Pengaruh Permainan Warna Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini

Tri Apriyani
Pengaruh Permainan Warna Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini
Ilustrasi anak menggambar. (Shutterstock)

Penelitian membuktikan bahwa permainan dapat memajukan aspek-aspek perkembangan seperti motorik, kreativitas, kecakapan-kecakapan sosial, motivasional, dan emosional anak

Suara.com - Dunia anak adalah dunia bermain, dalam mendidik pun semua masih melalui bermain, baik itu sarana maupun prasarana. Usia 5 tahun pertama yang disebut golden age (usia emas), akan sangat menentukan bagi seorang anak terhadap aspek kognitif, motorik, fisik dan psikososial anak berkembang secara pesat.

Oleh karena itu diperlukan stimulus (rangsangan) yang mampu mengoptimalkan seluruh aspek pada seseorang anak sehingga mampu menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab dan mampu menghadapi suatu permasalahan dalam hidupnya. Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan kognitif, tubuh dan psikososial seorang anak adalah dengan menstimulasinya dengan mainan atau permainan(Maimunah Hasan, 2010:271-272).

Penelitian mengenai permainan pada anak-anak membuktikan bahwa permainan  dapat memajukan aspek-aspek perkembangan seperti motorik, kreativitas, kecakapan-kecakapan sosial serta kognitif dan juga perkembangan motivasional dan emosional. Salah satu penelitian membuktikan bahwa bermain dapat meningkatkan perkembangan kreativas anak.  

Pada usia dini atau golden age, cara berpikir anak ditandai dengan kretivitas, bebas, dan penuh dengan imajinasi/daya khayal. Hal ini tampak pada gambar yang dibuat, seperti menggambar langit dengan warna hijau, pohon warna ungu, dan mobil berjalan diatas awan.

Reni Akbar Hawadi menyebutkan ada beberapa upaya yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan kreativitas anak yaitu dengan memberi kebebasan, artinya tidak selalu berusaha mengendalikan anak-anak dan tidak merasa cemas dengan apa yang dilakukan oleh anak.

Rasa hormat, artinya menghargai dan menghormati keberadaaan anak sebagai invidu yang unik dan memiliki kemampuan secukupnya. Kedekatan emosional secukupnya, artinya, tidak bersikap posesif terhadap pendidikan anak karena hal tersebut menyebabkan anak mudah tergantung pada orang orang lain.

Nilai dan peraturan, artinya tidak memaksakan anak dengan peraturan-peraturan yang detail akibatnya anak menjadi mudah stres karna keinginan anak selalu bertentangan dengan anak. Prestasi  dan bukan angka, artinya lebih menekankan pentingnya meraih hal sebaik mungkin dengan tidak menekankan anak memperoleh angka yang baik dirapor.

Orang tua yang aktif, artinya orang tua yang memiliki minat yang beragam baik di dalam maupun di luar rumah dan tidak menekankan pada perbedaan status sosial serta tidak terpangaruh oleh tuntutan sosial. Menghargai kreativitas, yaitu medukung anak untuk melakukan hal hal yang kreatif melalui peralatan atau pengalaman yang baru dengan mampu memberi les yang diminati oleh anak.

Selanjutnya visi, orang tua harus perlu mempunyai visi yang jelas tentang anaknya bahwa mereka mampu untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, yang kreatif sesuai dengan bakat serta keterampilan yang dimiliki anaknya.

Kreativitas merupakan suatu potensi yang sangat bermakna bagi hidup anak, melalui kreativitas, anak akan menemui berbagai cara memecahkan persoalan yang dihadapi secara efektif dan efisien sehingga kemungkinan lebih besar untuk sukses di masa depan.

Di mana setiap anak memiliki kreativitas atau kemampuan masing-masing dan setiap anak juga mempunyai bakat dan minat yang berbeda dengan anak yang lain, karena pada dasarnya setiap anak itu unik dan memiliki keistimewaan masing-masing, peran orang tua dan orang sekitar sangat dibutuhkan dalam membantu anak menyalurkan kreativitas yang ia miliki. Dalam mengembangkan kreativitas anak agar anak terus belajar menciptakan karya yang lebih bagus.

Lalu permainan apa yang dapat mengembangkan kreativitas anak? Salah satunya adalah permainan warna. Anak-anak sangat menyukai warna apalagi warna-warna yang sangat cerah. Saat mewarnai gambar meraka juga suka menggunakan warna-warna yang cerah baik itu warna biru, merah, kuning, jingga atau warna pelagi (mejikuhibiniu).

Padahal di dunia tidak warna itu saja yang terdapat sebab dalam pengetahuan mereka terbatas dengan sebuah crayon yang hanya berjumlah 12 warna. Mereka kurang tahu atau belum tahu bahwa dari 12 warna crayon yang ada dapat mengahasilkan warna yang baru.

Dari kenyataan yang berkembang dapat kita simpulkan bahwa permainan warna adalah kegiatan yang menyenangkan dan sangat disukai dan mengasyikkan bagi anak usia dini. Saat anak-anak  mewarna gambar, imajinasi dan kreativitas mereka akan berkembang.

Maka anak-anak perlu lebih banyak mengenal macam-macam warna melalui permainan warna supaya mereka bisa mecampurkan warna-warna yg ada sehingga muncul warna-warna yang baru, hal tersebut akan meningkatkan kreativitas anak.

Menurut Gardon & Broene pada tahun 1985, mengatakan bahwa “Bila anak TK diberi kesempatan untuk mengekpresikan diri secara kreatif hal ini akan menimbulkan gairah untuk belajar."

Berdasarkan analisa ditemukan bahwa permainan warna dapat meningkatkan kreativitas. Oleh karena itu kegiatan permainan warna sangat baik untuk perkembangan kreativitas dan daya cipta anak.

Referensi:

  • Aisyah, Siti. Dkk(2010). Perkembangan dan Kosep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
  • Hasan, Maimunah. (2009). Pendidikan Anaka Usia Dini. Yogyakarta: Diva Press.
  • Hawadi, Reni Akbar. (2004). Psikologi Perkembangan Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta: Grasindo.

Pengirim: Muhammad Iksan / Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
E-mail: channmindang@gmail.com

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS