Hendrik Daandel, Kiprah Putra Siau Lepasan Stovil 1932

Hendrik Daandel, Kiprah Putra Siau Lepasan Stovil 1932

Hendrik Daandel, adalah sedikit dari putra Siau yang terpelajar di zamannya. Sukses tokoh kelahir Kanawong Ondong, Siau 3 Maret 1905 ini mengingatkan kita pada ucapan pianis termasyur Paderewski saat menjawab Ratu Victoria: “Sebelum menjadi orang jenius, aku harus membanting tulang.”

Sebelum ke STOVIL, Hendrik Daandel mengenyam pendidikan di SD Ulu II di Tatahadeng 1921, lulus jadi guru (Ijazah Kweekling) menjadi guru di SD Lehi. Setelah ia masuk Kweekschool Kaluwatu Sangihe 1925-1928 (berijazah) menjadi kandidat Kepala Sekolah Batuwulang Ondong Siau 1928-1929 dan dari sini baru ke Stovil.

Tahun 1932 ia lulus sekolah Theologia STOVIL dan ditempatkan di jemaat Likupang sampai dengan tahun 1935. Kemudian di jemaat GMIM Serey selama 8 tahun yaitu pada 1935 sampai 1943.

Pada zaman pendudukan Jepang, ia diberangkatkan ke Gorontalo sebagai misi GMIM. Di sana bertugas selama 6 tahun dari tahun 1943 sampai 1949.

Baru kembali ke Manado dan ditempatkan di Jemaat GMIM Maumbi antara tahun 1949 sampai 1951. Dari Maumbi terhitung malai tanggal 1 Maret 1951 di tempatkan di Jemaat GMIM Bethanie Singkil dan sekaligus selain sebagai Ketua Jemaat juga Kepala Paroki Singkil Sindulang dan dilajutkan sebagai Ketua BP Wilayah Manado Utara.

Ditempatkan BPS GMIM sebagai Ketua Jemaat Singkil Sindulang sekaligus Kapala Paroki Singkil pada 1 Maret 1951. Dimasa kepemimpinannya, ia sempat menjabat Ketua Badan Pekerja Wilayah Manado Utara masa transisi dari peralihan istilah Paroki ke Wilayah. Bertugas hingga 15 November 1973.

Kepala Paroki Keempat ini dikenal sebagai pribadi yang setia dalam mengemban tugas pelayanan dan pendidikan kepada jemaat. Sebuah kombinasi antara kerja keras, ketekunan, dan disiplin.

Pergulatan Daandel di kurun pelayanannya mencitrakan sebuah impresi keidealan yang dituntut dari seorang pemimpin kristiani. Sebuah kerja keras yang tak dapat ditawar-tawar untuk mewujudkan hal-hal nyata dalam pelayanannya.

Di aras Paroki Singkil Sindulang dari tahun 1951-1973 jelas terlihat patahan-patahan kepelikan yang dihadapi Pendeta Daandel. Ketegasan dan sikap disiplinnya terkadang dinilai sebagai sikap pribadi yang feodal ke belanda-belandaan.

Ketegasan dan disiplin itu pun menjadi sebab suatu peristiwa ironis yang terjadi di Jemaat Torsina Tumumpa yang membuahkan perpecahan menuju eksodusnya 3 orang Majelis beserta anggota jemaat kolom yang mereka pimpin untuk mendirikan gereja sendiri yakni Gereja Masehi Protestan Umum (GMPU), tulis Sem Narande dalam “Vadula Paskah”.

 

 

Terkini

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS