Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Persahabatan Galuh dan Gap, 'Asal Ko Tahu Trada HAM di Papua'

Reza Gunadha | Aditya Prasanda
Persahabatan Galuh dan Gap, 'Asal Ko Tahu Trada HAM di Papua'
[Suara.com/Iqbal Asaputro]

''Jangankan bicara soal HAM, sa ini hobi berburu, masuk hutan, kitong digeledah tentara,'' lanjut Albertus.

Suara.com - Rasisme sengaja ditebar elite busuk untuk menutup gerbang toleransi, selalu begitu. Sebab, tasamuh adalah pintu masuk untuk menjumpai penderitaan orang lain, termasuk bangsa Papua. Persahabatan Galuh dan Gap bisa jadi buktinya.

SENDU BERGELAYUT, air mata Walterus Gap tak lagi bisa terbendung saat berpamitan dengan Heri Waluya dan Tri Lestari sekeluarga.

“Terima kasih bapak… terima kasih,” kata Gap tersedu sedan.

“Iya, Gap, semoga kamu berguna di sana. Selamat jalan,” balas Heri.

Gap memeluk erat Heri, induk semang selama dirinya merantau di Yogyakarta. Gap sudah menganggap Heri sebagai bapaknya sendiri.

Heri berusaha menenangkan diri. Bukan kali ini dia menghadapi momen semacam itu, tapi tetap pikirannya membuncah. Sekali lagi, dia hari melepas ‘anak’nya pergi.

Gap melepas Heri dari pelukannya. Ia berpamitan kepada satu per satu anggota keluarga Heri, termasuk Galuh Abrianto, sahabat karib yang sudah dianggapnya saudara sedarah.

“Selamat jalan, Gap. Semoga ko berguna di sana,” Galuh menenangkan Gap yang kelu.

Keduanya tak banyak berkata-kata. Gap lantas menyodorkan jari telunjuknya kepada Galuh, yang langsung mengapitnya memakai telunjuk dan jari tengah.

Setelahnya, gantian Galuh menyodorkan telunjuknya yang setengah tertekuk dan disambut jepitan telunjuk serta jari tengah Gap.

Benbai, jabat tangan khas Papua, salam persahabatan tatkala bertemu maupun berpisah dengan orang terdekat itu terasa begitu emosional bagi Galuh.

Benbai akan selalu membawa ingatan Galuh pada masa-masa dia dan teman-temannya dari Papua makan bersama dalam satu piring, bergurau, belajar dan tumbuh beriringan.

Tradisi ini pula yang menandakan babak baru persahabatannya dengan Gap. Ia mengiringi sang sahabat melanjutkan hidup kembali di Papua.

Si kecil Gendhis, anak semata wayang Galuh bersama istrinya, Tiwie Napitupulu, juga tampak bersedih saat Gap berpamitan, Selasa 18 Juli 2017.

Gap sengaja menunda kepulangannya selama dua hari agar lebih dulu bisa merayakan ulang tahun yang kedua Gendhis.

Empat tahun enam bulan Gap tualang di Yogyakarta menjadi mahasiswa. Itu bukan waktu yang sebentar, sehingga sulit bagi Gap beranjak dari rumah Heri tempatnya indekos. Sebab dia tahu, belum tentu bakal kembali.

Namun, Gap harus pulang ke Merauke, Papua, tanah kelahirannya yang terus menyimpan bara konflik dalam sekam. Hati Gap ingin berada di sana, bersama berjuang, sehidup semati dengan bangsanya.

***

DI SEBUAH GANG, pada salah satu ruas jalan Kampung Bausasran, Yogyakarta, rumah kecil dan sederet  pintu kontrakan milik keluarga Heri Waluya dan Tri Lestari berdiri.

Hanya berbatas dinding, saling berdempet dengan kediaman mereka, Walterus Gap bersama mahasiswa Papua lain pernah menetap di indekos Heri.

Sebelum zaman reformasi digaungkan, Heri dan istrinya sudah silih berganti menerima mahasiswa perantauan dari berbagai daerah, tak terkecuali Papua.

Dari kiri ke kanan, Galuh Abrianto dan putrinya Gendhis bersama  kedua orang tuanya, Heri Waluya dan Tri Lestari. [Suara.com Adit]
Dari kiri ke kanan, Galuh Abrianto dan putrinya Gendhis bersama kedua orang tuanya, Heri Waluya dan Tri Lestari. [Suara.com Adit]

Tahun 1996, sejumlah mahasiswa asal Papua mulai masuk ke indekos Heri. Uniknya, dari semua mahasiswa daerah perantauan, anak-anak Papua yang terus beregenerasi menempati kos sederhana di Bausasran itu.

''Istilah Jawa-nya, getok tular, dari mulut ke mulut, mas. Mungkin dia punya teman, terus dirasa seperti keluarga sendiri, lalu betah dan dilanjutkan temannya yang lain,'' kata Lestari kepada saya.

Saya datang ke rumah itu, Kamis 22 Agustus 2019. Pekan setelah perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI dipenuhi huru-hara di banyak daerah Tanah Papua.

Ribuan warga Papua turun ke jalan memprotes perlakuan rasialis terhadap anak-anak mereka yang menjadi mahasiswa di sejumlah daerah Indonesia. Mereka marah, karena orang Papua dicaci sebagai monyet.

Caci maki merendahkan martabat mahasiswa Papua itu dilakukan oleh aparat dan ormas yang mengepung asrama mereka di Jalan Kalasan Nomor 10 Surabaya, Jawa Timur, Jumat 16 Agustus, sehari jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Tapi, perlakuan rasialis terhadap mahasiswa Papua bukan kali itu terjadi. Dari tahun ke tahun, tindakan rasialis itu terus tumbuh di Indonesia, seiring gencarnya kampanye agar bangsa Papua mendapat hak menentukan nasib sendiri (self-determination right).

“Sejak penghujung tahun 90-an, mahasiswa Papua di Jogja sering kesulitan mencari kos,” kata Heri Waluya.

“Masak? Kenapa bisa begitu pak?” tanya saya.

“Ya banyak yang enggak mau menerima gara-gara omongan buruk soal orang Papua. Padahal kenyataannya enggak sama sekali. Mereka itu baik-baik,” kenang Heri.

Stigma yang terus dilanggengkan dalam banyak benak warga Indonesia selalu berkutat pada seputar orang-orang Papua dianggap kurang beradab, 'terbelakang', suka bikin onar, dan pemabuk.

Persoalannya begitu kompleks. Ada ketidakadilan di Tanah Papua. Sumber daya alam mereka terus  dikeruk. Untuk itu, beragam proyek infrastruktur dibangun. Sementara warga Papua terintimidasi.

Tapi semua itu kerap tak muncul di pemberitaan-pemberitaan media massa Indonesia, sehingga stigma seperti terhadap bangsa Papua seperti itu terlepas dari akar masalahnya.

Begitu juga Heri Waluya dan Tri Lestari, saat kali pertama menerima mahasiswa Papua menjadi anak indekos, mereka tak tahu menahu persoalan akut yang terjadi di bumi Papua.

Tapi kesadaran rasa toleransi, membuat keduanya tak menolak mahasiswa-mahasiswa Papua yang kesulitan mencari kontrakan.

Gang sempit di muka rumah dan indekos Heri Waluya di Kampung Bausasran [Suara.com Adit]
Gang sempit di muka rumah dan indekos Heri Waluya di Kampung Bausasran [Suara.com Adit]

''Mereka kan juga sama-sama manusia toh, mas. Cuma beda warna kulit, beda rambut, untuk apa dibeda-bedakan? Toh, mereka juga butuh tempat tinggal, berhak merasa aman, seperti kita di sini,'' kata Tri.

Ketika pintu-pintu indekos Heri terbuka untuk mahasiswa Papua, sang induk semang menjadi tahu persoalan yang terjadi di kepulauan itu.

Mahasiswa Papua yang indekos juga dianggap seperti anak sendiri oleh Heri maupun Tri Lestari. Tak heran, Walterus Gap begitu sulit meninggalkan keluarga keduanya di Bausasran.

Selain Walterus Gap, ada Pace Gandhi, Freddy Hosio, Albertus (Betut), Paul Kakurung, hingga Marianus—yang baru saja menyelesaikan studi dan kembali ke Papua tahun 2018—pernah merasakan erat persaudaraan di indekos tersebut.

Asal Ko Tahu...

NYARIS SETIAP PAGI sebelum berangkat kerja menuju salah satu toko bangunan di Jalan Magelang, Tri Lestari menyempatkan diri menyiapkan sarapan. Makanan itu bukan hanya untuk anak dan suaminya, tapi juga anak-anak indekos.

Setelah membuat sarapan, barulah Lestari berangkat. Biasanya dia pergi dari rumah sebelum pukul 09.00 WIB, bersamaan dengan mahasiswa-mahasiswa asal Papua yang indekos di tempatnya hendak pergi ke kampus.

''Selamat pagi, ibu,'' anak-anak Papua selalu ramah menyapanya.

''Selamat pagi, ayo sarapan dulu,'' Lestari tersenyum.

''Pace Betut sudah bangun? Ayo kuliah,'' Lestari dari luar memanggil Albertus yang masih dalam kamar.

''Sudah bangun, ibu,'' Albertus bersemangat.

Pagi hari, di kediaman keluarga Heri Waluya dan Tri Lestari, anak-anak indekos asal Papua dan daerah lainnya sarapan bersama.

Terkadang mereka menyantap mi instan dalam porsi besar, atau masakan apa pun yang sempat diolah Lestari pada pagi hari.

Teras nongkrong di depan kediaman keluarga Heri Waluya dan Tri Lestari (Suara.com Adit)
Teras nongkrong di depan kediaman keluarga Heri Waluya dan Tri Lestari (Suara.com Adit)

Saat itu tahun 2008, Galuh Abrianto putra Heri dan Lestari masih duduk di bangku kuliah. Dia juga ikut sarapan bersama anak-anak indekos.

Galuh kerap menghabiskan waktu pagi hari dengan bercengkrama bersama  teman-teman Papua. Rutinitas yang sama ia lakukan bersama teman-teman Papua lain, yang silih berganti menempati indekos di kediaman orang tuanya.

''He, pace, kitong putar kopi kah?'' kata Albertus menawarkan Galuh.

Albertus, akrab disapa Betut. Pria asli Boven Digoel ini besar di kawasan pemekeran Kabupaten Merauke.

Di kawasan pemekeran, Albertus bertemu banyak transmigran Jawa. Sedikit banyak Albertus memahami kebudayaan Jawa.

Bahkan Albertus fasih berbahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa yang lazim digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Setiap duduk di muka teras, Albertus dan Galuh akan bercerita banyak hal.

Dari Albertus pula, kesadaran politik Galuh tumbuh saat mendengar apa yang sesungguhnya terjadi di Papua.

Butuh waktu tiga bulan untuk Albertus merasa akrab dan mau berterus terang kepada Galuh soal persoalan pelik di Papua.

Beragam masalah bersumber pada pengerukan sumber daya alam dan konflik agraria yang menurut Albertus membuat hak asasi manusia tak pernah ada di tanah Papua.

''Asal ko tahu, tra pernah ada HAM itu di Papua,'' kata Albertus, serius.

Interogasi, pukulan dan berbagai tindak penganiayaan dari militer merupakan makanan sehari-hari yang dialami Albertus dan keluarganya.

“Oya?” kata Galuh, tak kalah seriusnya.

''Jangankan bicara soal HAM, sa ini hobi berburu, masuk hutan, kitong digeledah tentara,'' lanjut Albertus.

Berburu bagi Albertus dan sebagian besar masyarakat Papua merupakan kebudayaan turun-temurun. Sejak kecil, Albertus dan teman-teman sebayanya dilepas orang tua untuk mandiri berburu babi di hutan.

Saat jumlah populasi babi membengkak, binatang itu menjelma hama di area perkebunan warga. Perburuan babi jadi solusi sekaligus tradisi masyarakat Papua.

Namun nahas, untuk berburu babi di tanah sendiri, Albertus dan keluarganya harus digeledah tentara serupa pencuri.

Selain represi aparat, trauma Albertus pada orang Indonesia juga muncul karena sentimen rasis dari kaum transmigran di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai balasan, Albertus kecil dilarang orang tuanya bermain dengan anak sebayanya dari kalangan transmigran.

Kompleksitas permasalahan inilah yang kerap menghantui anak-anak Papua hingga dewasa. Seperti Albertus dan mahasiswa Papua lainnya, mereka cenderung mudah curiga, tidak percaya diri dan sulit beradaptasi dengan selain kalangannya.

Diskriminasi yang dirasakan sejak mereka kecil-kecil, menjelma beban trauma dan harus dipikul bertahun-tahun sesudahnya.

Pengepungan Itu...

RABU 13 JULI 2016, asrama mahasiswa Papua Kamasan I, Yogyakarta, dikepung massa sejumlah organisasi massa.

Beberapa hari setelah pengepungan, Galuh Abrianto bersama beberapa mahasiswa Papua yang indekos di rumahnya mengirimkan makanan ke asrama secara sembunyi-sembunyi.

Di depan asrama yang berdiri sejak tahun 1968 tersebut, ratusan personel gabungan dari Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dan Brigade Mobil polisi berjaga sejak pagi.

Kamis dan Jumat 14-15 Juli 2016, suasana sekitar asrama masih mencekam. Polisi bersenjata tetap siaga, lengkap dengan mobil meriam air.

Kehadiran polisi dalam jumlah besar turut menimbulkan keresahan dalam benak masyarakat sekitar.

Sebab, mahasiswa Papua dalam asrama maupun yang datang berkunjung ke sana, tidak pernah bermasalah dengan warga.

Penjagaan ketat dari polisi, membuat pasokan makanan untuk penghuni asrama dari PMI Yogyakarta, aktivis prodemokrasi, serta warga sekitar sempat tersendat.

Selama beberapa hari pula penghuni asrama yang bertempat di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta harus menahan haus dan lapar.

Dalam pengepungan dan kericuhan tersebut, tercatat beberapa mahasiswa Papua dianiaya dan sepeda motor mereka disita tanpa alasan jelas.

Jangan ditanya lagi lontaran kata makian bernada rasialis yang dilemparkan massa pengepung kepada mereka.

Pengepungan diduga terkait pertemuan tingkat tinggi anggota Melanesian Spearhead Group (MSG) dengan Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Honiara, Kepulauan Solomon.

Saat terjadi pengepungan Asrama Papua Kamasan I, Heri Waluya tengah terbaring di rumah sakit setempat.

Di rumah sakit, Tri Lestari menemani Heri. Secara bergantian, Galuh juga ikut menjaga Heri. Pun Walterus Gap—mahasiswa Papua yang indekos di rumah  mereka—turut berjaga di rumah sakit.

Kegelisahan menyelimuti Galuh. Sebab, dia tak kuasa kalau harus meninggalkan sang ayah atau membiarkan ibunya sendirian berjaga di RS.

Tapi di lain sisi, kondisi teman-temannya penghuni Asrama Papua Kamasan I yang kesulitan makan dan minum selama berhari-hari, juga membuat pikirannya terbagi.

Kedekatan Galuh dengan banyak anak-anak Papua penghuni indekos di kediamannya, membuat ia mengenal banyak teman Papua lain, termasuk para penghuni Asrama Kamasan I.

Berawal dari obrolan dan tongkrongan, Galuh dan teman-teman Papua yang saling berjejaring menjelma saudara.

Tak jarang, para penghuni Asrama Papua Kamasan I menyambangi kediaman Galuh di Bausasran. Mereka bahkan begitu dekat dengan Heri Waluya dan Tri Lestari.

Walterus Gap. (Arsip Pribadi MoanSnake28)
Walterus Gap. (Arsip Pribadi MoanSnake28)

Kesulitan yang dialami penghuni asrama jelas kegusaran bagi Galuh. Ia harus bertindak, membantu mengirimkan makanan teruntuk teman-temannya.

Sementara Galuh mendistribusikan makanan untuk penghuni Asrama Papua Kamasan I, Walterus Gap bersedia turut menjaga Heri Waluya bersama Tri Lestari di RS.

Pada suatu malam, bahkan Gap meminta Tri Lestari pulang ke rumah dan beristirahat. Ia bersedia menjaga Heri seorang diri hingga pagi.

''Sudah, ibu pulang saja ke rumah. Biar saya yang jaga bapak di sini,'' pinta Gap kepada Lestari.

Solidaritas

BERSAMA GALUH, Walterus Gap kerap berkeliling dari satu acara solidaritas ke acara solidaritas lainnya di Yogyakarta.

Ada begitu banyak acara solidaritas untuk mendukung berbagai isu sosial dan konflik agraria di kota ini.

Dan di antara acara-acara tersebut, Galuh membuka lapak sablon bersama teman-temannya di komunitas seni jalanan.

Gap kerap membantu Galuh mencetak sablonan. Sedikit banyak, ia jadi mengerti pola-pola kerja kreatif baru, yang belum pernah ia temukan di Papua.

Sebab di tanah kelahirannya, jangankan berkolektif membuat karya seni, berkumpul dan berdiskusi saja bisa diciduk dan dipukul aparat.

Karya Galuh Abrianto dibantu mahasiswa Papua saat percantik Kampung Bausasran (Arsip Pribadi Moansnake 28)
Karya Galuh Abrianto dibantu mahasiswa Papua saat percantik Kampung Bausasran (Arsip Pribadi Moansnake 28)

Melalui Gap pula, Galuh mengetahui betapa krisisnya kondisi kebebasan berekspresi di Papua.

''Di sana itu, ketahuan ngumpul sedikit langsung dipukul tentara. Mereka itu langsung main pukul,'' Galuh berusaha menirukan pengakuan Gap kala itu.

Galuh begitu beruntung, melalui Gap dan penghuni indekosnya, ia bisa berjejaring luas dengan teman-teman Papua lainnya.

Sebaliknya, Gap dan teman-teman Papua yang kerap mengikuti aktivitas berkesenian Galuh juga mengenal beberapa seniman street art dan kolektif seni di Yogyakarta.

Galuh Abrianto bersama teman-teman Papua menata Kampung Bausasran dalam Art as Therapy, Maret 2014. [Arsip Pribadi MoanSnake28]
Galuh Abrianto bersama teman-teman Papua menata Kampung Bausasran dalam Art as Therapy, Maret 2014. [Arsip Pribadi MoanSnake28]

Di lain waktu, Gap bersama Paul Kakurung, Marianus dan teman-teman Papua penghuni indekos, bahkan tak berkeberatan membantu tetangga membetulkan atap rumah yang bocor.

Bahkan, mereka juga seringkali bergotong-royong bersama warga melakukan penghijauan dan mempercantik kampung Bausasran.

Kekinian, Galuh mengakui kesulitan menghubungi Gap maupun anak-anak mantan indekosnya yang sudah pulang ke Papua.

"Biasanya, semisal hari ini saya menelepon Gap atau yang lain, tak langsung terjawab. Bisa saja baru ada telepon balasan sepekan setelahnya. Di sana susah sinyal," kata Galuh.

Ketika kasus pengepungan asrama mahasiswa Papua kembali menyeruak, Galuh mengakui kembali teringat masa-masa dulu ketika masih bersama Gap dan lainnya.

"Warga Papua turun ke jalan setelah ada pengepungan di Surabaya itu wajar. Bukan hanya amarah, tapi itu perjuangan untuk membela hak hidup mereka sebagai manusia merdeka."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS