Keracunan Makanan: Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan

salsabila sugiarto
Keracunan Makanan: Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan
Ilustrasi keracunan makanan

Keracunan makanan merupakan sebuah penyakit yang timbul dikarenakan memakan makanan yang terkontaminasi berikut adalah gejala, pencegahan, dan pengobatan yang dapat dilakukan.

Suara.com - Makanan termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan setiap manusia. Keamanan makanan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Keracunan makanan disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme atau mikroba patogen yang mengkontaminasi makanan.

Seseorang akan keracunan makanan apabila orang tersebut mengalami gangguan Kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, atau bahan kimia yang dapat menyebabkan gangguan di dalam fungsi normal tubuh.

Pada kasus keracunan makanan mikroorganisme masuk bersama makanan yang kemudian dicerna dan diserap oleh tubuh manusia. Keracunan dapat terjadi akibat makanan yang dikonsumsi mengandung parasit, diantaranya, cacing pita sapi, cacing pita babi, cacing pita ikan dan T.spiralis.

Gejala keracunan makanan beragam bergantung pada sumber kontaminasi. Sebagian besar keracunan makanan dapat menyebabkan beberapa tanda dan gejala berikut ini:

  • Mual.
  • Muntah.
  • Diare berair atau berdarah.
  • Nyeri dan kram perut.
  • Demam

Gejala dapat timbul beberapa saat setelah memakan makanan yang terkontaminasi, atau bahkan beberapa hari bahkan minggu setelahnya. Gejala tersebut umumnya dapat bertahan beberapa jam saja hingga menetap selama beberapa hari.

Agar terhindar dari keracunan makanan kita perlu melakukan pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan ialah :

  1. Mencuci tangan, sebelum makan atau menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan teliti memakai sabun dan kucuran air setidaknya 15 detik, lalu keringkanlah dengan handuk bersih.
  2. Memasak makanan dengan matang, hampir sebagian besar organisme kontaminan dapat mati pada pemanasan dengan suhu yang tepat. Sebagai contoh, memasak daging merah minimal pada suhu 71oC dan daging unggas pada suhu diatas 74oC untuk dapat mematikan bakteri.
  3. Menyimpan bahan makanan dengan tepat, Penyimpanan bahan makanan sesuai letaknya juga dapat menghindarkan dari kontaminasi silang, contoh, buah dan sayur pada box buah, daging, makanan siap saji, dan ikan pada freezer
  4. Membuang makanan yang meragukan, apabila terlah terjadi perubahan warna, rasa, bau, dan bentuk penting bagi kita untuk lebih baik membuang makanan tersebut daripada mengkonsumsinya. perubahan warna, rasa, bau, dan bentuk merupakan tanda bahwa kualitas makanan sudah menurun dan tidak layak untuk dikonsumsi.

Pengobatan yang dapat dilakukan apabila telah tejadi keracunan makanan:

Beberapa kasus keracunan makanan biasanya tidak memerlukan penanganan khusus. Gejala biasanya akan hilang dalam beberapa hari. Pada pengidap dewasa dan anak yang kehilangan cairan begitu banyak karena diare dan muntah, perlu mendapatkan asupan cairan tambahan melalui infus.

Kasus keracunan makanan yang berat yang disebabkan oleh bakteri akan membutuhkan tambahan antibiotik untuk mengeliminasi penyebab dari keracunan makanan.

Penanganan sementara di rumah dapat dilakukan dengan menambah asupan cairan dan elektrolit. Asupan cairan dan elektrolit dapat mengganti cairan tubuh yang hilang karena diare dan muntah. Menghindari makanan yang mengiritasi lambung seperti kopi, alkohol, makanan pedas dan berlemak dapat digunakan untuk mengurangi keluhan yang dirasakan pengidap.

Meskipun keracunan makanan dapat membaik dalam beberapa hari, pengidap perlu segera ke dokter jika mengalami tanda-tanda dehidrasi.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS