Plus Minus Corona bagi Dunia Pendidikan

Nurul Fauziyyah
Plus Minus Corona bagi Dunia Pendidikan
Ilustrasi corona dan pendidikan (Alexandra Koch/pixabay)

Kadang keterpaksaan dibutuhkan guna mencapai kemajuan. Kita dituntut untuk nyaman dengan ketidaknyamanan agar terbiasa dan lupa bahwa pada awalnya semua butuh ekstra usaha.

Suara.com - Mengapa siang terang dan malam gelap? Mengapa ada putih dan ada hitam? Mengapa ada bahagia dan ada duka? Jawabannya tergantung sudut pandang masing-masing manusia, namun satu hal yang pasti, yaitu segala sesuatu ada plus dan minus-nya, begitu juga dengan pandemi.

Jika kita hanya melihat dari sisi yang negatif, dari kerugiannya, dari dampak buruknya, maka kita tak akan pernah bisa bangkit melalui masa-masa ini dengan segera. Ubah mindset, geser paradigma, dan kelolah hati. Yukk berinovasi, saling kolaborasi dan menyemangati dalam proses adaptasi guna memenangkan kondisi ini dari berbagai sisi dan profesi.

Pendidikan ada untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan ada untuk membuat ketidaktahuan menjadi sebuah pemahaman. Pendidikan ada juga untuk menginternasilasi nilai-nilai positif diri pada setiap generasi di negeri ini. Jangan sampai lupa bahwa esensi pendidikan bukan hanya mencerdaskan kognitif anak bangsa, namun juga moral dan aspek intangible lainnya.

Peran segala pihak sangat membantu kesuksesan dari proses pendidikan, bukan hanya menyerahkan tanggung jawab itu pada pendidik, pihak sekolah, universitas, lembaga pendidikan lainnya, serta civitas akademika lainnya, namun juga merupakan tanggung jawab orang tua dan pribadi dari masing-masing peserta didik sendiri. Saling support bukan malah saling menyalahkan atau saling melepar tanggung jawab antara pihak satu dan lainnya.

Pada masa pandemi ini kita semua dituntut untuk bergerak maju dan mampu mengoptimalkan penggunaan kemutakhiran teknologi dalam proses edukasi guna mengembangkan diri sehingga peran pendidikan tidak akan mati meski di tengah pandemi. 

Konferensi Pendidikan Akademi Edukreator “Membangun Dunia Pendidikan Baru” juga berhasil terselenggara berkat optimalisasi media yaitu platfom youtube melalui siaran langsung (live) di kanal Kemendikbud RI, Kok Bisa?, dan Televisi Edukasi pada tanggal 6 Mei 2020.

 Konferensi pendidikan tersebut dibagi menjadi beberapa sesi, salah satunya sesi 3 yaitu “Belajar Bukan Hanya di Sekolah” dengan narasumber Najeela Shihab (Pendiri Semua Murid Semua Guru), Dr. Iwan Syahril, Ph.D (Staf khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan Maria Harfanti (Pendiri Bangun Sekolah).

Banyak hal menarik yang didiskusikan pada sesi tersebut termasuk pembahasan mengenai tantangan dan peluang yang tercipta dari wabah corona pada dunia pendidikan.

Narasumber pada sesi 3 dalam konferensi pendidikan tersebut menyampaikan sisi positif yang hadir di tengah wabah ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. waktu luang menciptakan kesempatan untuk mempelajari banyak hal baru yang dulunya menjadi list terakhir ketika kesibukan aktivitas di luar tak teroganisir,
  2. meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak yang dulunya orang tua cenderung hanya “lempar tangan” kepada pihak sekolah ataupun pendidik atas pendidikan anaknya,
  3. timbul berbagai inovasi dalam proses pembelajaran, memunculkan kolaborasi antarlini yang dulunya mungkin belum bisa teralisasi,
  4. serta keterlibatan keluarga dalam memberikan support system bagi ekosistem pendidikan yang dulu mungkin sempat terlupakan.

Faktanya, publik memang melihat wabah corona ini justru sebagian besar hanya pada sisi negatifnya, padahal jika ditelurusi lebih, wabah ini selain memang mendatangkan berbagai masalah namun juga menghadirkan peluang-peluang baru bagi dunia pendidikan.

Bahkan dalam survei berskala nasional yang dilakukan oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) akibat banyaknya keluhan yang berdatangan, hasilnya pun cukup mencengangkan, sebanyak 76,7 persen responden yang merupakan peserta didik mengaku tidak senang dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dicanangkan sebagai solusi pada masa pandemi ini dan hanya 23,3 persen responden menganggap PJJ menyenangkan.

Jika dilihat dari sudut pandang yang positif, banyak pembelajaran yang dapat diambil dari kondisi pandemi ini. Mulai dari berbagai materi dan studi kasus timbul untuk dipecahkan bersama dengan peserta didik, kondisi sehari-hari yang bisa menjadi bahan untuk menambah literasi dan saling berbagi melalui diskusi dan penulisan opini, serta menjadikan orang tua semakin memainkan perannya dalam proses pendidikan anak dan pendamping dalam proses belajar yang semoga tidak hanya ketika masa pandemi.

Kadang keterpaksaan memang dibutuhkan guna mencapai kemajuan. Untuk semua pihak, mulailah lihat peluang dari kejadian ini agar lebih berani bereksperimentasi dan eksplor diri guna tercipta berbagai macam inovasi yang mampu menyukseskan pendidikan di negeri ini.

Oleh: Nurul Fauziyyah / Pendidik

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS