus mulai sungguh-sungguh menyadari lagi bahwa dirinya adalah sebagai bagian dari seluruh alam,” tambahnya.

Itu penting, tegas Andang, karena faktor utama kerusakan alam di Indonesia adalah keserakahan manusia.

Manusia yang mengeksploitasi sumber daya alam, hanya untuk menumpuk keuntungan sebanyak-banyaknya. Itu pun digunakan untuk diri sendiri, tanpa peduli kepada orang lain dan generasi mendatang. Begitu pula dengan makhluk lain, hanya dimanfaatkan sebagai sarana.

“Termasuk Jakarta, yang tidak peduli, banyak sekali. Contohnya mengapa masalah sampah di Jakarta ini begitu luar biasa, kadang memang masyarakatnya tidak peduli, apalagi juga pemerintahnya tidak peduli atau kurang peduli, jadilah ketidakpeduliaan itu berlipat-lipat,” keluhnya.

Tumpukan sampah menumpuk di pinggir laut kawasan Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Senin (29/7).  [Suara.com/Oke Atmaja]
Tumpukan sampah menumpuk di pinggir laut kawasan Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Senin (29/7). [Suara.com/Oke Atmaja]

Selain itu, prinsip ekologi yang diterapkan pemerintah saat ini jauh dari prinsip pelestarian dan ramah lingkungan. Konsep pembangunan yang berkelanjutan pemerintah hanya slogan, minim aplikasi.

“Apalagi paradigmanya saja masih minim, maka masih jauh dari apa yang saya harapkan sebagai pegiat lingkungan hidup dimana kita harus sungguh menghormati lingkungan hidup apa adanya. Kita masih jauh, baik paradigmanya maupun aplikasinya, karena lebih menguntungkan jangka pendek,” kata dia.

Kritik, bagi Romo Andang, bukan sekadar cuap-cuap. Dirinya juga bergerak ke ranah praktik melalui komunitas pelestarian lingkungan.

Dalam  lingkungan gereja, Romo Andang aktif di Gropes atau Gerakan Orang Muda Peduli Sampah dan Pemulih alias Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup.

Romo Andang juga aktif di Siaga Bumi, komunitas antarumat agama peduli lingkungan hidup. Dia juga tergabung dalam The Climate Reality Project, koalisi peduli perubahan iklim dan pemanasan global.

“Kami membuat diskusi, aksi kampanye, dan juga pembinaan warga. Terutama pembinaan kaum milenial, supaya tak hanya peduli terhadap diri sendiri, tetapi juga menjadi aktivis yang bisa mempromosikan nilai-nilai peduli lingkungan kepada orang lain,” kata dia.

Dia juga punya relasi komunitas yang membuat kebun darling di Pamulang, Tangerang. Pada kebun itu, warga belajar menanam, mengolah sampah dan kegiatan peduli lingkungan.

Selain itu, ia juga mendampingi kebun Bumi Kauhuripan di Binong, Tangerang. Kebun ini dibuat oleh kelompok warga sebagai kebun edukasi bagi warga.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS