Memelihara 'Osob Kiwalan' di Era Digital, Tren Bahasa Jawa Asli Malang

ilham wahyu hidayat
Memelihara 'Osob Kiwalan' di Era Digital, Tren Bahasa Jawa Asli Malang
Osob Kiwalan (halomalang.com)

Dengan memanfaatkan internet dalam pemeliharaan obyek pemajuan kebudayaan, Osob Kiwalan akan tetap terjaga meskipun zaman berganti digital

Suara.com - Osob Kiwalan (Boso Walikan) adalah salah satu bentuk bahasa Jawa yang dipergunakan orang-orang di Kota Malang. Pada prinsipnya bahasa ini diambil dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Sederhana saja sebenarnya. Pengucapan kosakata dua bahasa tersebut diubah dengan membalik posisi huruf dari belakang ke depan. Contohnya kata "saya" dibaca "ayas", kata "kamu" diucapkan dengan "umak".

Menurut wikipedia, bahasa ini muncul sekitar tahun 1949 pada masa perang kemerdekaan. Pada masa tersebut bahasa ini digunakan untuk menjamin kerahasiaan komunikasi antar para pejuang Kota Malang. Alasannya waktu itu banyak mata-mata Belanda menyusup di kalangan pejuang Kota Malang. Harapannya dengan menggunakan Osob Kiwalan, para mata-mata tidak bisa menyerap informasi untuk disampaikan pada Belanda.

Setelah perang kemerdekaan, Osob Kiwalan menjadi bahasa identitas warga Kota Malang. Penggunanya sebagian besar generasi muda. Jika dalam masa perang kemerdekaan bahasa ini digunakan untuk menghindari penyerapan informasi oleh mata-mata Belanda, pada masa ini Osob Kiwalan dipergunakan sebagai keakraban antar warga kota.

Sekarang Kota Malang berada dalam era digital. Pada masa ini internet menjadi tulang punggung kehidupan. Buktinya hampir setiap bidang kehidupan bergantung pada internet. Hampir semua aktifitas manusia dalam keseharian juga memerlukan internet.

Pada masa digital ini Osob Kiwalan harus tetap dipertahankan. Ini penting karena Osob Kiwalan adalah salah satu bentuk kebudayaan.

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat. Demikian menurut Pasal 1 UU RI Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam pembicaraan mengenai kebudayaan ini, posisi Osob Kiwalan sebagai obyek pemajuan kebudayaan.

Objek Pemajuan Kebudayaan adalah unsur kebudayaan yang menjadi sasaran utama pemajuan kebudayaan. Menurut Pasal 5 UU RI Nomor 5 tahun 2017, objek pemajuan kebudayaan meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional. Pada Pasal ini, Osob Kiwalan masuk dalam kategori bahasa.

Sebagai obyek pemajuan kebudayaan, Osob Kiwalan harus dipelihara. Tujuannya untuk mencegah kerusakan, hilang, atau musnahnya objek pemajuan kebudayaan. Menurut Pasal 24 Ayat 4 UU RI Nomor 5 Tahun 2017, pemeliharaan objek pemajuan kebudayaan dilakukan dengan lima cara.

Pertama, menjaga nilai keluhuran dan kearifan Objek Pemajuan Kebudayaan. Kedua, menggunakan Objek Pemajuan Kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, menjaga keanekaragaman Objek Pemajuan Kebudayaan. Keempat, menghidupkan dan menjaga ekosistem Kebudayaan untuk setiap Objek Pemajuan Kebudayaan. Kelima, mewariskan Objek Pemajuan Kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Lima cara di atas hanya konsep. Untuk merealisasikannya perlu cara. Salah satu caranya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang yaitu internet.

Internet adalah sistem jaringan komputer yang saling terhubung secara global dengan menggunakan paket protokol untuk menghubungkan perangkat di seluruh dunia. Demikian definisi menurut wikipedia. Internet membawa beragam sumber daya dan layanan informasi, seperti dokumen hiperteks yang saling terkait dan aplikasi World Wide Web (WWW), surat elektronik, telepon, dan berbagi berkas.

Terkait definisi tersebut dan berpedoman konsep pemeliharaan obyek pemajuan kebudayaan Pasal 24 Ayat 4 UU RI Nomor 5 Tahun 2017 maka ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memelihara Osob Kiwalan.

Pertama, membuat aplikasi kamus digital tentang berbagai kosakata Osob Kiwalan. Kamus dapat berbasis web atau aplikasi berbasis android. Tujuannya agar masyarakat umum dapat lebih memahami kosakata bahasa Jawa dialek Malang ini.

Kedua, membuat media massa siber berbahasa Jawa dialek Malangan. Untuk isi media massa tersebut tentu tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kota Malang.

Ketiga, membuat media massa siaran seperti stasiun radio streaming berbasis internet atau televisi online yang kontennya tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kota Malang. Seperti halnya media siber, media siaran ini juga harus menggunakan bahasa Osob Kiwalan sebagai bentuk atau sarana penyampaian informasinya.

Keempat, mengadakan lomba-lomba kesenian yang berkaitan dengan penggunaan Osob Kiwalan. Contohnya lomba cipta lagu, menulis dan pentas drama dengan Osob Kiwalan. Peserta lomba diwajibkan mengupload karya yang dilombakan di youtube, facebook atau media sosial lainnya. Dengan cara ini Osob Kiwalan pasti akan lebih dikenal masyarakat luas.

Demikianlah sedikit alternatif tentang pemeliharaan Osob Kiwalan sebagai obyek pemajuan kebudayaan Kota Malang. Selain yang telah disebutkan masih banyak cara yang bisa dilakukan tergantung kreatifitas masyarakat pemilik bahasa.

Jaman boleh berganti tapi kebudayaan tetap harus dijaga dan dipelihara. Salah satu cara yang efektif untuk pemeliharaan Osob Kiwalan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang dalam hal ini internet.

Satu hal yang harus diperhatikan memelihara obyek pemajuan kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Secara tegas hal ini dinyatakan dalam Pasal 24 Ayat 1 dan 2 UU RI Nomor 05 Tahun 2017.

Pada Ayat 1 Pasal di atas dinyatakan Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah wajib melakukan pemeliharaan Objek Pemajuan Kebudayaan. Sedangkan pada Ayat 2 dinyatakan setiap orang dapat berperan aktif dalam melakukan pemeliharaan Objek Pemajuan Kebudayaan.

Berdasarkan Pasal di atas maka sangat diperlukan sinergi yang anggun antara pemerintah dan masyarakat dalam kaitan pemeliharaan obyek pemajuan kebudayaan. Jika sinergi ini terbentuk maka Osob Kiwalan sebagai unsur pemajuan kebudayaan akan terjaga.

Harapannya dengan memanfaatkan internet dalam pemeliharaan obyek pemajuan kebudayaan, Osob Kiwalan akan tetap terjaga meskipun jaman berganti digital.

Oleh: Ilham Wahyu Hidayat / Guru SMP Negeri 11 Malang

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS