COVID-19 dan Refleksi Diri

damianus febrianto edo
COVID-19 dan Refleksi Diri
Ilustrasi swa-karantina / self quarantine (unsplash/Jose Antonio Gallego Vázquez)

COVID-19 ajang refleksi diri setiap insan manusia untuk peduli terhadap kesehatan diri, keluarga dan sesama manusia.

Suara.com - Berawal dari postingan seorang teman yang singkat, dalam dan penuh makna di media sosial. Dalam catatan  refleksi dia bergumam, “Dunia ini tampaknya perlu diberi pelajaran. Tingkat egoisme manusia yang memuncak. Cukup dengan virus Corona membunuh kerakusan kita sebagai manusia atas alam. Di sana lah, rumah sekawanan monyet riang bergelantungan dari dahan ke dahan mencari buah yang dihasilkan oleh si pohon yang maha bijaksana. Dan mulai dari si burung burung yang berterbangan itu. Hamparan laut yang indah mengaharapkan ketenangan bagi si ikan-ikan. Aliran sungai jernih nan murni sebagai sumber pelepas dahaga dan tingginya barisan para pohon tua entah berapa puluh tahun usianya. Bergembiralah”.

Tulisannya, sambil menampilkan foto monyet yang tampak gembira, burung-burung yang berterbangan bebas di udara, ikan yang sedang asyik berenang di laut dan pohon-pohon berdiri kokoh. Sontak saya berpikir, mungkinkah alam murka atas manusia? Kutip syair lagu Ebiet G. Ade, “Melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga, dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”. 

Lantunan syair yang menggugah nurani kita untuk selalu bercermin atau introspeksi diri. Seperti kata teman saya, egoisme kita manusia yang sudah melampaui batas sebagai mahluk istimewa Ciptaan Yang Maha Kuasa. Terkadang keistimewaan dan kesempurnaan itu, kita gunakan menghancur mahluk lainnya dengan nafsu belaka. Penebangan hutan secara liar, penambangan tanpa memperhatikan etika lingkungan, membuang sampah di laut. Mahluk istimewa yang penuh kesombongan tat kala akal dan nurani melampaui nafsu belaka.

COVID-19 membuat dunia kliyengan. Aktifitas manusia berhenti sekejab dengan menetap di rumah masing-masing. Berawal dari kota Wuhan, China, Desember 2019, sejenak menjadi kota mati tak berpenghuni. Di Italia, pembatasan perjalanan yang paling luas. Di London, banyak tempat hiburan pub, bar dan pementasan teater ditutup.

Begitu pula dengan Indonesia, gerakan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, memakai masker sampai tagar #stayathome menjadi trending di media sosial. Banyak perkantoran ditutup, televisi yang menyelenggarakam talk show tidak menghadirkan orang di studio dan aktifitas mahasiswa dan pelajar menggunakan online.

Sebagai mahasiswa kami diumumkan oleh pihak kampus untuk kuliah lewat online. Whatshapp, dan email menjadi kebiasaan kami mahasiswa untuk berdiskusi atau mengirim tugas. Yang menarik, kami harus beradaptasi dengan aplikasi Zoom, di mana mahasiswa menjalankan kuliah lewat rumah atau kos masing-masing. Dengan aplikasi Zoom, kami berinteraksi antar sesama mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen. Ujian Tengah Semester (UTS), kami mengerjakan dalam bentuk Microsoft Word, PDF dan mengirimnya lewat aplikasi Classroom.

Efek COVID-19 membawa dampak besar bagi kehidupan manusia, tak terkecuali dunia pendidikan. Sebagai mahasiswa yang biasa menghafal materi saat ujian berlangsung menjadi berbeda saat menggunakan online. Mahasiswa tidak perlu menghafal materi tetapi daya imajinasi yang dikedepankan dan catatan materi kuliah. Di sini, kelihaian dosen memberi pertanyaan ujian kepada mahasiswa agar daya imajinasi mahasiswa akan materi kuliah tersebut.

Dengan kata lain, dosen memberi pertanyaan disertai argumentasi mahasiswa akan materi kuliah. Sebab, menghindari copy paste dari internet dan menyontek buku catatan, sehingga daya kritis mahasiswa dan tingkat pengusaan materi menjadi diuji, sejauhmana mahasiswa memahami materi kuliah dengan bahasa mahasiswa sendiri bukan bermodalkan menghafal.

Harmonis dengan Alam

Executive Director Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, menjelaskan kondisi udara di Jakarta menurun pasca virus Corona merebak di tanah air dengan gerakan stay at home. Di mana, 44,6 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata tahunan, begitu masuk ke-10 hari kedua social distancing itu turun menjadi 18,26 mikrogram. Artinya, standar nasional itu 15 mikrogram per meter kubik. Dan paling banyak pencemaran udara Jakarta disebabkan oleh kendaraan bermotor 47 persen.

Dengan kata lain, kalau pelaksanaan social/physical distancing dilakukan secara konsisten, akan berdampak signifikan bagi udara Kota Jakarta yang sesak tersebut. Artinya, kita masih menyanyangi kesehatan kita dan sesama dan keharmonisan alam tentunya dengan disiplin mengikuti arahan dari pemerintah untuk tinggal di rumah.

Tentu ini sangat mengembirakan bagi kita manusia untuk selalu bersyukur akan kesehatan kita. Kesehatan kita, tak terlepas dari alam dan lingkungan tempat kita tinggal. Dengan kata lain, kita menghirup udara bersih dari alam. Tugas kita sebagai manusia merawat alam agar tetap bersih, pohon-pohon diperbayak, kita pun pasti sehat karena mendapatkan air dari pohon dan udara bersih.

Virus Corona juga berdampak pada keharmonisan keluarga. Mungkin selama hidup kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan tidak ada waktu yang intens bersama keluarga. Gerakan di rumah saja adalah simbol di mana kita berdiskusi, curhat, bermain bersama keluarga tercinta. Sekaligus ajang kontemplasi diri untuk merenung akan kehidupan.

Mungkin saja, selama hidup waktu digunakan sepenuhnya untuk bekerja ketimbang bersama keluarga di rumah atau memeriksa diri untuk selalu bersyukur atas nikmat kehidupan. Dan masih banyak hal yang perlu kita renungkan dalam hidup, akan pentingnya keluarga.

Tak luput, di tengah virus Corona ini, watak kebinatangan manusia tak kunjung usai. Semburan hoaks, sampai dengan penolakan pemakaman yang terdampak virus Corona. Simpang siur informasi mengarah pada disrupsi informasi-ketidakpastian yang mengarah kepada kepanikan publik. 

Sedihnya, masih banyak orang bersikap paranoid dengan tenaga medis, baik dokter maupun perawat yang menangani pasien virus Corona, juga stigmatisasi terhadap pasien terkena dampak virus Corona. Bahkan, perantau yang pulang kampung dari daerah zona merah terdampak virus Corona dijauihi oleh banyak masyarakat. Artinya, stigmatisasi olahan watak kebinatangan kita tanpa melihat secara mendalam apakah orang tersebut positif Corona atau tidak.

Tentu, ini salah satu bahan refleksi yang perlu membumi setiap insan manusia akan hakikat kemanusian dan etika. Landasan kemanusian itu, harus berlandaskan pada kepedulian terhadap sesama. Kepeduliaan itu, berupa dukungan materi seperti alat-alat kesehatan, membantu masyarakat kelas bawah yang di PHK dari pekerjaan, maupun masyarakat kelas bawah lainnya yang tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga. Sekaligus, dukungan moril harapan dan doa agar agar tim medis sebagai garda terdepan semangat menjalankan tugas dan pasien yang positif COVID-19 disembuhkan.

Dengan kata lain, COVID-19 ajang refleksi diri setiap insan manusia maupun pemerintah untuk peduli terhadap kesehatan diri, keluarga dan sesama manusia. Sekaligus, ajang untuk menyatu lebih dalam dengan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, derajat kita manusia sebagai mahluk istimewa akan terpenuhi apabila menjalin hubungan vertikal manusia dengan Maha Pencipta, hubungan horizontal antar manusia dan manusia juga manusia dengan alam.

Oleh: Damianus Febrianto Edo

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS