Pengaruh Prilaku Hygiene terhadap Kejadian Diare pada Anak

humaira nisaul jannah
Pengaruh Prilaku Hygiene terhadap Kejadian Diare pada Anak
Ilustrasi diare

Perilaku hygiene atau hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk.

Suara.com - Menurut Who Health Organization (WHO) pada tahun 2017, penyakit diare masih merupakan masalah global dengan derajat kesakitan dan kematian yang tinggi di berbagai negara terutama di negara Indonesia dan sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada anak dibawah usia 5 tahun di dunia.

Secara global terjadi peningkatan kejadian diare dan kematian akibat diare pada balita dari tahun 2015-2017. Pada Tahun 2015, diare menyebabkan sekitar 688 juta orang sakit dan 499.000 kematian di dunia terjadi pada anakanak dibawah 5 tahun. Data WHO (2017) menyatakan, hampir 1,7 miliar kasus diare terjadi pada anak dengan angka kematian sekitar 525.000 pada anak balita tiap tahunnya (WHO, 2017 dalam Rahayu et al, 2019).

Perilaku hygiene atau hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk.

Salah satu faktor penting lainnya yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar yang baik.

Sanitasi lingkungan dan perilaku hygiene yang buruk dapat memicu terjadinya penyakit diare dimana interaksi antara penyakit, manusia dan lingkungan mengakibatkan diperlukannya penanggulangan diare.

Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Anak

Doloksaribu (2016) pada penelitiannya yang dilakukan terhadap 38 responden tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada Anak Usia 2-4 Tahun.

Hasil penelitian menunjukan dari 38 responden yang terkena diare ada 27 responden (71,1 persen) sedangkan yang tidak ada terkena 11 responden (28,9 persen). Hal ini diakibatkan beberapa hal seperti; masyarakat masih menggunakan air   sungai untuk keperluan masak dan minum, pembuangan sampah yang ditumpuk ditempat terbuka, kebiasaan anak yang tidak mencuci tangan.

  1. Lingkungan

Pengelolaan sampah ditumpuk di halam rumah, keadaan air di rumah masih ada yang berwarna dan berbau, pengelolaan air limbah masih ada yang menimbulkan genangan, dan jarak septic tank dengan sumber air bersih masih ada yang kurang dari 10 meter.

Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi (Evayanti, 2014 dalam Doloksaribu 2016)

  1. Perilaku

kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan atau melakukan aktifitas seperti bermain, memegang uang, menyuapi anak, masih ada anak yang sering jajan sembarangan, tidak memakai alas kaki saat bermain.

Personal hygiene atau kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan psikologis. Kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar merupakan kebiasaan yang dapat membahayakan bayi terutama ketika ibu memasak makanan atau menyuapi balita makan (Hardi, 2012 dalam Doloksaribu 2016)

  1. Status Gizi

kurang memperhatikan gizi anak seperti, anak jarang makan ikan, anak jarang makan sayur, anak jarang makan buah dan lebih suka makan jajanan yang dibeli di pinggir jalan.

Sejalan penelitian Fahmi (2013) dalam Doloksaribu (2016), sebanyak 58 persen dari balita yang memiliki gizi baik menderita diare, dan 42 persendari balita tersebut tidak diare. Balita dengan gizi tidak baik sebanyak 29 balitadimana sebanyak 38 persen menderita diare, dan 62 persen tidak diare.

Pada balita dengan status gizi tidak baik, angka kejadian diare sebesar 36 persen, angka ini lebihkecil dari angka tidak diare sebanyak 64 persen, hal ini secara perhitungan didapatkan data yang tidak bermakna, di mana pada status gizi tidak baik angka kejadian diarelebih rendah dari pada tidak diare, dan juga pada kelompok status gizi baik, angka kejadian diare lebih tinggi daripada tidak diare.

Penularan Penyakit Diare

Menurut Bambang dan Nurtjahyo (2011) dalam Neni (2019), cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (melalui 4f = finger, files, fluid, field).

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Kuman atau bakteri penyakit diare (Escherichia coli) biasanya akan menyebar melalui fekal-oral atau orofekal. Air merupakan media penularan utama diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum yang tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah atau tercemar saat disimpan di rumah.

Pencemaran di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. (Notoatmodjo, 2007 dalam Neni 2019)

Oleh karena itu perilaku Hygiene sangat berpengaruh terhadap kejadian diare pada anak. Kondisi lingkungan, kebiasaan hidup bersih dan kecukupan gizi pada anak merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh oaring tua untuk mencegah munculnya kejadian diare pada anak.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS