Tangis Tukang Ojek Online dapat Tergadaikan

Diah Ayu Lestari
Tangis Tukang Ojek Online dapat Tergadaikan
Ilustrasi ojek online (shutterstock)

Andai ojol itu bapak saya. Sungguh uang anda sebanyak apapun itu tidak bisa membeli air mata bapak saya.-Boycandra.

Suara.com - Siapa yang tidak mengenal ojek online atau yang biasa kita kenal dengan ojol?. Ojol sudah jadi pioneer dari populernya transportasi di Indonesia. Pekerjaan sederhana yang banyak digandrungi oleh berbagai kalangan, baik orang tua, remaja, bahkan ibu-ibu sekalipun ikut menggeluti profesi ini. Tak jarang kita juga melihat pemuda dari kalangan mahasiswa yang menjadi tukang ojol untuk mengisi waktu luang dan menambah uang saku mereka.

Pekerjaan sebagai seorang tukang ojek saat ini  tidak lagi menjadi hal yang tabu dikalangan masyarakat dengan adanya pemanfaatan dari kemajuan teknologi. Hanya perlu duduk diam dan menunggu orderan dari layar smartphone masing-masing mereka dapat menjangkau kawasan yang lebih luas untuk mengantarkan para penumpang maupun paket ke tempat tujuan.

Terjadi persaingan ketat antar perusahaan ojek online yang ada di Indonesia. Beberapa aplikasi ojek online yang ada di Indonesia di antaranya adalah Go-Jek, GrabBike, Oke Jack, Indo-Jek, Heloojek, dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya telah melakukan dobrakan baru untuk menambah omset pendapatannya.

Salah satunya adalah Go-Jek yang memperkenalkan berbagai layanan selain transportasi penumpang lewat Go-Ride dan Go-Car. Beberapa layanan lain yang sedang tenar baru-baru ini adalah Go-Food, Go-Send, Go-Mart, Go-Shop, bahkan hingga Go-Med. Fitur-fitur ini mempermudah banyak orang untuk melakukan banyak transaksi hanya melalui smartphone yang mereka miliki.

Setiap orang dapat menghemat waktu dan tenaga dalam melakukan pesanan hanya dengan menjalankan beberapa langkah mudah dilayar smartphone mereka. Mereka juga tidak perlu merogoh kocek dalam dalam hanya untuk melakukan pembayaran karena harga dari pembayaran jasa ojek online ini sendiri tidaklah mahal.

Sebagai salah satu contoh yaitu Go-Jek yang memberlakukan tarif nasional sebesar Rp2.000/km di jam normal dan Rp2.500/km di jam sibuk. Dengan begitu para pengguna juga dapat memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkan dalam pemesanan layanan ini.

Dibalik maraknya layanan ojek online yang menjamuri hampir seluruh daerah yang ada di Indonesia dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan serta omset pendapatan yang menggiurkan, siapa yang akan menyangka banyak penderitaan yang dialami oleh  para driver ojol dalam menjalankan tugasnya?

Salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah banyaknya para creator youtube atau yang biasa kita kenal dengan youtubers yang membuat konten prank terhadap beberapa driver ojol. Mereka mengemasnya dalam bentuk konten video yang saat ini banyak sekali membanjiri halaman youtube. Hal ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Ada yang memberikan tanggapan positif dan tidak sedikit pula yang memberikan tanggapan negatif terhadap hal ini.

Namun dapat kita lihat banyak orang yang merasa keberatan dengan semakin maraknya konten yang mempertontonkan tentang prank yang ditujukan kepada para driver ojol tersebut. Mereka menganggap bahwa konten ini mengusik harga diri para driver ojol hanya demi adsense.

Seperti pendapat dari salah satu narasumber yang sempat saya wawancarai, dia adalah mahasiswa yang memiliki kerja sampingan sebagai driver ojol, sebut saja namanya Riko.

“Konten seperti ini sangatlah rendah. Sekarang pikir saja secara logika. Mereka sengaja membuat prank terhadap tukang ojol dengan embel-embel akan menyedekahkan sebagian hartanya, tapi apakah terpikir oleh kalian sebelumnya? Mereka tidak sepenuhnya memberikan rezeki kepada si tukang ojol, karena apa? Karena uang yang mereka dapat dari hasil ngeprank si tukang ojol bahkan lebih besar daripada jumlah uang yang ia berikan ke tukang ojolnya. Begitu pintarnya cara mereka ingin mendapatkan banyak viewers hanya dengan cara membuat konten kontroversi yang dibalut modus memberi rezeki kepada orang lain,” ujar Riko.

Pendapat lain diutarakan oleh salah satu narasumber saya yang bernama Kamila, ia mengatakan bahwa “Seharusnya kalau memang ingin menolong ya langsung tolong saja. Tidak usah menyusahkan lebih dulu,apalagi kesusahannya dijadikan tontonan. Kalaupun setelah itu korban diberi sejumlah uang,bukankah itu sangat wajar? Karena itu cara mereka meminta maaf. Lalu dimana letak menolongnya?”

Konten seperti ini patut menjadi perhatian kita semua dalam memilih dan memilah suatu hal yang sering kita anggap sebagai tren masa kini agar tidak merugikan ataupun menyakiti orang lain. Mungkin saja bukan dalam artian menyakiti orang secara fisik, namun menyakiti secara batin juga tidaklah menjadi suatu hal yang dapat dianggap sepele.

Ini hanya segelintir kecil permasalahan yang terekspos dan mendapat ganti rugi. Namun ada beberapa dampak parah dari adanya oknum-oknum yang mengikuti prank seperti ini di dalam kehidupan nyata dalam artian yang mungkin tidak terekspos dan tidak melakukan ganti rugi sama sekali. Mereka melakukannya hanya untuk bersenang-senang dengan tujuan menjahili para driver ojol.

Kita mungkin tidak dapat memprediksi apa kemungkinan yang akan terjadi kepada si tukang ojol sebelum ataupun sesudah kita melakukan prank tersebut. Seperti kasus-kasus yang telah terjadi sebelumnya, tidak sedikit tukang ojol yang terusir ketika melakukan orderan di salah satu tempat makan terkenal, mereka harus menunggu di luar hingga pesanan telah selesai dibuat.

Apakah serendah itu profesi yang mereka jalani? Dan apakah mereka patut untuk menjadi korban kejahilan? Ini menjadi keprihatinan bagi kita semua untuk senantiasa menghargai profesi apapun yang ada di sekitar kita.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS