Ngaret: Kebiasaan Baru dan Masalah Menghargai Waktu

ferdinan adrianus silalahi
Ngaret: Kebiasaan Baru dan Masalah Menghargai Waktu

Apakah ngaret itu menjadi sebuah kebiasaan baru yang harus dimaklumi ataukah menjadi krisis kebudayaan yang perlu diperbaiki

Suara.com - Setiap orang pasti akan menjadwalkan kegiatan sehari-harinya agar lebih terorganisir dengan baik, terlebih lagi jika itu jadwal yang berhubungan dengan orang banyak, entah itu jadwal bertemu dengan teman atau jadwal rapat organisasi. Jadwal yang dibuat sudah disusun sedemikian rupa dengan menyesuaikan waktu yang ada. Tujuan akhirnya adalah agar setiap kegiatan yang diikuit dapat berjalan dengan maskimal.

Namun, sering kali jadwal yang dibuat justru tidak berjalan dengan baik. Faktor utamanya adalah masalah waktu. Kerap kali kegiatan yang sedang diikuti mundur waktu pelaksanaannya dari kesepakatan awal.

Penyebabnya adalah beberapa orang datang terlambat dari waktu yang sudah ditentukan dan membuat waktu pelaksanaan kegiatan menjadi mundur atau istilah zaman sekarang adalah ngaret.

Misalnya, suatu rapat organisasi dimulai jam 7 malam, namun karena anggota yang hadir masih sedikit, terpaksa mereka menunggu hingga anggota yang lain datang. Beberapa orang yang ditunggu pun akhirnya datang, namun mereka baru datang setengah jam hingga satu jam kemudian bahkan bisa lebih.

Rapat yang seharusnya bisa selesai jam 9 malam, menjadi mundur hingga jam 10 malam. Hal di atas sangat sering terjadi, terlebih lagi di lingkungan masyarakat, seperti kegiatan organisasi, pelaksanaan seminar, bahkan jadwal keberangkatan transportasi umum yang sering mengalami keterlambatan. 

Akibat ngaret tadi, pelaksannaan kegiatan pun menjadi tidak maksimal dan juga merugikan banyak orang. Mungkin saja ada orang yang harus mengikuti rapat di perusahaannya setelah menghadiri seminar.

Namun, kegiatan seminar tadi ngaret hingga 1 jam sehingga membuat orang tersebut datang terlambat ke rapat prusahaannya. Atau bisa saja seseorang datang terlambat ke kantornya karena transportasi umum ngaret hingga setengah jam darii jadwal yang sudah ditentukan.

Kejadian seperti ini sangat sering terjadi, apalagi di Indonesia. Mulai dari jadwal penerbangan salah satu maskapai yang sering mengalami keterlambatan hingga ke lingkup yang paling kecil, seperti rapat organisasi mahasiswa terpaksa ngaret karena harus menunggu beberapa orang sampai datang.  

Karena seringnya ngaret ini terjadi, akhirnya hal tersebut dianggap sebagai kebiasaan baru atau the new normal. Bahkan, sudah banyak kegiatan yang di dalam jadwal pelaksanaannya terdapat estimasi waktu apabila mengalami kemunduran jadwal dan sudah pasti mundur.

Jadwal kegiatan yang disebarluaskan hanya sebagai bentuk formalitas saja, padahal kegiatannya mundur dari jadwal yang sudah ditetapkan. Misalnya, sebuah kegiatan dijadwalkan mulai jam 8 pagi, namun karena semua orang yang mengikuti kegiatan itu tahu bahwa akan ngaret, maka jam 8 itu bukan dijadikan sebagai jam mulainya keiatan, melainkan jam datangnya peserta kegiatan.

Tentu dengan pemaparan di atas, perlu diperiksa kembali, apakah ngaret itu menjadi sebuah kebiasaan baru yang harus dimaklumi ataukah menjadi krisis kebudayaan yang perlu diperbaiki. Jika memang harus dimaklumi, maka itu merupakan suatu kemunduran di lingkungan masyarakat karena menjadikan ngaret yang sesungguhnya memiliki makna negatif menjadi sesuatu yang harus dimaklumi.

Masyarakat Indonesia tidak akan pernah siap menajdi negara maju, jika menjalankan hal sederhana seperti menghadiri kegiatan tepat waktu tidak bisa dilakukan. Memang karena keadaan mendesak, keterlambatan itu bisa diterima. Namun, jika keterlambatan itu dilakukan secara sengaja dan sadar, orang yang melakukannya dianggap tidak bisa menhargai waktu dan juga tidak bisa menghargai orang lain yang sudah datang tepat waktu.

Permasalahan ngaret tentu menjadi permasalahan bersama karena sudah sering kali terjadi di lingkungan masyarakat. Kesadaran setiap orang di uji disini, apakah mereka masih mempunyai rasa kemanusiaan untuk menghargai orang lain atau hanya menganggapnya sebagai sebuah permasalahan kecil yang tidak usah dipedulikan.

Karena itu, untuk mengatasi permaslaahan ini, kita mesti melihat ke dalam diri sendiri, apakah kita sudah menghargai waktu, apakah kita sudah menghargai orang lain. Memang kelihatan sangat sederhana, namun perubahan besar dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS