Prostitusi Kalibata City, ECPAT: Pelaku Sengaja Rusak Pikiran Anak

Prostitusi Kalibata City, ECPAT: Pelaku Sengaja Rusak Pikiran Anak

Kriminologi.id - Praktik prostitusi anak di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, dinilai bukan hal baru dalam dunia eksploitasi komersial seksual anak. Para pelaku sengaja merusak pikiran anak yang akhirnya mereka tersebut menerima situasi tersebut.

End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children For Sexual Purposes (ECPAT) yang bergerak dalam penghentian eksploitasi seksual komersial anak (ESKA), memandang para pelaku eksploitasi komersial sengaja membuat pola pikir anak berubah.

Prostitusi di Kalibata City Libatkan Karyawan Toko Pemilik Kartu Akses Sindikat Prostitusi ABG di Kalibata City Kerap Berpindah Apartemen Istilah 'Open BO' dalam Prostitusi ABG di Kalibata City

“Ini bedanya, eksploitasi komersil itu ada sesuatu yang didapat si anak. Pada suatu waktu si anak terancam, tapi jika anak nggak mau kooperatif dia akan dihukum mendapat siksaan, perlakuan yang nggak pantas. Tapi kalo dia mau nurut dia bisa dapet uang, dapet kebebasan,” ujar Andy Ardian, program manager ECPAT Indonesia, kepada Kriminologi.id melalui sambungan telepon, Jumat, 10 Agustus 2018.

Menurut Andi, hal tersebut yang akhirnya itu membuat pola pikir anak berubah dan mereka menerima diri dengan situasi itu. Pada akhirnya anak akan mempersepsikan bahwa hal itu dianggap dunia yang lebih baik.

Seain itu menurut Andi, ada pula anak-anak yang memang sejak awal sudah mengetahui bahwa praktik tersebut akan beresiko, namun mereka tidak memahami sedang berada dalam situasi tersebut, seperti rentan akan kekerasan seksual.

“Ada kebutuhan ekonomi, gaya hidup dan mungkin ingin mendapat pengakuan dari teman-teman sebaya, sehingga mereka masuk ke dunia tersebut,” kata Andi.

Namun Andi menegaskan bahwa dari semua kondisi tersebut anak-anak tetap sebagai korban, karena mereka dikondisikan masuk ke situasi tersebut.

“Kalo anak-anak diajak jalan dikasih uang, akhirnya pelaku meminta melayani anak untuk diberi lebih bayak lagi. Situasi itu dipakai oleh pelaku,” kata Andi.

Sementara itu hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. Menurutnya kasus tersebut hanya mengulang beberapa tahun lalu dan selalu berpindah-pindah lokasi.

“Kasusnya juga terjadi di Kalibata Mall, yang sebelumhya terjadi di rumah kos, rumah kos ditangani mereka pindah ke mal, lalu mereka pindah ke apartemen,” kata Arist melalui sambungan telepon.

Menurutnya penanganan eksplotasi seksual tersebut jangan hanya berhenti di pengungkapan kasus, namun juga harus ditangani secara komprehensif.

“Saya kira mengulang kasus prostitusi online yang ditangani itu tidak ditangani secara baik. Saya juga mengapresiasi, tapi jangan berhenti mengangkap mucikari, besok lagi terjadi di Kalibata Mall. Ini adalah langkah terakhir untuk menghentikan kasus-kasus eksploitasi yang melibatkan anak. melalui pendekatan media online anak menjadi korban melalui aplikasi,” ujar Arist.

Komentar

Terkini

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS