Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Yang Tersisa dari Jakarta, Akhir Proyek Ibu Kota Negara Post Kolonial

Reza Gunadha | Muhammad Yasir
Yang Tersisa dari Jakarta, Akhir Proyek Ibu Kota Negara Post Kolonial
[Suara.com/Ema Rohimah]

"Bagi gue, pindah ibu kota itu nalar yang putus, nalar yang mati. Enggak ada satu pun yang bisa dinalar alasan pemindahan ibu kota, kata JJ Rizal.

Suara.com - Memindahkan ibu kota negara tak semudah pindah rumah. Rencana itu sendiri mendapat reaksi beragam dari publik. Ada yang setuju dan tidak. Di lain sisi, ada pula yang menilainya semata-mata bermuatan politis.

SABTU MASIH PAGI, sekitar pukul 07.45 WIB, ketika saya tiba di rumah besar berkonsep arsitektur khas Betawi.

Rumah di bilangan Jalan Taufiqurrahman No 3, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat itu didominasi material kayu dan batu bata.

Sejumlah pohon memenuhi pekarangan rumah tersebut. Bagi saya, halaman yang rimbun itu lebih mirip sebagai hutan kota di tengah-tengah pemukiman warga.

Seorang lelaki sibuk menyirami ‘hutan kota’ miliknya. Beberapa kali saya mengucapkan salam, namun sepertinya pria tersebut terlalu khusyuk, hingga baru mendengar setelah saya tiga kali mengucapkan salam.

“Permisi… permisi… permisi…” ucap saya.

Lelaki itu hanya melihat, memperhatikan saya.

Penasaran, saya langsung bilang, “Saya Yasir dari Suara.com.”

 “Oh iya, iya,” jawabnya.

Buset! Setelah menjawab, dia lantas kembali melanjutkan keasyikannya, menyirami tanaman.

Tak lama, seorang  perempuan menghampiri saya yang berdiri di depan pagar rumah. Dia lantas membukakan pintu gerbang dan mempersilakan saya masuk.

Sementara pria itu masih sibuk menyirami tanaman.

Kirain enggak jadi,” kata pria tersebut.

Celetukannya bukan tanpa alasan. Malam sebelumnya, kami membuat janji bertemu pukul 07.00 WIB, sementara saya baru tiba sekitar pukul 07.45 WIB.

“Jadi dong bung,” ucap saya, tersenyum malu karena telat datang.

Akhirnya lelaki itu menyudahi menyiram tanaman, pergi ke beranda, dan meminta saya menunggu di ruang taman. Ruangan itu nyaman, dilengkapi meja serta kursi berbahan kayu.

Lelaki itu sendiri masuk ke dalam rumah. Perempuan yang membukakan gerbang tadi kembali datang. Kali ini membawakan air minum untuk saya.

Air mineral dan teh tubruk dibawakan dalam teko kaleng khas zaman dulu, lengkap dengan cangkir yang juga terbuat dari kaleng.

“Silakan ini diminum,” kata perempuan itu.

Tak lama, lelaki yang hendak saya temui keluar dari dalam. Dia tampak baru saja selesai mandi. Si empu rumah santai, mengenakan kaus bergambar band rok legendaris asal Inggris Led Zeppelin.

Kami duduk saling berhadapan di sebuah kursi dan meja berbahan kayu. Percakapan antara kami dimulai, bukan menyoal musik, tapi sejarah Jakarta sebagai ibu kota negara.

Lelaki itu adalah JJ Rizal: sejarawan, penulis, sekaligus pendiri kantor penerbitan Komunitas Bambu.

Apa pentingnya Jakarta?

“BUNG, BAGAIMANA sih sejarahnya hingga akhirnya Jakarta dipilih sebagai ibu kota?” tanya saya.

“Perjalanan Jakarta akhirnya dipilih jadi ibu kota itu panjang,” jawabnya.

JJ Rizal bercerita, sejak awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945, dibentuk panitia agung pemilihan ibu kota. Panitia itu diketahui langsung oleh Soekarno.

Panitia itu menggodok usulan sejumlah kota calon ibu kota republik: Bandung, Malang, Surabaya, dan Jakarta.

Anggota kepanitiaan itu berdebat sengit. Sebab, semua kota yang diusulkan sebagai ibu kota RI adalah peninggalan kolonial.

Bandung, Malang, Surabaya, dan Jakarta dinilai bertolak belakang dengan ide negara Indonesia yang baru merdeka dan bernapas Nasionalistik.

“Mucullah ide misalnya Temanggung dan Magelang, tempat yang baru dan belum terbangun jadi kota,” kata dia.

Tapi, dalam perjalanannya, panitia agung itu mentok, tak bisa mengusulkan daerah baru menjadi ibu kota. Akhirnya, Jakarta tetap menjadi pusat pemerintahan atau bisa disebut sebagai ibu kota, meski belum resmi.

Tahun 1946, ibu kota akhirnya dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta untuk sementara, akibat diduduki tentara Belanda.

Dua tahun kemudian, Yogyakarta pun diobok-obok Belanda dalam agresi militer ke-II. Akhirnya, pusat pemerintahan dan ibu kota dipindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Ketika itu, Republik Indonesia masih orok, enggak punya tentara, jadi harus pindah ke pedalaman untuk menyelamatkan diri,” kata Rizal.

“Itu artinya bagaimana bung?”

“Ya, kepindahan-kepindahan ibu kota itu lebih banyak disebabkan oleh peristiwa perang, revolusi. Sifatnya bukan meninggalkan Jakarta untuk selama-lamanya sebagai ibu kota. Jadi lebih kepada penyelamatan,” ujarnya.

Setelah Soekarno – Hatta bebas dari pengasingan, Menteri Kemakmuran RI Sjafruddin Prawiranegara membubarkan PDRI pada 13 Juli 1949, dan Yogyakarta kembali menjadi ibu kota Republik Indonesia Serikat (RIS).

Sampai akhirnya, pada 17 Agustus 1949,RIS dibubarkan dan Jakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia secara de facto. Selanjutnya, 28 Agustus 1961, Jakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia secara de jure.

“Bukankah panitia agung pemilihan ibu kota bilang tidak mau memilih kota kolonial? Kenapa Jakarta dipilih?” tanya saya.

“Yang harus dimengerti, dalam pidato Bung Karno bilang: Nasionalisme kita itu bukan nasionalisme sempit, nasionalisme kita itu tumbuh di taman sari internasionalisme,” kata JJ Rizal mengutip pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945.

Menurut JJ Rizal, nilai Nasionalisme bagi Bung Karno bukan berarti pula harus memusuhi warisan kolonial, yakni dengan menolak gedung-gedung dan arsitektur ruang peninggalan penjajah.

Bung Karno justru mengajarkan bahwa bangsa Indonesia yang baru saja merdeka, harus berangkat dari apa yang dimiliki.

“Yang Indonesia punya itu adalah nasionalisme, antitesis dari kolonialisme. Sebuah bangsa hidup dan punya identitas dari sejarah, sebuah ibu kota itu penting sekali. Pertanyaannya ibu kota seperti apa?” kata Rizal berteka-teki.

Ia lantas menjawab, “Sebuah ibu kota itu sifatnya ‘archipelagic state’. Dia harus punya sejarah panjang tentang pertumbuhan nasionalisme. Enggak ada kota-kota lain di Indonesia yang punya latar sejarah sekuat Jakarta tentang pergerakan kebangsaan.”

Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 lahir di Jakarta. Sumpah Pemuda tahun 1928 dideklarasikan di Jakarta. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 pun di Jakarta.

“Jadi buat Bung Karno, Jakarta itu punya modal kultural historis yang sangat kuat sebagai simbol wajah mukanya Indonesia, wajah mukanya nasionalisme. Ini kota juang buat Bung Karno,” tegasnya.

“Jakarta kota post-kolonial, bentuk perlawanan terhadap warisan kolonial, begitu?” tanya saya.

“Kita harus menerima kota kolonial ini, tapi bagaimana kota kolonial ini mencerminkan sifat nasionalisme, nah itulah yang dilakukan Bung karno. Dia sebagai arsitek dia kerjakan. Dia gunakan kemampuan sebagai arsitek untuk mengubah wajah kota kolonial menjadi wajah kota nasional.”

Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Monumen Selamat Datang buatan Henk Ngantung (Gubernur Jakarta era Bung Karno) yang kekinian dikenal sebagai Bundaran HI, kawasan Semanggi, kesemuanya adalah proyek poros baru ide Bung Karno.

 “Sehingga kota Batavia pelan-pelan berubah dari kota kolonial menjadi Jakarta kota nasional,” tuturnya.

Pengorbanan Betawi, akankah terulang?

PROYEK PEMBANGUNAN selalu menimbulkan permasalahan bagi penduduk setempat. Hal itu juga dialami oleh orang Betawi sebagai warga ibu kota Jakarta.

Menurut Rizal, dalam perjalanan panjang pembangunan Jakarta, orang Betawi merupakan pihak yang paling banyak berkorban.

Hampir seluruh tanah milik orang Betawi diambli alih dengan beraneka cara, mulai dari yang halus hingga cara kekerasan. Mereka dan kebudayaannya kekinian terpinggirkan atas nama pembangunan.

“Kebudayan itu dasarnya tanah. Jadi, ketika tanahnya hilang, kebudayaannya hilang, habis,” kata Rizal.

“Hilangnya tanah, bisa berimbas pada hilangnya produk-produk kebudayaan, begitu?” tanya saya.

“Nah, jadi kalau orang menangisi Lenong, menangisi Tanjidor, kebudayaan berumah dengan konsep arsitektural ruang pohon dan kebun yang lebih besar dari rumah itu hilang, disebabkan oleh apa? Tidak adanya perlindungan terhadap hak dasar budaya dari orang Betawi.”

JJ Rizal khawatir, apa yang dialami oleh orang Betawi akan terulang di Kalimantan Timur sebagai lokasi yang ditunjuk sebagai ibu kota baru.

Apalagi, kekinian penduduk Kalimantan Timur telah mengalami persoalan diforestasi dan tambang.

“Itu akan menjadi persolan-persolan yang tidak ada dalam diskusi-diskusi tentang pindah ibu kota. Apa yang dialami orang Betawi, mereka kehilangan kampung akhirnya kehilangan budaya, dan mereka terpinggirkan,” kata dia.

“Ya untung orang Betawi punya ketahanan budaya yang sangat kuat, karena Jakarta dalam periode panjang, teruji sebagai kosmopolit. Tapi bayangkan bagaimana dengan orang di Kalimantan Timur?”

Nalar yang putus

RIZAL TAK HABIS PIKIR, kalau pemindahan ibu kota ke Kaltim dengan alasan Jakarta terlampau terbebani masalah padat penduduk dan lainnya. Baginya, alasan-alasan itu tak cukup masuk akal.

Kalau masalah-malasah itu dimiliki Jakarta dalam kurun waktu yang panjang, adalah benar. Hanya, menurut Rizal, permasalahan di Jakarta akibat tata ruang yang diacak-acak hingga menggilanya urbanisasi, bukanlah soal tanpa solusi.

Solusinya tidak serta merta memindahkan ibu kota. Sebab, beragam persoalannya itu belum tentu terhapus setelah Jakarta tak lagi menyandang titel ibu kota.

“Pertanyaannya, kenapa alternatif yang lain tidak ada dan dibicarakan?” kata Rizal.

“Kalau ini ide besar, ide nasional, masalah besar, dan Jakarta adalah kota yang langsung dikreasi oleh Bung Karno, Founding Father RI, simbol identitas nasional, harusnya dipikir lebih serius dong,” sesalnya.

Ia meminta hasil kajian pemerintah dibuka kepada publik, agar bisa dibahas bersama. Misalnya, tak menutup kemungkinan hanya organ-organ kementerian yang dipindah ke Kaltim.

Bagi Rizal, usul seperti itu lebih masuk akal, dibandingkan harus memindahkan ibu kota negara.

“Jadi yang dipindah hanya kementerian?” kata saya.

[Suara.com/Ema Rohimah]
[Suara.com/Ema Rohimah]

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS