Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Sejumput Kisah dari Tanah Papua, Jejak Trauma Usai Huru-hara

Tim Liputan Khusus
Sejumput Kisah dari Tanah Papua, Jejak Trauma Usai Huru-hara
[Suara.com/Ema Rohimah]

Mama, saya takut mama, tolong kita ke tempat pater, ayo kita sembunyi sudah, kata anak itu kepada Raga.

Suara.com - Papua membara tiga pekan lalu. Gelombang protes massal rakyat Papua yang anti-rasis tak jarang berakhir rusuh. Nyaris ada konflik horizontal di dalamnya, tapi warga tak terpancing. Sementara trauma menghinggapi pengungsi Nduga.

HARI MASIH PAGI ketika Abetius Wenda menunggangi dan memacu kuda besinya keluar dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, Papua. Situasi masih mencekam, setelah malam sebelumnya terjadi huru-hara di kota.

Sang dokter tahu persis, saat jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIT, ia hanya membutuhkan waktu 45 menit perjalanan dari rumah sakit ke asrama.

Abetius tak sendirian, Atius temannya membonceng. Berdua, mereka melesat ke asrama mahasiswa Lanny Jaya di Waena, Distrik Heram, Jayapura, Papua.

Baru seperempat perjalanan, tepatnya di depan kantor Polsek Entrop, laju sepeda motor Abetius dan Atius terhenti. Ada massa berkerumun di hadapan mereka, jaraknya hanya selemparan batu.

Para pengadang rata-rata pendatang, bukan orang asli Papua. Abetius sempat berpikir untuk putar balik, tapi gagal, kedua ruas jalan sudah diblokade massa.

“Kamu dari mana?” tanya si pengadang, beramai-ramai.

Sa dari RSUD,” jawab Abetius, tenang.

“Mau ke mana kalian?“ cecar pengadang.

Kitong mo pulang ka asrama. Sa dokter ini,” tegas Abetius, ia sudah merasakan ada gelagat tak baik dari para pengadang.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS