Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Mario Pewaris Sah Tanah Sihaporas! Balita di Pusaran Konflik Agraria

Tim Liputan Khusus | Tim Liputan Khusus
Mario Pewaris Sah Tanah Sihaporas! Balita di Pusaran Konflik Agraria
Mario Teguh Ambarita, balita berusia 3 tahun saat terkulai lemas dalam gendongan ayahnya, Marudut Ambarita, di Simalungun, Sumatera Utara, Senin 16 September 2019. Mario lemas diduga turut dianiaya orang PT TPL. [dokumentasi. Lamtoras]

Kami kini berharap Presiden Jokowi dan Menteri LHK bisa mengembalikan tanah adat. Itu agar tetap bisa dilestarikan. Sebab selama ini, alamnya tercemar, kata Mangitua.

Suara.com - “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, aku gembira, menanam jagung di kebun kita”—keriangan yang  tersirat pada lirik lagu anak-anak karya Ibu Sud itu, tak bisa dirasakan oleh balita bernama Mario. Dia justru diduga dianiaya saat menanam jagung di tanah moyangnya sendiri.

HARI masih pagi ketika Mario bersama ayah, ibu, dan puluhan orang Nagori (Desa) Sihaporas bergegas ke hutan di Buttu Pangaturan, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin 16 September 2019.

Ada 2.049 hektare lahan di hutan yang secara turun temurun diklaim menjadi tanah adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas.

Namun, semuanya berubah tatkala lahan itu diklaim masuk kawasan hutan tanaman industri milik PT Toba Pulp Lestari Tbk. Perusahaan itu bergerak dalam bidang industri pembuatan bubur kayu berorientasi ekspor.

Mario Teguh Ambarita dan rombongan tiba di ladang sekitar pukul 08.15 WIB. Menanam jagung adalah bentuk protes warga terhadap PT TPL yang mengklaim lahan tersebut.

Sudah lama mereka berjuang agar lahan itu dikembalikan kepada lembaga adat Lamtoras untuk dilestarikan.

Tiga jam kemudian, sekitar pukul 11.30 WIB, ketenangan mereka menanam jagung mulai terusik. Sekelompok orang di bawah komando Bahara Sibuea—Bagian Humas Sektor Aek nauli PT TPL—datang ke ladang. Mereka meminta warga pergi.

"Ini tanah adat kami. Jadi kami berhak menanam jagung di sini," jawab warga. "Sejak zaman dulu ini lahan ompu kami. Apa hak kalian mengusir kami?"

Warga Adat Lamtoras berkukuh, tak sejengkal pun beranjak pergi. Bagi mereka, diusir dari tanah nenek moyang adalah penghinaan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS