Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Air Mata dari Nduga, Menguak Tragedi Pemerkosaan di Papua

Reza Gunadha | Erick Tanjung
Air Mata dari Nduga, Menguak Tragedi Pemerkosaan di Papua
[Suara.com/Ema Rohimah]

Warga meminta agar pasukan keamanan ditarik dari Nduga, karena mereka merasa ketakutan dengan kehadiran aparat bersenjata dalam jumlah besar.

Suara.com - Konflik bersenjata berkepanjangan di Papua, terutama di Nduga, membuat rasa kemanusiaan berada di ujung tanduk. Puluhan ribu warga mengungsi ke hutan, yang tak sedikit hanya menjemput kematian di sana. Ada pula kisah pemerkosaan.

SEHARI DI MAPENDUMA terasa puluhan tahun bagi Veronica, tenaga sukarela pengajar SD di Nduga. Sebab, ia tak sebebas seperti di distrik lain.

Banyak larangan yang disampaikan Rumianus atau yang biasa ia sapa Pace Rumi, pemimpin Organisasi Papua Merdeka.

Marta, sukerelawan guru SMP yang tinggal se-rumah dengan Veronica, masih bisa sekali-sekali keluar pondokan menuju arah bandara, tempat warga banyak berkumpul.

Veronica sudah sering mengingatkan Marta tidak pergi semaunya, seperti yang dipesankan Pace Rumi. Namun, kali itu, dia membuat pengecualian.

Sebab, Marta pulang membawa kabar yang menarik bagi Veronica: sayap bersenjata OPM sedang mengatur strategi untuk menyerbu polisi dan tentara Indonesia.

Gerilyawan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dari berbagai distrik berdatangan ke Mapenduma. Setiap kali ada kelompok gerilyawan datang, terdengar yel-yel menyerupai suara burung.

“Itu tandanya kode perang,” bisik Marta kepada Veronica.

Jarak perumahan tempat Veronica dan Marta berdiam dengan lapangan terbang yang biasa digunakan TPNPB-OPM berkumpul dan berlatih, tak terlampau jauh.

Tempat tinggal Veronica, Marta, serta seorang lagi bernama Hanna tak bisa pula disebut layak, karena sangat mudah untuk dibuka orang dari luar.

Gembok dan gerendel sudah jebol. Dinding sisi kiri rumah juga koyak, hanya selembar tripleks yang menjadi penutup.

Namun, tiap malam, kepala sekolah tempat mereka mengajar, duduk-duduk tak jauh dari perumahan, untuk memastikan tak ada hal buruk menimpa anak buahnya.

Kepala sekolah sebenarnya tinggal agak jauh dari perumahan Veronica, persisnya di sisi bukit yang cukup tinggi.

Kalau malam sudah larut dan dipastikan tak ada apa-apa di sekitar perumahan, kepala sekolah kembali mendaki bukit, pulang untuk beristirahat.

Kepala sekolah tak bisa tetap tinggal di sekitar perumahan para guru yang kebanyakan perempuan. Sebab, menurut tradisi yang dijunjung tinggi suku-suku Pegunungan Tengah, laki-laki tak boleh masuk ke rumah perempuan.

Musuh kami bukan guru

VERONICA MASIH MENGINGAT hari pertamanya bertemu siswa-siswa. Kepala sekolah mengumpulkan semua murid di lapangan.

Tak seperti ketika mengajar di Distrik Mugi, Veronica benar-benar kaget ketika di Nduga, karena dari 100 orang murid kelas 1-6 SD, yang datang pada hari pertamanya mengajar di bawah 50 orang.

Kepala sekolah sempat meminta siswa yang datang untuk memberitahu teman-temannya untuk bersekolah keesokan hari, sebab guru sudah ada.

Jumlah guru di sekolah itu jauh dari kata cukup, karenanya mereka berbagi tugas. Kepala sekolah mengajar kelas 1 dan kelas 2. Veronica mengampu kelas 3 dan kelas 4. Sedangkan Hanna mengajar kelas 5 dan kelas 6.

“Ajak teman-temanmu masuk kelas besok eee…” pesan Veronica kepada anak-anak itu.

Anak-anak itu cuma menaikkan alis mata, tanda setuju. Besoknya, dari 7 siswa yang datang hari pertama, bertambah menjadi 15 orang, lumayan.

Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Veronica dan sukarelawan lain semakin tergugah ketika pada hari Minggu pertama berada di Mapenduma, 7 Oktober 2018.

Mereka datang beribadah pagi di gereja, karena Pace Rumi akan mengenalkan mereka kepada jemaat.

Pesan Pace Rumi, Veronica dan yang lain bisa merebut hati warga Nduga dan menjadi saudara kalau bersama-sama di gereja.

“Guru-guru tidak usah takut. Kami tidak akan mencelakakan para guru. Kami butuh guru-guru untuk mencerdaskan generasi muda Papua. Lawan kami buka para guru, tetapi aparat,” ujar Pace Rumi di tengah-tengah jemaat saat memperkenalkan Veronica Cs.

OPM membatasi gerak tenaga sukarelawan guru, yakni hanya boleh pergi ke sekolah dan kembali ke rumah. Mereka juga tak boleh memegang ponsel, dan tak diperkenankan memotret.

Namun, perlakuan OPM kepada tenaga sukarelawan guru terbilang baik.

“Ke atas dulu, Bu Guru…” sapa Egianus Kogoya, salah satu pemimpin disegani dalam TPNPB-OPM saat melintasi tempat tinggal Veronica dan kedua temannya.

“Iyo,” jawab Hanna yang sempat mengajar Egianus Kogoya di SD Distrik Mugi, beberapa tahun silam.

Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Pace Rumi juga pernah melintasi rumah mereka. Lelaki itu berkepribadian tenang, sehingga memberikan rasa nyaman kepada para guru.

“Kamu tidak usah takut. Pernyataan di depan jemaat kemarin itu adalah jaminan keamanan dari saya,” kata dia.

Malam Jahanam

KEPALA SEKOLAH PULANG lebih awal dari biasanya, meninggalkan perumahan tempat Veronica dan teman-temannya tinggal, 11 Oktober 2018, Kamis malam.

Dia sempat berpamitan. Kepala sekolah mengaku sudah sepekan dalam kondisi tertekan, perlu istirahat.

“Saya juga mau tidur,” kata Veronica kepada Marta dan Hannah untuk masuk ke peraduan.

Kamar itu ada dua tempat tidur,  satu untuk Veronica dan lainnya untuk Marta. Sementara Hanna berada di kamar sebelah, bersama dua anaknya.

Ketika kesemuanya terlelap, terdengar suara teriakan dari luar yang disertai gedoran pintu.

“Ibu guru... ibu guru, buka pintu….”

Marta yang lebih dulu terbangun, lantas membangunkan Veronica. Sementara dari luar, orang itu tak berhenti berteriak.

“Buka pintu, cepat... hari sudah mau pagi….”

Veronica, Marta, Hanna dan kedua anaknya berkumpul di satu kamar, mengatur siasat. Mereka bersepakat, Marta pergi diam-diam lewat pintu samping untuk mencari pertolongan.

Mereka sempat mengintip dari balik pintu, rumah sudah terkepung. Beberapa orang di antaranya membawa senjata. Langit Nduga gelap, hujan turun, sehingga penglihatan para perempuan itu terhalang.

Sepeninggal Marta, tripleks yang menutupi dinding koyak dijebol. Hanna, sembari menggendong salah satu anaknya, sempat bertanya kepada para pengepung.

“Apa kalian mau kopi? Kalau mau, bikin sendiri,” kata Hanna, namun para penerobos hanya tertawa. Tak lama, genset yang menjadi sumber penerangan rumah itu padam.

Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Anak kedua Hanna menangis, lari mendekati Ibunya. Dalam penerangan yang semakin pekat, Hanna sempat melihat paling tidak tujuh orang masuk ke dalam rumah mereka.

Hanna selanjutnya hanya bisa memejamkan mata, memeluk kedua anaknya, dan berseru-seru “Tuhan Yesus, selamatkan kami… Tuhan Yesus, beri kami kekuatan….”

Orang-orang itu ternyata merangsek masuk ke kamar Veronica. Di dalamnya, Veronica sekuat tenaga menahan pintu, tapi akhirnya tak kuasa.

Gelap malam semakin pekat, hujan yang turun sejak sore tak jua terhenti.

“Saya diperkosa,” tutur Veronica lirih kepada Hanna, setelah orang-orang itu pergi.

Veronica dan Hannah menangis berpelukan. Kedua anak Hannah memeluk mereka, ikut menangis histeris.

Tangisan mereka hilang tertelan suara hujan yang membentur atap seng rumah itu.

***

MARTA TERNYATA TAK BISA BERKUTIK ketika mengetahui sedikitnya 20 orang berada disekitar rumah. Dia memilih bersembunyi di balik papan ketika ditugaskan Veronica dan Hanna untuk mencari pertolongan.

Lama setelah orang-orang itu pergi, Marta baru berani pulang ke rumah dan mendapati Veronica maupun Hanna menangis berpelukan.

Marta akhirnya benar-benar mencari pertolongan. Dia pergi ke rumah kepala sekolah di atas bukit. Ia lantas menuturkan semua kejadian yang menima mereka di perumahan.

Tak disangka, kepala sekolah yang bertubuh besar itu menangis, berteriak, menyumpahi kekesalannya.

Sementara Marta, terus menyemangati kepala sekolah untuk bersama-sama pergi melihat kondisi Veronica dan Hanna.

“Ungsikan kami. Tak lagi mau kami tinggal di sini,” kata Veronica sembari menangis kepada kepala sekolah.

“Hari masih gelap. Saya tak mau kasih tinggal kamu di sini, nanti ada apa-apa lagi. Tapi tunggu sampai langit terang,” jawabnya.

Kepala sekolah langsung pergi ke rumah kepala puskesmas yang asli orang Mapenduma. Setelah diceritakan, kepala puskesmas murka sekaligus sedih.

Keduanya lantas bertemu sejumlah tokoh gereja, dan menyepakati semua guru diungsikan ke rumah kepala puskesmas.

Menjelang sore, dua tokoh OPM, Rumianus Wandikbo dan Oskar Wandikbo mendatangi rumah kepala sekolah.

Mereka meminta maaf tak bisa menjaga keselamatan tenaga sukarelawan dan bertekat menemukan pelaku perbuatan amoral itu.

“Bagaimana kita mau minta merdeka, mau urus bangsa, kalau soal perempuan saja tidak bisa urus,” kata Pace Rumianus, kesal.

Rumianus Wandikbo tergolong orang berpendidikan. Dia pernah kuliah di Biak, punya konsep perjuangan tentang kemerdekaan.

“Sembunyi di mana pun,  akan kami cari! Perjuangan kami telah dinodai kelakuan mereka,” sumpahnya.

Duka dari Nduga

PEREMPUAN BERKEBAYA HITAM itu sibuk menyapa tamu-tamunya di sebuah ruangan lantai tiga gedung Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Jakarta pusat, pekan lalu.

Kristin Samah nama perempuan itu. Dia tak bosan-bosan melempar senyum kepada puluhan orang yang datang untuk meriung di ruangan.

Tak sedikit pula orang yang datang meminta untuk berswafoto. Lainnya ada yang menyodorkan buku untuk meminta tanda tangan.

Kristin adalah penulis buku “Duka dari Nduga”, novel yang didasarkan dari beragam tragedi kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua.

Namun, senyum perempuan itu menghilang ketika sudah naik panggung. Nada bicaranya bergetar, tatkala menceritakan kisah-kisah yang dialami warga sipil di Nduga, Papua, terutama kaum perempuannya.

Kristin juga menangis, tatkala menceritakan kembali penuturan seorang perempuan relawan tenaga pengajar SD, yang diperkosa tujuh orang dalam kegelapan malam Nduga, akhir tahun silam.

Menulis kisah-kisah di tanah Nduga itu tak pernah ia direncanakan. Semua bermula dari tawaran temannya untuk menulis buku tentang cerita tim satgas dari Polri yang bertugas di Papua.

Kristin tertarik, dan berangkat ke tanah Papua. Namun, di luar dugaannya, terdapat banyak cerita memilukan warga sipil di Nduga yang didapat.

Karenanya, ia menuliskan kisah-kisah tersebut meski tak ada hubungannya dengan polisi, institusi yang memfasilitasinya ke Papua.

“Saya tertarik meminta cerita berdasarkan fakta tentang pemerkosaan perempuan-perempuan di Nduga,” kata saya kepada Kristin sebelum diskusi.

“Baik, soal itu tak mungkin saya bicarakan saat acara. Kita bicara setelahnya ya,” jawab Kristin.

Seusai acara, Kristin memenuhinya janjinya. Ia menceritakan kisah pemerkosaan perempuan di Nduga yang hingga kekinian hanya berada di wilayah abu-abu, luput dari mata hukum.

“Saya bersusah payah untuk dapat bertemu dengan korban. Akhirnya dia bisa ditemui. Saya menawarkannya untuk membantu pemulihan trauma di Jakarta,” kata Kristin kepada saya.

Ia menuturkan, kebetulan, anak Veronica ada yang berkuliah di Jakarta, sehingga bisa membujuk perempuan itu untuk mengikuti pemulihan traumatis di ibu kota Indonesia.

“Semua guru yang jadi korban di peristiwa Mapenduma saya temui, saya ajak bicara. Dari mereka, saya membuat buku ini,” kata Kristin.

Tak hanya kasus pemerkosaan itu, Kristin menuturkan ada pula peristiwa pembunuhan satu keluarga di Kenyam, Nduga.

Namun, ia mengakui, terdapat kekurangan dalam bukunya tersebut, yakni tak bisa menemui para pengungsi warga Nduga setelah terjadi pertempuan antara TNI/Polri dengan TPNPB di jalur Trans Papua akhir tahun 2018.

Menurutnya, peristiwa yang terjadi di Papua adalah masalah kemanusiaan. Ia sengaja tidak mau memasukkan unsur politik yang sangat keras dalam peristiwa tersebut.     

Menagih Negara

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mempertanyakan kenapa tragedi kemanusiaan di Nduga itu tidak mendapatkan perhatian besar dari pemerintah.

Tak hanya peristiwa kemanusiaan seperti pemerkosaan terhadap guru di Mapenduma dan kasus-kasus pembunuhan lain, seperti pembunuhan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Desember 2018.

“Saya dan para aktivis sudah menuntut otoritas negara mencari dan menemukan pelaku. Sebab, negaralah yang bertanggung jawab menegakkan hukum secara berkeadilan. Tapi sampai saat ini masih jadi misteri,” kata Usman Hamid.

Persoalan ribuan pengungsi Nduga yang mayoritas berada di daerah pegunungan, pun juga tampak seperti diabaikan oleh pemerintah.

Padahal, berdasarkan laporan investigasi dari jaringan aktivis HAM di Papua, setidaknya 182 pengungsi meninggal karena berbagai penyakit. Banyak di antara pengungsi Nduga adalah perempuan, anak-anak serta bayi.

Sebanyak 45.000 warga Nduga meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi karena takut dampak operasi keamanan Indonesia.

“Pemerintah pusat dan khususnya aparat keamanan harus mendengar aspirasi dari masyarakat lokal terkait krisis kemanusiaan ini,” kata Usman Hamid.

Warga meminta agar pasukan keamanan ditarik dari Nduga, karena mereka merasa ketakutan dengan kehadiran aparat bersenjata dalam jumlah besar.

“Jika tidak, mereka khawatir akan lebih banyak pengungsi yang meninggal karena kondisi tempat tinggal mereka sangat tidak layak , khususnya bagi mereka yang lari ke hutan.”

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS