Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Darah Juang, Mantra dari Gejayan yang Menggema Hingga Atap Gedung DPR

Chandra Iswinarno | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Darah Juang, Mantra dari Gejayan yang Menggema Hingga Atap Gedung DPR
[Suara.com/Ema Rohimah]

"Dikiranya aku sudah mati, dikira yang bikin "Darah Juang" itu sudah mati," John Tobing tertawa.

Suara.com - Kesukaan untuk bermusik tumbuh dalam diri John Tobing kecil sejak duduk di bangku kelas V SD. Tanpa ada yang mengajari dan tak memakai buku petunjuk apa pun, ia mencari tahu sendiri satu per satu not lagu Batak "Madekdek Ma Gambiri".

SUASANA SANTAI SIANG ITU mendadak berubah ketika John Tobing tiba-tiba berdiri dari kursi sambil mengepalkan tangan. Alisnya mengernyit, tatapannya tajam ke depan, dan kepalanya sedikit menengadah.

"Hak kita diinjak-injak!" teriaknya. Ia terdiam sejenak dan mulai lirih bernyanyi, "Di sini negeri kami..." Tangannya masih mengepal dan sedikit diayunkan. Hanya nada suaranya yang merendah, mengenang cerita dari kawan aktivisnya tentang aksi pendudukan Gedung DPR/MPR pada Mei 1998 silam, peristiwa yang punya andil besar dalam pelengseran Soeharto.

"Enggak cuma itu. Pemakaman Pramoedya Ananta Toer, juga dinyanyikan, di rumah duka. Itu juga, waktu Ucok ITB meninggal. Malah ada dua orang yang pingsan, kalau enggak salah anak UI, waktu itu," ujarnya.

Meski bukan yang menjadi pembuka pertemuan kami, tetapi cerita tentang "Darah Juang" memang begitu membekas di ingatanku, terutama karena emosi si empunya lagu pergerakan, yang sudah dinyanyikan banyak mahasiswa.

"Dikiranya aku udah mati, dikira yang bikin "Darah Juang" itu udah mati," John Tobing tertawa.

***

Kamis (22/8/2019) siang, Johnsony Marhasak Lumbantobing, bersama Dona, istrinya, menerima kedatanganku di rumah mereka, di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Suasana cair; begitu saja obrolan mengalir hingga dia menceritakan awal mula "Darah Juang" dilahirkan.

"Dulu aku bikin lagunya itu pada saat aku kuliah, tahun 1991 atau 1992, lupa aku. Nah, itu aku ada di kontrakan rumah di Pelem Kecut, di daerah Gejayan, dekat Jembatan Merah itu, dekat situ. Nah, itu aku ciptakan lagu itu pada saat aku jadi aktivis. Aku jadi aktivis ini kan, enggak ada orang yang tahu aku pencipta lagu, kecuali teman-teman dekat di UGM," tutur alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta angkatan 1986 itu.

"Aku kan aktivis, udah ke mana-mana. Jadi aku melihat, Indonesia ini... ditipu kita sama bangsa kita sendiri. Nah, aku bikin lagu. Aku cipta lagu, aku sambil mikirlah, bagaimana cara bikin lagu yang legendaris, yang bisa dikenal, diketahui orang, pokoknya legendarislah, gitu," katanya lagi, sebelum menyesap teh hangat buatan Dona.

"Aku tidak tahu pada saat itu pas mau ada kongres FKMY. FKMY itu Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta. Itu kongres pertamanya itu. Aku tidak begitu... enggak tahulah soal itu, tapi katanya laguku dinyanyikan di situ."

Terlalu Banyak 'Tuhan'

Alunan melodi gitar akustik mengalun di rumah kontrakan Pelem Kecut. Seorang pemuda 25 tahun memejamkan matanya, meresapi bunyi dari petikan enam senar oleh jari-jarinya sendiri.

Seiring dengan tarian jarinya memainkan dawai gitar, ia menyenandungkan nada-nada yang begitu saja keluar dari kepala dan berproses sampai menggetarkan pita suaranya. Iramanya lembut, seperti himne.

Begitu selesai bersenandung, pemuda kelahiran Kota Binjai, Sumatra Utara itu membuka mata dan menghentikan gerak jarinya.

"Kau tuliskan dulu, Indonesia ini kaya, kok sekarang jadi terpuruk enggak karu-karuan," kata si John Tobing muda ke Dadang Juliantara, kawan satu kontrakannya, mahasiswa Fakultas MIPA UGM.

John Tobing tak punya kepercayaan diri merangkai kata. Ia merasa dirinya kurang terampil dalam hal itu.

Syair buatan Dadang rampung, John Tobing lantas kembali memetik dawai gitarnya. Lirik yang ditulis Dadang dinyanyikan sesuai komposisi nada ciptaannya. Jika ada yang kurang pas di hati, ia berdiskusi dengan Dadang untuk mengganti.

Lagu itu pun sampai ke telinga kawan-kawan aktivisnya di UGM kala itu. Usai diperdengarkan di hadapan mereka, dipujilah John Tobing, "Bagus ini John lagumu."

Namun, pengubahan lirik masih terus berjalan. Kawan-kawan John Tobing, termasuk Budiman Sudjatmiko, membantu menambah, mengurangi, dan menentukan diksi di lagu John Tobing, serta memberikan judul untuknya.

"Tuhan, relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat," bunyi salah satu penggalan lagu itu.

"’Bunda’ aja, John," usul Budiman.

John Tobing tidak serta merta mengikuti arahan temannya. Ia masih berpikir.

"Kebanyakan 'Tuhan'-mu, John," kata Budiman lagi, tak sabar menunggu jawaban John Tobing.

"Iya, bunda, bunda, bunda," jawab John Tobing.

Hingga hampir 30 tahun kemudian, ia masih terus mengingat kedekatannya dengan sahabatnya itu, yang kini menjadi Politikus PDI Perjuangan serta kerap berseliweran di layar kaca, dan kata John Tobing, ‘Sudah ngetop.’

"Kenapa Bang John suka pakai kata 'Tuhan'?" tanyaku, mendengarkan "Darah Juang" dari ponselnya.

"Iya karena kalau aku mengeluh, mengeluhnya ya sama Tuhan. 'Tuhan, dengar, Tuhan.' Ini kan aku mengeluh sebetulnya," jawab ayah tiga anak ini.

Mahasiswa saat menduduki DPR/MPR, tahun 1998.
Mahasiswa saat menduduki DPR/MPR, tahun 1998.

Tak Tahu Lagunya Dinyanyikan Saat Demo Tumbangkan Soeharto

Ketika aku tanyakan tujuan dari dibuatnya "Darah Juang", John Tobing tak menyebut untuk menurunkan Soeharto. Meski tersirat jelas, syair lagu tersebut memang ditujukan kepada rezim pemerintahan saat itu, yang sudah 32 tahun berada di bawah kepemimpinan sang Jenderal Besar.

"Pertama aku bikin lagu itu, mengatakan, 'Hai semua kawan-kawanku di Indonesia, tahu enggak kalian bahwa kita ini kaya raya? Tetapi kita dibodohi sama pemerintah, sehingga kita jadi enggak ngerti bahwa kita ini kaya.' Itu yang aku mau katakan," jawabnya.

"Aku enggak tahu itu ternyata dinyanyikan pas demo menjatuhkan Soeharto. Ya kalau dia dijatuhkan dengan laguku itu ya, bagus."

Pria 52 tahun itu menyunggingkan senyum kecil dan mengeluarkan suara tawa yang tak begitu kencang.

"Terus, tahunya dari siapa Bang John?" tanyaku lagi.

"Aku tahunya dari kawan," katanya.

"Langsung setelah demo itu?" sahutku.

"Enggak. Aku tahunya 2010 itu. Lama sekali kan? Aku dikasih tahu, 'John, mergo lagumu iki, Soeharto i tiba. Wuakeh wong tekan atap DPR kuwi nyanyi lagumu "Darah Juang" kuwi, makane Soeharto tiba.' (Karena lagumu ini, Soeharto jatuh. Banyak sekali orang sampai ke atap DPR itu nyanyi lagumu "Darah Juang" itu, makanya Soeharto jatuh). 'Mosok iyo sih?' (Masak iya sih?)," tutur John Tobing, menggunakan dialek khasnya saat berbahasa Jawa.

"Nah dari situ aku mikir, bangsat, ternyata laguku, baru aku tahu," ia tertawa lagi.

Aku pun penasaran, lantas bertanya, "Bang John memangnya posisi di mana waktu demo?"

"Kita di Pekanbaru," sahut Dona. John Tobing menimpali, "Terus kami pindah ke sini 2010."

Tanda Tangan di Atas Materai Gemi Gitar

Kesukaan untuk bermusik tumbuh dalam diri John Tobing kecil sejak duduk di bangku kelas V SD. Tanpa ada yang mengajari dan tak memakai buku petunjuk apa pun, ia mencari tahu sendiri satu per satu not lagu Batak "Madekdek Ma Gambiri", sebelum akhirnya mengenal apa yang disebut 'chord'.

"Orang Batak kan harus pintar main gitar, harus pintar nyanyi," kata Dona.

"Oh iya ya?" tanyaku, memercayai ucapannya.

"Enggak gitu ah," sahut John Tobing dengan nada sedikit sesal, tetapi disusul tawa dari kami bertiga.

Lalu aku tanyakan soal gitar pertama yang ia miliki.

"Aku rayu orang tuaku. Bapakku enggak mau, jadi aku rayu. Bapakku bilang begini, 'Enggak usah dikasih uang jajan sampai kuliah, sampai selesai kau mau?' 'Ya, sampai selesai.' Jadi kelas 5 SD sampai kuliah itu aku enggak dapat uang jajan. Aku tanda tangan di atas materai," kenang anak ketiga dari delapan bersaudara itu.

"Cuma, karena aku SMA, kuliah, di Jogja, duit kos aku dikasih." Belum selesai mengungkapkan kisah masa kecilnya, John Tobing terbahak-bahak, lalu melanjutkan, sambil masih sesekali tertawa.

"Tapi dikasihnya ke mbakyuku. Dia yang atur, 'Ini duit kau.'"

Johnsony Marhasak Lumbantobing dan gitar kesayangannya. [Suara.com/Eleonora Ata]
Johnsony Marhasak Lumbantobing dan gitar kesayangannya. [Suara.com/Eleonora Ata]

Begitu gitar ia dapatkan, tak butuh waktu lama, John Tobing sudah menciptakan lagu pertamanya. Bocah SD yang dikenal bandel itu diberi judul “Oh Manusia.”

"Tentang manusia, kenapa itu, Bang?" aku kerutkan wajahku, mencari tahu isi kepala si bocah SD.

"Manusia itu selalu salah, jadi bertobatlah. Manusia, karena kamu itu adalah bagian dari pahlawan. Begitulah. Aku ngawur itu. Teksnya elek banget. 'Oh manusia, oh manusia. Bertobatlah, bertobatlah,'" John Tobing sedikit memiringkan kepala, mengingat-ingat lagu yang ditulisnya sekitar tahun 1970-an.

"Bapak tahu itu Bang?"

"Enggak tahu. Bapakku tahu aku pencipta lagu itu "Darah Juang" juga."

"Tahunya setelah terkenal?"

"Enggak tahu juga dia."

"Terus gimana Bang tahunya?"

"Dia kan anggota PDI Perjuangan. Nah, dulu ada dua PDI to? Di bawah Suryadi dan di bawah Megawati. Semua pengadilan se-Indonesia Raya itu Suryadi semua. Bapakku hakim pengadilan negeri, Nah, tapi dia yang pertama kali memutuskan Megawati yang menang. Nah, pada saat itu, "Darah Juang" dinyanyikan di PDI Perjuangan pokoknya. Bapak itu tahu. Dari situ, 'Lho, yang menciptakan "Darah Juang" itu kamu to John?' 'Iya, Pak.' 'Lo, kurang ajar kau. Kau enggak ngomong.'"

John Tobing, begitu juga aku dan Dona, sontak melepaskan tawa yang kencang mendengar reka ulang percakapan antara John Tobing dan almarhum ayahnya di masa lalu.

Selera Musik John Tobing

Setelah 40 tahun lebih bermusik, saat ini, kata John Tobing, dirinya sudah menciptakan lebih dari 500 lagu meskipun tak semuanya dicatat. Lantas, mataku terbelalak ketika mendengar sahutan Dona.

"Dia enggak bisa baca not," katanya.

Wajahku lagsung berpaling pada John Tobing, yang mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum menahan tawa.

"Terus biar ingat gimana, Bang?" tanyaku.

"Dulu kan aku pakai kaset pita. Dulu pinter ngerekamnya, sekarang enggak ada lagi kan? Frustrasi aku. Opo, piye carane, bisanya di HP. Nah tiba-tiba HP-ku rusak, hilang. Ah frustrasi lagi aku," keluh John Tobing, membuat kami tertawa lagi gara-gara kata 'frustrasi' yang ia ucapkan berulang kali.

"Enggak pernah kursus atau apa gitu, Bang?"

"Malas, wegah (enggak mau) aku. Dulu sempat les kibord, tapi satu bulan aja. Aku itu paling malas kalau diatur-atur kayak macam digurui, paling malas aku. Apalagi kalau yang ngajari enggak bagus ya. 'Gini John! Kau itu...' Apa sih ah, malas. Tapi bisa dulu, kibord, semua alat musik, bisa, tapi sekarang gitar aja."

"Lima ratus lagu. Bukan jumlah yang sedikit sama sekali," pikirku.

Lalu aku tanyakan padanya, "Semua ada liriknya juga, Bang?"

"Enggak semua. Kayak gini," ucap pria yang menyisakan sedikit rambut lebih panjang di belakang kepala itu, seakan ada ekor menjuntai ke lehernya.

Ia membuka lagi ponselnya, lalu menyodorkan padaku, tepatnya lebih mendekatkan ke telingaku. Terdengar suara dia menggumam, merdu. Suara emas, begitu Dona menyebutnya.

Aku lemparkan lagi pertanyaan tentang musiknya, tentang isi lagu-lagunya.

Dia menjawab, "Dulu suka jatuh cinta kan, ya lagu cinta, lalu aku suka bikin lagu balada."

Sang istri pun, sesuai dugaanku, diberi lagu khusus dari John Tobing. Judulnya "Kekasih Kami" dan baru ia ciptakan tahun lalu.

"Aku tertarik dengan dia ini, 'Kenapa kau sederhana tapi luar biasa?' Ya begitulah," ujarnya. Pandangan mata Dona terpaku ke arah suaminya, yang terus menunduk sambil bercerita.

"Sekarang aku suka yang, 'Hidup ini kita harus yang jadi pemenangnya. Kita pemenangnya!'" seru John Tobing, yang kemudian bernyanyi, "We are the champion, my friends... Itu lagu-lagu itu senang aku."

Dari situ aku menebak, band fenomenal asal Inggris Queen pasti adalah favoritnya. Benar saja.

"Lagu legendaris Queen itu banyak sekali. Nah itu, aku ingin bikin lagu legendaris, sama dengan Queen. Rock, aku suka. Aku juga suka pop kreatif, kayak Iwan Fals," terang John Tobing, yang di masa sekolahnya sudah sering berpindah-pindah dari satu panggung ke yang lainnya bersama grup vokal dan band beraliran rock miliknya.

Meski begitu, saat ini ternyata dia sudah sangat jarang mendengarkan musik. Lagi-lagi heran aku dibuatnya.

"Kenapa Bang?"

"Malas aku. Sekarang sama semua, ikut-ikut luar negeri. Enggak ada lagi kayak Franky Sahilatua, Doel Sumbang, itu. Tapi manfaatnya, aku jadi bisa bikin lagu enggak sama kayak punya orang, kan aku enggak dengarin lagu siapa-siapa."

Tak Ingin Lagunya Komersil

Sulit menyelami pikiran John Tobing. Banyak maunya, tapi banyak juga yang tak diinginkan. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Dona.

Ia tahu betul, pria yang menikahinya 22 tahun silam, setelah tiga bulan berpacaran itu, saat ini tak ingin lagunya menghasilkan uang, melainkan supaya banyak didengar orang saja.

"Aneh kan? Dia bilang, 'Nanti kalau mati aku mungkin kaya.' Aku bilang, 'Untuk apa kaya kalau sudah mati kau? Mbok ya masih hidup kita nikmati sama,' ya?" jelas Dona, dengan tatapan yang sedikit menyempit dan alis mengernyit.

Johnsony Marhasak Lumbantobing, bersama sang istri, Dona. [Suara.com/Eleonora Ata]
Johnsony Marhasak Lumbantobing, bersama sang istri, Dona. [Suara.com/Eleonora Ata]

"Gini, aku kan ternyata enggak bisa jadi kaya kan. Aku banyak kerja yang sudah aku lalui, mentok terus karena aku enggak sabar ya, karena aku pindah lagi, pindah lagi. Nah aku bilang sama mereka, 'Ya kalau kalian mau kaya, ya lahir dari laguku ini, laguku "Darah Juang" ini.' Aku mati nanti baru orang, 'Siapa itu? John Tobing, yang meninggal itu. Yang bikin "Darah Juang" itu. Yang pernah dimuat di Tempo, di Kompas. Mana sih lagunya itu?' Wah baru, dapat duit gue," paparnya, diiringi tawa yang memekik.

Namun, ketika aku tanyakan soal karier politik, John Tobing semangat menjawab, "Ya kepengen." Ia sendiri pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PDI Perjuangan Riau sekitar hampir 15 tahun lalu, sebelum kemudian memboyong istri dan anak-anaknya ke Jogja. Sayangnya, sekarang ia tak yakin bisa berpolitik lagi.

"Enggak punya uang, enggak ada kemampuan, apalagi aku pernah kena stroke, sekarang mataku enggak bisa lihat kalau gelap."

Diprediksi Buta Total

Saat aku bertemu tatap muka dengan John Tobing, tak ada yang terlihat janggal, dan ia tampak tak baik-baik saja, tetapi di balik itu, ternyata kesehatan matanya sudah terganggu selama sembilan tahun terakhir.

"Saraf mata untuk melihat terang, untuk melihat gelap, itu putus satu per satu. Enggak tahu jumlahnya berapa, tapi kata dokter di Kuala Lumpur, waktu aku ke sana itu umur 49 tahun. Dia bilang, '49 tahun lagi kamu buta, enggak bisa lihat sama sekali.' Udah mati duluan aku to?" celetuk pria yang berulang tahun setiap 1 Desember itu.

"Ini enggak ada obatnya. Kejadian seperti aku ini satu dalam beberapa sekian ribu orang. Jadi kata dokter itu, ada dua yang menyebabkan mata buta itu. Salah satunya genetika, itu aku, yang kedua karena glaukoma."

Walaupun kondisi matanya sudah melemah seperti itu, tak terlihat sama sekali kesusahan dari dirinya. Bahkan, dengan santai saja dia menerangkan gangguan pada matanya sambil mengunyah keripik singkong dalam toples di hadapannya.

"Bersyukur aku bisa mengenal dirimu sekarang ini. Tapi apabila kau datang malam-malam, besok pagi enggak ngerti lagi aku siapa dirimu," tutur John Tobing, yang pengelihatannya sudah tak berfungsi ketika hari mulai gelap.

Setiap tampil menyanyi pun, ia harus dituntun Dona, satu-satunya orang yang ia percayai untuk merangkul lengannya naik ke atas panggung.

John Tobing Berpesan

Nakal. Satu kata yang disebut John Tobing untuk mewakili masa mudanya. Gaya hidup tak sehat menjadi teman dekat John Tobing ketika masih remaja.

Namun, suatu peristiwa semenjak menjadi aktivis menjadi titik balik kehidupannya. Ia menghabiskan banyak waktu ke daerah-daerah, juga di jalan-jalan. Berkenalan dengan banyak orang sudah hal yang wajar, termasuk para warga yang permukimannya digusur untuk dijadikan Waduk Kedung Ombo 34 tahun lalu.

John Tobing dan kawan-kawannya membela mereka, selama kasus penolakan itu bergulir sejak 1985. Ketika itu pula, ada kejadian yang menggerakkan hatinya untuk meninggalkan kebiasaan mabuk, penyalahgunaan narkoba, dan mengurangi rokok.

"Ada kawan-kawan datang, dimarahin. Pada saat itu masyarakat tidak suka karena mereka minum, mabuk-mabuk. Aku dengar itu. Wah, aku itu, apa pun yang dirasakan oleh rakyat kecil itu, aku berubah. Pada saat itu aku berhenti mabuk. Ganja enggak lagi, 1988 berhenti semua," kisahnya.

"Mari kita sama-sama berubah. Mari kita sama-sama memiliki satu kebudayaan yang baik dan benar. Apa itu? Pertama, tidak korupsi. Kedua, malu apabila salah. Ketiga, berbuat yang selalu baik. Misalnya, jangan buang sampah sembarangan, jangan buang plastik sembarangan, jangan makai motor gila-gilaan, macam-macamlah. Lakukan yang terbaik. Enggak usah kejar kekuasaan, kalau enggak diberi masyarakat, nanti juga diberi Tuhan. Nah kalau kita udah jujur, sopan, tidak korupsi, kaya kita."

"Aku optimis, tapi kita harus sama-sama melakukannya, kalau enggak, enggak jadi apa-apa. Hidup ini apa sih? Sementara. Kita harus lakukan yang baik untuk besok anak-anak kita, keturunan kita yang lain."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS