New Normal: Akankan Semua Tak Akan Sama Seperti Sediakala?

Nurul Fauziyyah
New Normal: Akankan Semua Tak Akan Sama Seperti Sediakala?
Ilustrasi konsep new normal (Shutterstock)

New normal merupakan habitual baru yang muncul atas penyesuaian pada kondisi sebelumnya. Sikapi dengan bijaksana jika ingin melalui ini semua dengan segera.

Suara.com - Pandemi dilansir sebagai krisis gobal yang mampu melumpuhkan sebagian besar aktivitas di dunia. Roda ekonomi perlahan terhenti, silaturahmi tak bisa lagi dengan saling menghampiri, serta banyak lagi yang tak seperti saat sebelum ini semua terjadi.

Di sisi lain, inilah waktu bagi sang alam untuk sejenak ‘memejamkan mata’ agar nanti manusia pun bisa semakin bijaksana dalam menyikapi isu-isu yang ada. Fakta lainnya, krisis global menurut penelitian dunia bukan hanya pandemi, namun juga climate change. Semoga semua akan lebih menyiapkan diri dan belajar dari pandemi ini.

Secara langsung dan tidak langsung, pandemi telah mengubah banyak hal dalam aspek kehidupan. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, bisnis dan profesi, pendidikan, kesehatan, kegiatan agama, dan lainnya, semua bergeser menjadi virtual.

Pandemi belum juga bisa diprediksi kapan akan berakhir sehingga pemerintah dan para pembuat keputusan mengeluarkan beberapa kebijakan dan terobosan baru guna memudahkan jalan untuk menghentikan wabah ini, serta untuk bangkit kembali setelah masa pandemi. Salah satu yang dicanangkan adalah kebangkitan dengan “new normal.”

New normal merupakan habitual baru yang muncul atas penyesuaian pada kondisi sebelumnya. New normal memang merupakan langkah awal yang tak mudah sebab meski aktivitas/sektor industri kembali di buka, semua takkan persis sama seperti sedia kala. Kuncinya adalah sikapi dengan bijaksana jika ingin melalui ini semua dengan segera.

Dilansir dari CNN Indonesia, new normal mulai diwacanakan akan terlaksana akhir Mei 2019, namun faktanya hal tersebut mengalami pengunduran karena adanya penyesuaian terhadap kondisi pandemi.

Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, pelaksanaan new normal merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika pemerintah ingin menggerakkan lagi aktivitas ekonomi masyarakat secara normal sehingga seharusnya memang diundur pelaksanaannya karena prediksi puncak peningkatan kasus corona di Indonesia adalah akhir Mei sehingga khawatir berakibat pada pembludakkan kasus positif corona di Indonesia. 

Jika memang diberlakukan new normal, ada beberapa industri yang seharusnya segera dibuka terlebih dahulu guna membantu melonjakkan perekonomian bangsa adalah wisata (khususnya di daerah-daerah sehingga memancing pertumbuhan ekonomi), perdagangan dan jasa, serta transportasi.

Ada pula beberapa sektor yang mungkin bisa ditunda dahulu operasionalnya hingga kondisi memang benar-benar aman, salah satunya yaitu investasi karena investor cenderung masih menahan hasratnya untuk berinvestasi di masa yang belum stabil ini dan publik cenderung lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Sejak digaungkannya “New normal,” memang tak sedikit yang mendukung pelaksanaannya, namun tak sedikit pula yang menentang sebab berkaca pada fenomena yang ada. Pada saat PSBB saja masih banyak yang melanggar protokol keselamatan dan kesehatan yang dianjurkan, apalagi dengan diberlakukannya new normal pada kondisi yang belum aman ini, khawatir justru terjadi pelonjakan kasus positif corona di negeri ini.

Tak sedikit yang masih bertanya-tanya apa itu “new normal” dan karena ketidaktahuannya tersebut cenderung mereka bertindak untuk menolak.

Menurut Ahmad Yurianto dalam Kompas.Com, Juru bicara penanganan corona, mengatakan bahwa new normal lebih menitikberatkan perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat seperti contohnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang sudah mulai dibiasakan sejak masa pandemi ini.

Selain itu, new normal di bidang kesehatan itu  perubahan paradigma pelayanan kesehatan semisal lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi (online service) guna efesiensi dan efektivitas dalam pelayanan kesehatan. Penekanannya bukan menghilangkan offline service namun justru meningkatkan pelayanan dengan juga adanya online service.

Dalam dunia pendidikan, banyak hal yang juga berubah akibat dari pandemi ini. Bukan hanya negatif, namun justru banyak melahirkan hal positif karenanya. Pandemi telah menjadikan pendidikan Indonesia semakin penuh inovasi dan menumbuhkan kreativitas diri.

Hal tersebut merupakan hal penting dalam transformasi pendidikan abad 21 ini, “Deeper Learning.” Deeper Learning membantu mentransformasi pendidikan dengan menekankan pada pemberdayaan hal-hal yang ada dalam kehidupan nyata sebagai bahan pembelajaran utama sehingga proses belajar bukan lagi hanya sekadar penguasaan teori, namun lebih kepada real world contexts.

Proses belajar pada masa pandemi juga telah mengarahkan penidikan ke arah yang lebih positif, bukan hanya dari penguasaan materi baru, namun juga melatih kemampuan problem solving dan critical thinking. Namun, pendidik juga harus menyikapi keingintahuan dan jiwa kritis peserta didik dengan bijak dan benar, bukan malah sakit hati atau benci dengan sikap tersebut.

Memang akan ada beberapa hal yang akan menjadi habitual baru dalam dunia pendidikan setelah ini, seperti menyeimbangkan pembelajaran offline dengan pembelajaran online, entah dari pemberian tugas ataupun pelaksanaan kuis dan lainnya. Dilansir dari EducationWeek. org, Gina Denny menyatakan bahwa akan ada beberapa perubahan yang dilakukan pendidik saat sekolah dibuka kembali, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan online learning secara lebih rutin dalam pemberian tugas atau materi lainnya,
  2. berhenti menilai tugas peserta didik berdasarkan hasil tes teori semata,
  3. memberikan projek dan ujian yang lebih kepada home-based performance,
  4. berkolaborasi lebih dengan para profesional untuk berbagi ilmu dan informasi terkini terkait dengan materi yang dipelajari,
  5. mengatur jadwal yang lebih fleksibel,
  6. serta mengarahkan peserta didik untuk kembali memberdayakan “old people” technology sebab tak sedikit peserta didik yang belum tahu cara atau etika berkomunikasi menggunakan email karena mereka terbiasa berkomunikasi menggunakaan platform media masa kini yang condong tanpa mengedepankan etika namun ego semata.

Pada era “New normal” ini memang dibutuhkan kemampuan komunikasi yang mempuni agar tak terjadi salah salah persepsi atau bahkan ada yang sampai sakit hati.

Oleh: Nurul Fauziyyah/Edukator Milenial

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS