Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Dinafkahi Kematian, Warita Pembuat Peti Mati di Tengah Wabah Corona

Reza Gunadha | Yosea Arga Pramudita
Dinafkahi Kematian, Warita Pembuat Peti Mati di Tengah Wabah Corona
Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).

Pagi, seperti sebuah epidemi waktu. Aku ingin mengulangi pagi kemarin. Matahari sama, petugas kebersihan kota sama, penjual kopi di warung kopi sama.

Suara.com - Tumpukan peti jenazah di sudut kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Jakarta Timur bisa dibaca sebagai makna yang berbeda. Bagi pemesan berarti duka. Bagi pembuat: kehidupan.

MENJELANG pukul 12.00 WIB, Suherman sedang mengecat peti jenazah. Dia sapu seluruh sudut peti jenazah menggunakan kuas yang dicelupkan pada cat berwarna cokelat. Setelah dikeringkan kurang lebih 10 menit, lelaki 45 tahun memolesnya memakai pernis.

Pada satu sisi, selama pandemi Covid-19 berlangsung, kematian rasanya begitu tergesa-gesa. Begitu menyentak. Kematian menjelma sebagai tamu tak diundang—bersama angin di halaman rumah.

Merujuk pada data pemerintah hari Kamis (7/5/2020), total pasien yang meninggal akibat virus corona mencapai 930 orang. Namun kematian justru memberi penghidupan bagi sejumlah orang, salah satunya Suherman.

Selama dua pekan ke belakang, Suherman (45) bekerja lebih keras. Punggawa Yayasan Sahabat Duka yang berbasis di TPU Pondok Kelapa itu bisa mengerjakan 10 sampai 15 peti.

Terlebih, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kerap memesan peti jenazah dalam skala besar di Yayasan Sahabat Duka.

Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).
Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).

Selesai memoleskan pernis di seluruh bagian peti, Ikhram (35) sang empu usaha menghampiri Suherman.

Dia membawa dua stiker bergambar suasana perjamuan kudus Yesus bersama 12 muridnya. Tandanya, baru saja ada salah satu umat Nasrani yang baru meninggal dunia.

Stiker bergambar tersebut lantas ditempel pada bagian kanan dan kiri. Sementara, lambang salib ditempel pada penutup peti.

Peti tersebut kemudian dinaikkan ke mobil ambulans milik Siskommas Pulo Gadung. Setelah peti rampung dikemas, ambulans itu lalu berjalan meninggalkan lokasi.

Perjamuan Kudus

RUMAH Suherman hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari kantor Yayasan Sahabat Duka. Masih di sekitar kompleks TPU Pondok Kelapa. Dia meminta saya menunggu di teras rumahnya.

Suherman masuk ke dalam rumah meninggalkan saya di teras. Suherman memanfaatkan sebagian teras rumahnya untuk membuka usaha. Bersama istrinya, dia membuka warung kecil-kecilan.

"Tunggu ya, lagi makan dulu," ujar sang istri.

Selang lima menit, Suherman menghampiri saya di teras. Pakaian yang dia kenakan masih sama: kaos oblong berwarna merah dan celana pendek—terlihat cipratan cat berpencar di beberapa bagian kaos dan celananya.

"Peti tadi dipesan untuk orang meninggal biasa. Bukan karena corona," Suherman membuka obrolan.

Suherman menyebut, permintaan paling banyak terjadi pada pekan lalu. Dalam sehari, dia dan dua rekannya bisa menggarap sebanyak 15 peti jenazah.

"Kemarin-kemarin meningkat jumlah permintaan peti, yang pesan banyak. Cuma, agak ke sini agak dikit. Pekan lalu banyak, sampai 15 peti sehari," tambahnya.

Peti jenazah yang dibikin Suherman memunyai banyak jenis. Harganya juga beragam, menyesuaikan tingkat kesulitan pembuatannya. Suherman menunjuk salah satu peti yang tertumpuk di bawah terpal.

Saat diamati, ternyata ada ukiran berbentuk Yesus beserta 12 muridnya yang sedang khusuk dalam perjamuan kudus.

"Itu, yang pakai ukiran, kisaran harganya empat jutaan lah. Ada juga yang biasa. Mulai dari satu juta sampai empat juta," beber Suherman.

Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).
Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).

Pihak-pihak yang memesan peti jenazah di Yayasan Sahabat Duka berasal dari sejumlah daerah. Mulai dari Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Tangerang hingga Bogor.

Suherman menyebut jika kawannya ada yang sedang mengirim peti menuju Padang menggunakan mobil.

"Kemarin teman juga ada yang buatkan peti buat di Padang dan Madura. Di kirim ke sana, belum pada pulang. Naik mobil dari sini sampai Padang," ujarnya.

Peti jenazah pasien corona

BAHAN baku paling utama dari pembuatan peti jenazah adalah kayu. Suherman dan rekan-rekannya biasa menggunakan kayu pohon sengon, kayu pohon jati, dan lainnya.

"Campuran, ada yang pakai kayu duren, sengon, jati, pokoknya kayu-kayu dari pohon yang berasal dari hutan," kata dia.

Selain itu, ada bahan lain yang digunakan untuk memperindah peti. Kain putih beserta stapler tembak, kuas beserta cat, dan alumunium foil—khusus benda ini, dipakai sebagai pelengkap peti khusus jenazah covid-19.

"Biasanya kalau yang meninggal karena corona kemasannya pakai plastik lagi terus ada alumunium foil. Kalau yang biasa enggak pakai," beber dia.

Suherman menambahkan, besar peti disesuakan dengan tubuh jenazah. Standarnya, lebar mencapai 65 cm dan panjangnya mencapai dua meter.

"Peti kami sesuaikan dengan tubuh jenazah. Kalo standarnya 65 cm panjangnya 2 meter. Ada juga yang lebarnya 75 cm, yang semeter juga ada kok," sambungnya.

***

SOAL omzet dalam sehari yang bisa diraup oleh Yayasan Sahabat Duka, tentunya meningkat.

Tapi, Suherman tidak mengetahui secara detil berapa jumlahnya. Soal omzet, menjadi urusan sang empu usaha. Suherman hanya sebatas membikin peti jenazah.

"Pasti, adanya pandemi ya meningkat. Tapi kalo sekarang ya gak tau juga berapa besar omzetnya," ujar dia sambil membakar batang rokok kedua.

Pandemi Covid-19 menghadirkan kenyataan baru bagi awak Yayasan Sahabat Duka, tak terkecuali Suherman.

Sebelum virus corona melanda, Yayasan Sahabat Duka hanya menerima order sebanyak empat sampai lima peti dalam sehari.

Saat virus melanda—dan bekerja secara masif—tingkat kematian kian bertambah. Permintaan akan peti jenazah juga bertambah. Jam kerja Suherman juga bertambah. Dan yang paling penting: pemasukan uang ke kantong celananya juga bertambah.

Suherman (45), punggawa Yayasan Sahabat Duka yang berbasis di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Sejak pandemi Covid-19 menelan banyak nyawa, peti jenazah menjadi penanda: ada yang bersedih, ada yang meraup untung.
Suherman (45), punggawa Yayasan Sahabat Duka yang berbasis di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Sejak pandemi Covid-19 menelan banyak nyawa, peti jenazah menjadi penanda: ada yang bersedih, ada yang meraup untung.

Sebagai pekerja, Suherman dibayar harian. Dia bisa mendapat upah sebanyak Rp. 200 ribu dan tambahan intensif Rp 50 ribu.

Jika semakin banyak pesanan yang masuk, jumlah uang yang masuk ke saku celananya pasti juga akan bertambah.

"Upah saya harian. Tak menentulah, tergantung ada orderan. Kalau ramai ya lumayan. Kalau sepi ya biasa, ya cukup lah buat makan sehari he-he," tutur Suherman.

Suherman bertutur, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga pernah memesan peti dalam jumlah yang banyak. Jumlahnya berkisar 15 sampai 30 peti jenazah dengan tenggang waktu dua pekan pengerjaan.

Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).
Yayasan Sahabat Duka, pengrajin peti mati di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga).

Setelah peti pesanan rampung, maka akan segera dikirim menuju kantor Dinas Pertamanan dan Pemakaman yang berlokasi di Jalan K.S. Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat.

Jika pesanan dalam jumlah banyak, maka Suherman dan rekan hanya membuat peti dalam bentuk standar.

"Pemprov DKI kadang ambil di sini juga sih. Pernah minta 15 sampai 30 peti. Misalnya mereka pesan 100, ya kami kirim mentahnya saja. Model peti kotak doang, jadi mereka yang pasang kain sendiri," jelasnya.

***

Suherman mengakui, ada berkah yang bisa diambil dari pandemi ini. Pemasukannya makin bertambah. Tempat kerjanya setiap hari pasti menerima pesanan. Pada satu sisi, dia juga berharap pandemi Covid-19 segera berlalu.

"Berkah pasti ada, tapi masak mau kayak begini terus. Mudah-mudahan virus cepat selesailah," harapnya.

Saya pinjam sepotong sajak Epidemi Lelaki Mati karya Afrizal Malna:

Pagi, seperti sebuah epidemi waktu. Aku ingin

mengulangi pagi kemarin. Matahari sama,

petugas kebersihan kota sama, penjual kopi di

warung kopi sama.

Kematian memberi penghidupan bagi sejumlah orang, termasuk Suherman. Baginya, pesanan peti yang datang sebagai tanda laba. Peti yang rampung digarap lalu dikirim sebagai tanda duka.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS