Ada Apa Dengan Pendidikan?

Siswanto
Ada Apa Dengan Pendidikan?
Ilustrasi buku (Shutterstocks)

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan.

Suara.com - Indonesia termasuk negara yang mempunyai tingkat kelahiran yang tinggi dimana generasi muda adalah harapan kita untuk mengembangkan negara ini dan harus generasi yang tidak lain adalah tinggi akan ilmu pendidikan. Dengan perkembangan yang pesat terutama di Era Globalisasi telah merambah masuk di semua sektor kehidupan bangsa Indonesia, yang pada akhirnya berdampak terhadap cara berfikir masyarakat Indonesia.

Pada saat ini pola berfikir masyarakat Indonesia (tidak seluruhnya) sudah banyak mengarah pada budaya-budaya barat yang notabane cenderung mencontoh pada perilaku yang negatif. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara didapatkan.

Dengan pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami perbaikan dengan adanya para penerus generasi bangsa yang mumpuni dalam berbagai ilmu. Disinilah pendidikan sangat dibutuhkan untuk seluruh negara khususnya Indonesia, dan pendidikan adalah suatu hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap manusia. Dari pendidikan seseorang akan belajar menjadi seorang yang berkarakter dan mempunyai ilmu pendidikan dan sosial yang tinggi.

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Sujarwo,%20S.Pd.,%20Jas.M.Or/PENDIDIKAN%20DI%20INDONESIA.pdf)

Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). https://books.google.co.id/books?isbn=9794618977

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif.

Kurangnya adalah kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Sehingga para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan terbatas. Masalah mendasar pendidikan di Indonesia adalah ketidakseimbangan antara belajar yang berfikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Belajar bukan hanya berfikir tapi melakukan berbagai macam kegiatan seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya.

Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu :

Rendahnya kualitas sarana fisik, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan yang tersedia pun tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih terdapat diberbagai kota atau desa sekolah yang tidak memiliki gedung atau tempat sendiri bahkan tidak layak, tidak memiliki perpustakaan dan tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Rendahnya kualitas guru, kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalan tugasnya sebagaimana disebut dalam Pasal 39 UU Nomor 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelejaran, melakukan penilitian dan melakukan pengabdian masyakarat. Memang secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini pada umumnya masih terbilang rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya secara optimal, disebabkan juga karena pemerintah yang masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalisme. Dengan kondisi dan situasi seperti ini, diharapkan yang berlangsung di sekolah harus secara seimbang dapat mencerdaskan kehidupan anak dan harus menanamkan budi pekerti kepada anak didik.

Rendahnya kesejahteraan guru, dengan pendapatan mereka yang terbilang rendah banyak guru yang mempunyai pekerjaan sampingan. . Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Terdapat di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya.
Rendahnya prestasi siswa, pencapaian prestasi siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains, menurut Trends in Mathematic and Science Study pada tahun 2003. https://books.google.co.id/books?id=fjG6BQAAQBAJ

Disebabkan pada waktu itu anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan da ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan pnelaran. Karena bisa saja terlalu dibiasakan menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda. Ada beberapa individu yang mampu mendapat beberapa prestasi yang tujuannya untuk dapat mengharumkan nama Indonesia. Tapi tetap saja masalah kualitas dilihat secara keselurahannya bukan hanya dari 1 individu karena Indonesia mempunyai tingkat kelahiran yang tinggi yang harus diberikan pendidikan yang baik.

Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas khususnya pada tingkat Sekolah Dasar. Padahal layanan pendidikan atau pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Maka dari itu diperlukan kebijakan dan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. https://www.coursehero.com/file/p6m9ov8/Pencapaian-APM-ini-termasuk-kategori-nggi-Angka-Parsipasi-Murni-Pendidikan-di/

Mahalnya biaya pendidikan, pendidikan bermutu itu mahal, biaya pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilhan lain kecuali tidak bersekolah. Pendidikan bermutu harus mahal dijadikan sebagai alasan, maka kalimat itu atau argument itu hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun dalam biaya pendidikannya yang rendah.

Bahkan beberapa negara pun ada yang menggratiskan biaya pendidikan. Memang pendidikan berkualitas tidak mungkin murah tepatnya tidak harus murah atau gratis, tapi persoalannya adalah siapa yang seharusnya membayarnya, pemerintah seharusnya yang dapat kewajiban untuk membayar atau menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Tetapi, kenyataannya pemerintah masih belum melakukan kewajiban tersebut, justru ingin berkilah dari tanggung jawab.

Ada beberapa dampak dari luar yang dapat mempengaruhi pendidikan yaitu politik, ekonomi, sosial, teknologi, hokum dan lingkungan.

Politik juga bisa memberikan dampak negative terhadap pendidikan dimana pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan seperti memberikan dana sekolah gratis tetapi dana tersebut tidak sampai ke tangan yang mempunyai hak untuk melanjuti tingkat pendidikannya, yang dimaksud bisa saja dikarenakan karena dana yang susah cair atau terjadinya suatu korupsi. Ekonomi, dimana masih beredar buku-buku sekolah atau buku untuk mahasiswa yang harganya mahal, dari situ bisa mempersulit bagi orang yang kurang mampu. Kurang meratanya beasiswa di sejumlah daerah di Indonesia yang padahal masih banyak daerah-daerah terpencil yang sangat membutuhkannya.

Sosial, kurang kesadaran di setiap manusia tentang pentingnya pendidikan, karena rasa sosial yang masih kurang terhadap orang-orang yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya. Masih banyak pula yang mengesampingkan pendidikan, padahal kita semua tahu pendidikan itu penting. Dan masyarakat yang bisa dikatakan orang berada yang mampu untuk membantu , tetapi hati nya kurang tergerak untuk membangun suatu sekolah sosial yang di peruntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu, anak jalanan atau semacamnya karena rasa sosial yang kurang.

Teknologi, dengan perkembengan yang pesat menuntut kita untuk lebih aktif didalam mengikuti perkembangan. Dalam dunia pendidikan teknologi sudah sangat mempunyai dampak yang begitu positif karena mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Karena sudah terdapat E-book dan E-learning memudahkan kita untuk belajar.

Hukum, penegakan suatu aturan karena masih banyak kekerasan di lingkungan sekolah, atau sekarang keluarnya berita tentang bullying di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Beberapa buku yang diterbitkan yang ditarget kan untuk anak sekolahan yang didalam nya ada unsur seksual. Seorang guru yang seharusnya menjadi panutan bagi para didikannya tetapi kita masih menemukan berita tentang kekerasan yang diberikan seorang guru terhadap anak sekolah.

Lingkungan, seperti lingkungan yang berkarakter sangatlah penting bagi perkembangan individu yang mendukung cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian, tanggung jawab, kejujuran, hormat dan sopan santun sangatlah penting didalam dunia pendidikan. Dan keluarga adalah institusi pertama tempat anak memabangun karakternya.

Kesimpulan dari pandangan dunia untuk pendidikan Indonesia ini masih jauh dari kata layak. Di segala segi faktor yang dibahas masih banyak masalah yang harus ditangani. Akibatnya kualitas pendidikan sulit sekali ditingkatkan. Pemerintah seakan lamban dalam menangani masalah tersebut dan hanya mengejar output yang baik dan sempurna tanpa melihat prosesnya. Sistem Ujian Nasional yang kini telah dihapuskan menjadi bukti dari kondisi ini. Akibatnya siswa yang dihasilkan hanya mementingkan hasil akhir tanpa melihat prosesnya. Meskipun mereka melakukan dengan cara yang tidak baik, asalkan hasilnya memuaskan akan membuat mereka bangga. Inilah yang menjadi momok besar dunia pendidikan Indonesia ke depannya. jika teus begini kondisinya, Indonesia akan memiliki generasi penerus bangsa yang tidak kompeten di bidangnya. Mereka bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh karena itu kita perlu membangun kembali pondasi pola berfikir kita meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, masyarakat sekitar pun harus turut mendukung. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara kita mengetahui terlebih dahulu apa pentingnya, dan mempunyai kesadaran yang tinggi dan turut berpatisipasi dalam meningkatkan pendidikan. Generasi muda tugasnya berat karena harus menjadi penerus bangsa yang beradab. Beberapa faktor dan informasi pun telah dibahas dimana kita mengetahui kenapa kualitas pendidikan di Indonesia dikatakan lemah atau rendah dan para masyarakat pun baik itu orang tua, anak-anak, akan lebih mengutamakan pendidikan.

Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan di Indonesia. Dan menjadikan masyarakat Indonesia mempunyai kualitas pendidikan yang baik, dan meningkatkan lagi kualitas pendidikan di Indonesia.

Penulis: Tesha Putri Amanda, mahasiswi The London School of Public Relations, Jakarta

Yoursay adalah tulisan, foto atau video karya warganet.
Isi tanggungjawab penulis.

Kirim karya anda ke email yoursay@suara.com

loading...
loading...

Berita Pilihan

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS