Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Ngudi Tirto, Pejuang Air Dari Bukit Menoreh

Chandra Iswinarno | Erick Tanjung
Ngudi Tirto, Pejuang Air Dari Bukit Menoreh
Tangki berisi air bersih yang dikelola Kelompok Ngudi Tirto. [Suara.com/Erick Tanjung]

Kelompok Ngudi Tirto tidak mencari keuntungan dalam pengelolaan instalasi air bersih. Mereka suka rela berusaha agar semua warga mendapat air tanpa ada yang tersendat.

Suara.com - Awan bergelayut di langit, menandakan siang itu cerah. Arus air dari hulu tidak terlihat, kali hanya berisi bebatuan besar menandakan musim kemarau tahun ini lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Kekeringan melanda.

Terik matahari tidak menyurutkan semangat Poniran (65), Samin (68) dan Kamidi (52) untuk menggali sumur di tepi kali Dusun Kebonromo, Giripurwo, Girimulyo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hanya bermodal cangkul, betel dan palu, tiga laki-laki tua itu berpeluh menggali centimeter demi centimeter lubang berbahan dasar bebatuan cadas.

Sejak pagi mereka menggali secara bergantian. Tepat pukul 12.15 WIB, mereka istirahat untuk makan siang. Rantang berisi nasi dengan lauk tahu dan tempe sudah tersedia. Mereka makan dengan lahap. Seceret kopi lengkap dengan gelas plastik juga sudah tersedia untuk menemani aktivitas mereka.

Sudah sepekan, sumur yang digali baru mencapai kedalaman 0,5 meter. Butuh kedalaman empat meter untuk menggali sumur di tepi kali itu supaya muncul air. Meski begitu, mereka makin semangat karena di kedalaman 0,5 meter sudah mulai muncul air dari dinding-dinding sumur. Air yang muncul dari dinding sumur pun tampak jernih.

Setiap hari hingga sepekan terakhir, Mereka menggali dimulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 16.00 sore. Pekerjaan itu rutin dilakukan setiap hari. Butuh waktu satu bulan, bahkan lebih bagi mereka untuk membuat satu sumur yang menghasilkan air.

Berbeda dengan sumur pada umumnya yang bisa digali dengan mesin bor, sumur di pinggir kali kawasan bukit menoreh itu berbahan dasar bebatuan cadas. Mesin bor biasa tidak mampu untuk menggali di lahan batu cadas itu. Sumur yang tengah digali itu untuk melengkapi lima sumur yang sudah ada untuk diairi ke rumah-rumah warga setempat. Sebab di musim kemarau tahun ini, lima sumur yang sudah ada tidak bisa mencukupi kebutuhan air warga.

“Di sini debit airnya bagus, jernih, airnya tidak kuning,” kata Poniran sambil menunjuk air yang mengalir pelan dari dinding sumur itu kepada jurnalis Suara.com beberapa waktu lalu.

Ketiga lelaki tua itu pengurus Ngudi Tirto, kelompok warga pengelola air mandiri. Ngudi Tirto mengelola air secara mandiri untuk diairi ke rumah-rumah warga di kawasan bukit menoreh, Kebonromo dengan sambungan pipa. Air dari sumur di tampung pada enam tengki besar yang setiap tengki menampung 5.500 liter. Dari sumur yang berada di dekat kali dialiri ke tengki yang terletak di atas, kawasan bukit menggunakan teknologi mesin pompa air. Kemudian dari tangki itu dialiri ke rumah-rumah warga sebagai pelanggan melalui pipa.

Warga yang menjadi pelanggan kelompok Ngudi Tirto ada 115 kepala keluarga. Setiap rumah warga yang jadi pelanggan dipasang meteran untuk mengukur berapa kubik pemakaian airnya, seperti perusahaan PDAM.

Sumur yang digali itu melengkapi lima sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan warga yang tinggal di kawasan bukit Dusun Kebonromo. Bukit itu tampak gersang. Lantaran, lima sumur sebagai sumber mata air yang sudah ada tidak mencukupi kebutuhan seraturan kepala keluarga. Air semakin berkurang karena musim kemarau tahun ini yang panjang.

Ketua kelompok Ngudi Tirto ini menjelaskan, mesin pompa air dan peralatan untuk pengelolaan air dibeli dengan cara urunan anggota tanpa bantuan pemerintah. Anggota Ngudi Tirto 20 orang, mereka lah pemilik saham.

“Mesin pompa dan peralatan-peralatan lainnya kita beli sendiri dengan uang dari urunan anggota,” ujar dia.

***

Kamidi, Sekretaris Ngudi Tirto mengungkapkan, bukit menoreh di Dusun Kebonromo merupakan daerah tandus yang sulit air. Setiap tahun mengalami kekeringan, khususnya musim kemarau. Dahulu sebelum ada kelompok Ngudi Tirto, warga sekitar turun ke kali mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan mandi cuci kakus mereka lakukan di kali.

Khusus air minum dan kebutuhan masak, mereka mengambil air sumur di tepi kali. Karena dulu sumurnya cuma satu, mereka mengambil dengan jerigen secara bergantian. Lalu jerigen-jerigen berisi air itu mereka panggul dengan berjalan kaki ke rumah mereka di atas bukit sejauh dua kilometer melalui jalan setapak.

Atas keprihatinan itu, pada akhir 2010 Kamidi, Poniran bersama rekan-rekannya mendirikan kelompok pengelolaan air mandiri. Mereka membuat instalasi pengelolaan air bersih. Dibuatlah sumur dan membeli mesin pompa air bertenaga besar untuk disalurkan ke rumah-rumah warga melalui pipa.

Pembuatan instalasi pengelolaan air itu, mereka dibantu oleh pejuang air dari Gunungkidul, yaitu Damanhuri. Damanhuri telah lebih dahulu membuat instalasi pengelolaan air di sekitar tempat tinggalnya, Dusun Karangi, Desa Banyusuco, Kecamatan Playen.

Sebelumnya, Kamidi dan rekan-rekannya warga Dusun Kebonromo sudah berkali-kali mencoba meminta bantuan ke Dinas Perairan Daerah Istimewa Yogyakarta, namun hasilnya nihil. Mereka tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

Awal hendak pembentukan kelompok kelola air mandiri ada 150 warga yang datang. Damanhuri sebagai pejuang air memaparkan bagaimana cara membuat instalasi pengelolaan air serta sistem menyalurannya ke rumah-rumah warga.

Namun dari 150 warga yang hadir ketika itu hanya 20 orang yang berkomitmen. Hingga terbentuk kelompok Ngudi Tirto. Kemudian mereka membeli mesin pompa dengan urunan dari 20 anggota.

“Kami beli mesin pompa grundfos, ketika itu harganya Rp 35 juta. Kami urunan dari 20 anggota, masing-masing sekitar Rp 2,7 juta. Untuk pipanya kami dapat bantuan yang dicarikan oleh Pak Damanhuri,” ujar dia.

Setelah berjalan, mereka pun belakangan mendapat bantuan mesin tambahan dari pihak luar, seperti NGO dan yayasan. Kini mereka memiliki lima sumur sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Ketua Kelompok Ngudi Tirto Poniran. [Suara.com/Erick Tanjung]
Ketua Kelompok Ngudi Tirto Poniran. [Suara.com/Erick Tanjung]

Berawal dari penyaluran air kepada 20 anggota, kemudian dalam perjalanannya warga lain juga meminta untuk disalurkan. Kini yang disambungkan pipa untuk mendapatkan air terdapat 115 KK. Masing-masing KK ada 3-5 jiwa.

Sementara jika ada kerusakan mesin, atau saluran air ke rumah warga tersendat, dia dan pengurus kelompok Ngudi Tirto lah yang memperbaiki. Biaya perawatan mesin dan perbaikan dari kas Ngudi Tirto. Kas mereka diperoleh dari iuran warga pengguna air yang dipungut setiap bulan.

Biaya iuran warga disesuaikan dengan berapa kubik air yang mereka pakai sebulan. Setiap rumah warga yang dapat saluran air dari Ngudi Tirto dipasang meteran pengukur, seperti PAM. Warga yang boros pemakaian air akan terlihat dari meteran itu.

“Iuran bulanan warga hitungannya permeter kubik, siapa yang boros pakai air iketauan di meteran,” terangnya.

Satu rumah minimal menggunakan air dalam sebulan lima kubik, jumlah yang harus dibayar Rp 25 ribu ditambah biaya beban Rp 5 ribu. Namun rata-rata warga paling banyak menggunakan air sebulan 10 kubik, iuran yang harus mereka bayar jadi Rp 55 ribu kepada Ngudi Tirto.

Uang iuran warga sebagai pelanggan itu digunakan oleh Ngudi Tirto untuk biaya perawatan mesin jika terjadi kerusakan dan biaya listrik. Ngudi Tirto setiap bulan membayar tagihan listrik dari penggunaan pompa mesin rata-rata Rp 3 juta.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan jurnalis Suara.com di rumah warga, air dari saluran Ngudi Tirto jernih. Kamidi menambahkan, Ngudi Tirto juga bergabung dalam organisasi kesehatan. Setiap enam bulan sekali mereka melakukan uji kualitas air di laboratorium Dinas Kesehatan Yogyakarta.

“Setiap enam bulan kita uji kualitas air di lab, dan hasilnya rata-rata zat kapur dan zat besinya tidak ada. Air dalam aquarium ini (menunjukkan air dalam aquarium di rumahnya) sudah sebulan lebih tidak saya ganti dan tidak keruh sampai sekarang,” tutur dia.

Bapak dua anak ini mengatakan, kelompok Ngudi Tirto tidak mencari keuntungan dalam pengelolaan instalasi air bersih. Dengan suka rela, mereka terus berusaha agar semua warga mendapat air tanpa ada yang tersendat. Bila ada saluran air warga yang tidak lancar, maka ia dan rekannya pengurus kelompok yang turun tangan untuk memperbaiki.

“Yang penting bisa adil lah buat semua warga. Jadi tanggung jawab pengurus itu benar-benar untuk menyejahterakan masyarakat, bukan untuk kempentingan kelompok. Kelompok cuma pelaksana saja, kalau untuk mencari keuntungan nggak untung kelompok. Biaya perawatan cukup mahal,” tambah dia.

Sukadi (40), seorang warga yang memakai saluran air dari Ngudi Tirto. Ia juga anggota kelompok. Dia merasakan manfaat besar bagi keluarganya setelah mendapat saluran air dari Ngudi Tirto.

Sebelum ada Ngudi Tirto yang menyalurkan air ke rumahnya, dirinya bersama istrinya harus berjalan kaki turun ke kali sejauh 2 kilometer untuk mengambil air di sumur. Jika musim kemarau air kali kering, jadi harus antri dengan warga lainnya yang juga menimba air di sumur. Pagi buta, dia sudah harus berjalan kaki sambil menenteng jerigen menuju sumur sumber mata air.

Setelah jeriken terisi air penuh, ia panggul dan menapaki jalan setapak ke rumahnya di Bukit Menoreh.

“Dulu pukul 04.00 WIB kami sudah turun ke sumur dekat kali untuk mengambil air dan dimasukkan dalam jerigen. Kami ambil air untuk kebutuhan masak dan minum,” kata dia.

Bila tidak musim kemarau, ia dan keluarganya mandi dan cuci kakus di kali. Dahulu pagi-pagi buta anak-anak mereka juga harus turun ke kali untuk mandi. Setelah mandi kembali ke rumah ganti seragam, baru berangkat sekolah. Anaknya harus berjalan kaki dari rumah ke sekolah sejauh tiga kilometer.

Dahulu, ia harus bolak-balik mengangkut air pakai jeriken dari kali ke rumahnya. Sebab, selain untuk kebutuhan masak dan minum, ia juga punya ternak satu sapi dan dua kambing yang juga membutuhkan air.

“Kalau sekarang alhamdulillah air sudah lancar dan ada penampungan air dirumah,” ucap dia.

Hal senada juga diungkapkan Sri Sutarmini (36), rumahnya juga sudah dapat saluran air dari Ngudi Tirto. Selama ini tidak ada kendala, airnya lancar dan jernih. Ia senang, sudah tidak harus jauh-jauh lagi turun ke kali untuk mengambil air menggunakan jeriken.

“Sekarang sudah enak, air lancar. Dulu saya pukul 04.00 WIB sudah turun ke bawah mengambil air, soalnya antrinya banyak. Kalau kesiangan dikit bisa lama kita menunggu baru dapat air,” kata dia.

Aliran kali yang sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga mengalami kekeringan. [Suara.com/Erick Tanjung]
Aliran kali yang sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga mengalami kekeringan. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sementara itu, kata Poniran, untuk konservasi sumber air di Dusun Kebonromo, Kelompok Ngudi Tirto bersama-sama warga menggalakan gerakan menanam pohon yang menyimpan air di kawasan bukit menoreh dan di sekitar kali.

“Untuk menjaga ketersediaan air kami melakukan penanaman pohon dengan warga, diantaranya pohon beringin, pucung, aren dan lainnya,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo Ariadi mengatakan terdapat delapan kecamatan dan 30 desa yang mengalami kekeringan. Sehingga warga mengalami krisis air bersih.

Delapan kecamatan di Kulon Progo yang mengalami kesulitan air diantaranya, Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo dan Pengasih. Krisis air itu juga dirasakan oleh warga di kecamatan Panjatan, Lendah dan Sentolo.

Untuk menangani krisis air dalam jangka panjang, pemerintah daerah melalui BPBD Kulon Progo melakukan penanaman pohon yang menyimpan air dan membuat sumber mata air baru jaringan PDAM di Kali Progo. Sedangkan untuk jangka menengah, mereka membuat pengeboran sumur dalam.

“Untuk jangka pendek mengatasi krisis air ini kami melakukan dropping air bersih untuk warga. Sampai saat ini kami sudah mendropping air sebanyak 1.500 tengki dengan kapasitas per tangki 5.000 liter,” kata Ariadi.

Sementara itu, menurut Ariadi, belum ada dampak buruk bagi kesehatan warga yang mengalami krisis air di musim kemarau tahun ini. Sampai sekarang belum terlihat penyakit penyakit serius yang diidap oleh warga akibat kekurangan air bersih, misalnya diare, kolera, hepatitis, malaria dan sebagainya.

“Dampak bagi kesehatan warga di saat musim kekeringan ini belum ada, karena untuk air mandi, air minum dan untuk masuk masih tercukupi. Selain bantuan air yang didropping pemda, juga banyak partisipasi datang dari warga untuk memberikan bantuan mengatasi krisis air,” tutur dia.

***

Sekitar 50 kilometer ke timur, tepatnya Dusun Karangi, Desa Banyusuco, Playen, Gunungkidul telah lebih dahulu terbebas dari kekurangan air. Kampung ini sejak dahulunya memang kesulitan air. Sebelum 2005, warganya harus berjalan sejauh dua kilometer ke sungai untuk mengambil air dengan memikul jeriken-jeriken.

Damanhuri bersama rekan-rekannya yang prihatin berjuang untuk membuat instalasi air bersih. Ia bahkan terpaksa mengagunkan tiga BPKB sepeda motornya untuk meminjam uang ke Bank sebagai modal sebesar Rp24 juta. Ia bersama rekan-rekannya membentuk kelompok pengelola instalasi air mandiri bernama ‘Ngudi Ajining Tirto’. Dengan mengembangkan instalasi pengelolaan air, 400 kepala keluarga di Dusun Karangi itu kini tak lagi kekurangan air.

“Dulu awalnya sedikit, hanya 13 orang. Kini sudah hampir semua rumah di Dusun saya sudah memakai sambungan air dari kelompok,” kata Damanhuri.

Pengalamannya mengembangkan instalasi pengelolaan air bersih itu, kini banyak pihak yang terinspirasi dan meminta bantuannya untuk membangun instalasi pengelolaan air tersebut. Ia bahkan sering diundang oleh perguruan tinggi dan pemerentah daerah untuk mengembangkan instalasi air bersih di berbagai daerah lain.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS