11 Februari 1899: Peluru Mengakhiri Siasat Jitu Teuku Umar

11 Februari 1899: Peluru Mengakhiri Siasat Jitu Teuku Umar

Menjelang pagi tanggal 11 Februari 1899, tepat hari ini 120 tahun lalu, kabar duka itu membuat Cut Nyak Dhien tercenung. Suaminya, Teuku Umar, gugur dalam pertempuran mendadak melawan pasukan Belanda di pinggiran Meulaboh. 

Cut Nyak Dhien tentu saja amat berduka, namun ia menolak larut dalam kesedihan. Ia pernah mengalami situasi serupa di masa lalu saat meratapi kematian suami sebelumnya, Ibrahim Lamnga, yang juga tewas di tangan penjajah, pada 29 Juni 1878. 

Kali ini, Cut Nyak Dhien tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menangisi orang yang sudah tiada. Ia tak mau pengorbanan Teuku Umar sia-sia. Cut Nyak Dhien bertekad melanjutkan perjuangan suaminya sampai tetes darah terakhir. 

M.H. Szekely-Lulofs dalam Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh (1948) menuliskan fragmen ini dengan amat menyentuh. Sambil memeluk Cut Gambang, anak satu-satunya dari Teuku Umar yang mulai menangisi kepergian sang ayah, Cut Nyak Dhien berucap dengan suara gemetar:


Terkini

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS