Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Parlemen Jalanan di Seberang DPR, yang Tersisa dari Gerakan Mahasiswa 4.0

Reza Gunadha | Muhammad Yasir
Parlemen Jalanan di Seberang DPR, yang Tersisa dari Gerakan Mahasiswa 4.0
[Suara.com/Ema Rohimah]

Tak ada yang berteriak turunkan presiden. Tapi ketika mahasiswa kinyis-kinyis berhenti main Mobile Legends atau PUBG untuk turun aksi, maka pemerintah harus koreksi diri.

Suara.com - Tak ada yang meneriakkan yel-yel turunkan presiden. Tapi ketika mahasiswa ‘kinyis-kinyis’ era revolusi industri 4.0 sejenak berhenti bermain Mobile Legends atau PUBG untuk turun aksi, maka pemerintah harus koreksi diri.

IMELDA SARI sedang hamil ketika diminta kantornya melakukan reportase demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Semanggi, Jakarta, 12 Mei 1998.

Demonstrasi yang bermula damai justru berakhir rusuh ketika aparat keamanan menembaki kerumunan mahasiswa.

Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak: Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie.

Kepanikan bergelayut, menjalar juga kepada Imelda. Gas air mata mengepungnya. Dia yang mengandung, juga terpaksa menghidu gas tersebut.

Setelah tragedi berdarah Trisakti, berupa-rupa bunga ditabur di sepanjang jalan kawasan Semanggi untuk mengenang keempat martir reformasi.

Yel-yel turunkan Soeharto semakin bergema sesudahnya. Tak lama, penguasa Orde baru itu turun dari puncak kekuasaan.

Sementara Imelda—dulu jurnalis SCTV yang kekinian menjadi Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat—mematri kisahnya dan para martir reformasi 98 kepada anak dalam kandungan.

”Aku lahir 23 Mei 1998. Bunda menamaiku dari nama bunga yang ditabur di Semanggi untuk menghormati para martir gerakan mahasiswa 98. Namaku Jasmine Umi Safira,” kata perempuan itu kepada saya, pekan lalu.

Jasmine kini berstatus mahasiswa semester tujuh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Ketika gelombang aksi mahasiswa menolak beragam RUU bermasalah di gedung DPR dua pekan lalu, Jasmine juga ikut serta.

”Lucu. Dulu, saat dalam kandungan, bunda yang wartawati, menghirup gas air mata bersama mahasiswa lain, sekarang  gantian anaknya. Aku menghirup gas air mata lagi, tapi sebagai mahasiswi demonstran.”

***

ROMBONGAN MAHASISWA kian bertambah banyak di depan gerbang utama DPR RI, Selasa siang, 24 September 2019.

Situasi memanas sejak pukul 14.00 WIB. Demonstran memaksa menembus pagar yang membatasi mereka, agar bisa berhadap-hadapan langsung dengan wakil rakyat terhormat pembuat beragam RUU bermasalah di dalam gedung DPR.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo memberikan keterangan pers. Dia mempersilakan perwakilan mahasiswa masuk ke dalam untuk berdialog.

“Kami sediakan tempat yang pantas untuk berdialog. Kalau kami yang ke luar, tidak bakal ada dialog, cuma satu arah,” kata Bamsoet, memberi tawaran.

Tawaran Bamsoet jelas ditolak mahasiswa. Kalau dibolehkan masuk, maka semua demonstran harus dibukakan pintu.

“Jika tidak, maka mereka harus datang ke hadapan kami,” teriak orator.

Selasa sore, sekitar pukul 16.00 WIB, Bamsoet dikabarkan mengiyakan permintaan mahasiswa. Namun, hingga waktu yang dijanjikan tiba, Bamsoet tak kunjung keluar dari gedung.

Massa semakin emosi. Tanpa dikomando, demonstran melempari botol minuman ke arah Gedung DPR RI. Polisi membalas dengan tembakan gas air mata dan meriam air ke arah demonstran.

Bentrokan pecah. Sekitar pukul 16.45 WIB, Bamsoet baru keluar dari kantornya dan berjalan menuju pintu gerbang Gedung DPR RI.

Bamsoet yang sudah memakai pasta gigi di bawah mata, dikawal Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar dan sejumlah pamdal serta polisi.

Langkahnya terhenti, setelah polisi memberitahukan bahwa bentrokan sudah terjadi. Dia akhirnya dievakuasi ke pos penjagaan.

Jasmine bersama kawan-kawannya berlarian mencoba menyalamatkan diri ketika polisi menembakkan gas air mata dan meriam air, Selasa sore sekitar pukul 16.30 WIB.

Perempuan itu dan teman-temannya dari UI berada di dekat area Hotel Mulia, ketika gas air mata terlontar ke arah mereka.

“Ke GBK, ke GBK, kita ke sana, di sini gak aman,” teriak Jasmine mengarahkan kawan-kawannya yang panik.

Para demonstran banyak yang berlarian tanpa tahu arah ketika hujan gas air mata mengepung. Jasmine berpikir, situasi itu tak menguntungkan.

Massa harus diarahkan ke sejumlah titik tertentu, agar mudah dievakuasi maupun dikoordinasi untuk balik melawan.

Berlari dalam kondisi panik serta terus ditembak gas air mata, juga berpengaruh pada jumlah korban. Sebab, banyak dari mereka yang semakin sesak napas.

“Kami ditembaki. Padahal barisan kami sudah bubar,” katanya, mengenang.

Jasmine juga menepis mahasiswi yang ikut berdemonstrasi tak memunyai peran penting alias hanya menjadi penggembira.

“Perempuan banyak mengambil peran saat bentrok terjadi. Banyak dari kami yang justru menenangkan kawan-kawan. Karena banyak mahasiswa, laki-laki, yang baru kali itu ikut aksi. Saya sendiri sebelumnya sudah pernah aksi.”

Intensitas jual beli serangan antara demonstran dan polisi semakin sering terjadi, hingga Selasa malam. Korban di pihak mahasiswa berjatuhan.

Pun ketika mahasiswa kembali berdemonstrasi tanggal 30 September, berakhir dengan represi aparat. Sementara wakil rakyat terhormat, tak satu pun bersuara.

“Sangat disayangkan anggota dewan serta pemerintah seakan-akan menutup mata dan telinga terhadap jeritan masyarakat,” ujar Jasmine.

Namun, aksi mahasiswa itu mendapat simpati dari banyak kalangan rakyat. Dukungan mengalir kepada mereka hingga hal kecil-kecil, semisal memasok minum maupun makanan.

Ketika Jasmine sibuk mengatur kawan-kawannya, sang bunda membelanya. Lewat media sosial, Imelda memberi restu.

”Dear Kak Jasmine Umi Safira, stay safe. Kadang kita berdebat panjang atas argumentasi politik terkait RUU KUHP dan Revisi UU KPK. Tetapi bunda tentu akan mendukung sepenuhnya perjuangan kakak dan teman-teman menyuarakan kebenaran dan keberpihakan terhadap suara rakyat. My praying for you. I love you much.”

Melawan Thermidorian

HEGEL SANG FILSUF pernah memberikan nasihat terkait pola ceteris paribus atau faktor-faktor konstan dalam sejarah. Menurutnya, kenyataan-kenyataan yang sangat penting dalam sejarah dunia, seakan-akan terjadi dua kali.

Nasihat Hegel ini—percaya atau tidak—juga terjadi dalam sejarah anak muda Indonesia dalam pentas politik.

Setidaknya, kebenaran diktum itu bisa ditelusuri sejak pemuda terlibat dalam gerakan mahasiswa tahun 1966. Pascahuru-hara mereda, tak sedikit kaum muda yang terlibat aktif membangun rezim Orba.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS