Bupati Penajam Paser Utara: Akan Jadi Tinta Emas Pak Jokowi untuk Indonesia

Arsito Hidayatullah
Bupati Penajam Paser Utara: Akan Jadi Tinta Emas Pak Jokowi untuk Indonesia
Ilustrasi wawancara Bupati Penajam Paser Utara, Abdul Gafur Mas'ud. [Suara.com / Putu Ayu Palupi]

Abdul Gafur Mas'ud menilai bahwa ibu kota baru itu kelak tidak saja akan berdampak positif bagi Penajam Paser Utara, tapi bagi seluruh bangsa.

Bagaimana dengan kesiapan desa-desa atau kelurahan yang ada di Penajam Paser Utara? Kondisinya saat ini bagaimana, dan bagaimana bayangan ke depannya?

Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki gabungan 54 kelurahan dan desa. Itu (kami) mempunyai program percepatan pembangunan dari desa ke kelurahan, dari kelurahan ke kecamatan, kecamatan ke kabupaten, yang ini tentunya juga sama dengan Nawa Cita Bapak Presiden Republik Indonesia membangun dari daerah untuk Indonesia.

Dan ini setelah ditetapkan (wilayah ibu kota berada) di Penajam Paser Utara, untuk dampak-dampak dari pembangunan tersebut apakah (akan) ada naik dari desa ke kelurahan (statusnya), tentunya kita akan melihat situasi dan kondisi yang akan datang. Tentunya juga kalau misalnya apa ada pendatang yang datang nanti, ya, itu ASN yang kita dengar cukup banyak, ada berjuta-juta, saya rasa Kabupaten Penajam Paser Utara bisa menampung semua, karena luasnya 4 kali lebih besar dari Jakarta.

Anda kelihatannya sangat optimistis dan antusias soal ini. Yakin, ini akan benar-benar terlaksana dan menjadi keputusan penting bagi bangsa?

Saya yakin ini bisa dibuat oleh pemerintah, yang akan menjadi sumbangan kepada bangsa kita, menjadi tinta emas Bapak Jokowi untuk Indonesia. Ini merupakan peradaban baru untuk poros maritim dunia, karena posisi Indonesia berada di tengah-tengah, dan slogan "nenek moyangku seorang pelaut" tidak bisa terpisahkan dari bangsa kita.

Lantas, sekarang bagaimana? Apa langkah-langkah maupun kebijakan yang akan Anda siapkan, atau mungkin sudah dijalankan?

Instruksi khusus, kita harus menunggu dan sami'na wa atho'na (mendengar dan taat). Saya tidak pernah pesimis dengan kedatangan orang-orang luar dari kabupaten kami. Saya juga merasa seluruh orang yang datang dengan KTP Republik Indonesia adalah saudara saya. Kemudian kita mengetahui, (secara) hukum ekonomi adalah di mana manusia banyak, di situ perekonomian akan pesat. Maksudnya, di mana orang banyak, di mana penduduk terbanyak, maka perekonomian itu akan meningkat.

Salah satu fasilitas infrastruktur jembatan di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. [ppid.penajamkab.go.id/captured]
Salah satu fasilitas infrastruktur jembatan di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. [ppid.penajamkab.go.id/captured]

Sebelum diisi (dilakukan) pemindahan ibu kota Republik Indonesia ini ke Penajam Paser Utara, kami sudah membuat dan mengundang investor-investor untuk masuk. Mengapa? Karena kami yakin dengan banyaknya orang yang masuk, apakah itu wisatawan, apakah itu pendidik yang akan berinvestasi di Penajam Paser Utara, itu akan meningkatkan pendidikan, meningkatkan perekonomian. Dan alhamdulillah, Tuhan berkata lain, kita ditakdirkan untuk ditetapkan menjadi ibu kota Pemerintahan Republik Indonesia. Ini kami sambut dengan antusias.

Komentar soal lahan cukup luas di kawasan calon lokasi ibu kota baru itu yang infonya dipegang Hashim/Prabowo?

Soal lahan tersebut, (itu) adalah lahan yang dikuasai Amerika, kemudian diambil oleh Pak Hashim (Djojohadikusumo) saudaranya Pak Prabowo Subianto yang kebetulan kemarin adalah Calon Presiden juga. Tapi mereka berdua adalah anak bangsa. Kalau saya sih sependapat aja kalau Pak Hashim yang mengambil, daripada lahan sekitar 50 ribuan (hektare) dan itu juga sampai berapa ribu, jadi bukan (milik) perorangan. Kan ada banyak sekali HGU.

Kesimpulannya, sekali lagi, jadi Anda memandang rencana pemindahan ibu kota ini, khususnya ke wilayah Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur, sebagai sesuatu yang positif?

Jadi, pemindahan ibu kota pemerintahan RI ini ke Penajam Paser Utara, itu sangat meminimumkan anggaran negara. Para investor (mungkin sejauh ini) tidak mengetahui peraturan perundang-undangan yang ditetapkan pada negara. Karena ini bukan pemindahan ibu kota provinsi, tetapi ini adalah lambang negara, di mana negara ingin membangun peradaban, suatu struktur yang baik. (Bagi) Saya, pada saat ibu kota pindah ke Kalimantan Timur, (daerah) Kalimantan Timur yang (akan berkembang) pertama memang, tetapi Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, Sumatera, juga akan ikut terbangun.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS