Ubah Stigma Awam Tentang Mental Illness

anggiadsriprtwi
Ubah Stigma Awam Tentang Mental Illness
Ilustrasi mental illness (Shutterstock)

Survivorbutuh dukungan emosional dan dukungan sosial, seharusnya tidak memojokkan mereka

Suara.com - Bicara maraknya pemberitaan mental illness yang terjadi pada public figure Indonesia, belum tentu mengubah stigma masyarakat awam yang menganggap para penderita mental illness itu berbahaya, aneh dan perlu dihindari.

Mental illness sendiri adalah penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan kejiwaan ini sendiri dapat membuat penderita sulit untuk mengetahui dan mengenali perilaku yang dianggap normal dan tidak.

Mental illness juga banyak menimpa remaja loh! Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau mungkin di awal usia 20-an. Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan, separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula, serta dukungan sosial dari lingkungan sekitar.

"Ih, dia depresi loh, gangguan mental, jangan mau dekat-dekat, hindarin saja," tidak jarang kalimat ini dilontarkan oleh masyarakat awam kepada mereka yang membutuhkan dukungan dalam menghadapi depresinya. Tanpa disadari kalimat negatif yang dilontarkan oleh orang-orang disekitar justru semakin berpengaruh pada kestabilan pengidap depresi.

Sangat disayangkan, masih banyaknya masyarakat awam memiliki pemikiran dan pembicaraan yang tabu. Hal ini tentu saja memperburuk keadaan karena para penderita gangguan jiwa semakin menarik diri, tidak mau terbuka karena takut dihakimi dan disudutkan oleh masyarakat awam.

"Survivor (penderita mental illness) butuh dukungan emosional dan dukungan sosial agar mereka merasa nyaman di lingkungan sekitar, dan seharusnya tidak memojokkan mereka," ungkap Kurniasih Ayu Archentari, seorang psikolog dari Archana Biro Psikologi melalui pesan singkat, Jumat (27/12/2019).

Survivor butuh dukungan emosional dan dukungan sosial, seharusnya tidak memojokkan mereka

"Sebenarnya dengan mendengarkan keluh kesah dan memahami survivor sudah merupakan salah satu langkah dalam memberikan dukungan kepada para penderita mental illness. Selain itu, juga meyakinkan survivor bahwa mereka tidak sendirian, menjauhkan survivor dari segala macam hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri, dan alangkah lebih baik lagi apabila penderita mental illness dapat diajak ke psikolog," ucap Kurniasih yang merupakan psikolog di Archana Biro Psikologi ini.

Banyaknya komentar negatif yang membayangi ketakutan akan dihakimi, dihindari, dan ditertawakan membuat mereka, penderita mental illness tidak berani untuk mengungkapkan identitasnya kepada lingkungan sekitar maupun orang-orang terdekatnya, sehingga penderita tidak mau mencari pertolongan ketika gejala-gejala mental illness mulai mereka rasakan.

Stigma lain yang beredar dalam masyarakat awam salah satunya adalah gangguan jiwa bisa menular. Anggapan ini jugalah yang membuat kebanyakan orang merasa enggan berada dekat-dekat orang dengan gangguan jiwa, bahkan mungkin spontan menghindar begitu berpapasan dengan orang “gila”. Lalu ada juga stigma lain yaitu pelabelan penyakit jiwa yang diartikan berbeda, dimana dengan adanya pelabelan tersebut berakibat pada pribadi penderita mental illness itu sendiri, salah satunya memperburuk kondisi kejiwaan yang diderita.

Psikolog di Archana Biro Psikologi, Kurniasih Ayu Archentari, mengatakan, stigma gangguan jiwa bisa menular sama sekali tidak benar karena suatu penyakit dikatakan bisa menular ketika berasal dari infeksi virus, bakteri, atau jamur yang memang bisa berpindah-pindah dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak fisik langsung. Banyak faktor yang menimbulkan penyakit gangguan jiwa, seperti kepribadian, pola asuh, lingkungan, genetik, dan sebagainya. (27/12/2019)

Pernahkah kamu menempatkan diri di posisi para penderita mental illness? Dimana kamu merasa depresi, lalu dikatakan sakit jiwa, gila, dan aneh oleh orang-orang disekitar lingkunganmu dan orang-orang terdekatmu?

Agar stigma-stigma yang beredar di kalangan masyarakat awam ini sedikit demi sedikit berubah, tentu perlu adanya edukasi dan awareness yang lebih untuk diberikan kepada masyarakat awam. Maka dari itu...

Yuk, ubah stigma awam tentang bahayanya penderita mental illness. Mari dukung dan rangkul penderita mental illness dalam menghadapi serta melawan penyakitnya. Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi?

Oleh: Anggia Desri Pratiwi / Mahasiswi LSPR Communcation & Business Institute

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS