Peran Sri Mulyani dalam Mengembangkan Budaya Organisasi di Kemenkeu

siti marwah adinda
Peran Sri Mulyani dalam Mengembangkan Budaya Organisasi di Kemenkeu
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan pendapat saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/6/2019). [Antara/Nova Wahyudi]

Sri Mulyani merupakan pemimpin visioner yang mampu membuat terobosan dalam mengembangkan budaya organisasi sehingga Kemenkeu menjadi salah satu instansi publik paling inovatif

Suara.com - Peran pemimpin sangat penting bagi suatu organisasi dalam mengembangkan budaya organisasi. Dalam melakukan perubahan budaya organisasi dibutuhkan keberanian dari seorang pemimpin untuk bertindak tegas melakukan sesuatu. Hal ini dibuktikan oleh Kemenkeu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo pada tahun 2013 melakukan reformasi birokrasi pertama yang menekankan pada budaya organisasi yang diberi nama program budaya.

Namun, dalam pelaksaannya masih dapat dikatakan gagal akibat terdapat pergantian pemimpin Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebanyak 3 kali dalam kurun waktu satu tahun yang menyebabkan koordinasiterganggu karena adanya keputusan yang seringkali berbeda dan tata cara pengawasan yang selalu berubah.

Program budaya yang dibangun pada tahun 2013 tidak berjalan sesuai yang diinginkan sehingga pada tahun 2017 ketika Sri Mulyani kembali menjadi menteri, beliau dituntut untuk memperbaiki permasalahan-permasalahan yang ada di Kemenkeu.

Dalam mengatasi permasalahan mengenai nilai budaya di Kemenkeu, Sri Mulyani melakukan revitalisasi budaya. Gerakan revitalisasi Kemenkeu diawali dengan memperkuat penerapan nilai-nilai sesuai dengan faktor organizational ethics, yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai Kemenkeu.

Fokus yang dilakukan Kemenkeu telah sesuai dengan pendapat Robbins dan Barnwell (2006) mengenai teknik dalam mengelola budaya organisasi yakni dibutuhkan pembangunan nilai baru yang kuat yang kemudian ditindaklanjuti.

Nilai-nilai Kementerian Keuangan ada 5 yaitu sebagai berikut:

1. Integritas

Meliputi tutur kata, perilaku, tindakan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip moral, profesionalisme meliputi pekerjaan sesuai dengan target, menguasai dasar kompetensi dengan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.

2. Sinergi

Membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif dan harmonis dengan para pemangku kepentingan. Tujuannya untuk menghasilkan karya yang memiliki manfaat dan berkualitas tinggi.

3. Pelayanan

Meliputi kepuasan dari pemangku kepentingan yang dipenuhi dengan pelayanan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan aman, kesempurnaan yakni mencoba melakukan upaya terbaik di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik (Kementerian Keuangan, 2019).

Peran Sri Mulyani dalam menyukseskan revitalisasi budaya salah satunya dengan mengkampanyekan gerakan masif dalam membangun budaya organisasi Kemenkeu. Gagasan yang menjadi sorotan publik adalah gerakan efisiensi yang merupakan program unggulan dalam mengubah pola pikir serta perilaku para aparat didalamnya agar mampu melaksanakan tugas dan efisiensi anggaran birokrasi sehingga mampu mendorong pelaksanakan RBTK.

Sri Mulyani membentuk gerakan efisiensi sebagai langkah memperbaiki permasalahan yang terdapat di masa sebelumnya serta ingin mewujudkan adanya perubahan pola pikir dan perilaku melalui efisiensi pelaksanaan tugas dan efisiensi anggaran birokrasi.

Gerakan efisiensi yang dibentuk berisikan mengenai kesadaran bersama dalam mengurangi atau menghemat pembelanjaan publik yang dapat dilaksanakan mulai dari diri sendiri untuk mengajak bawahan atau sesama rekan kerja agar terus melaksanakan sikap yang baik. Penghematan ini juga dilakukan dengan cara memangkas anggaran yang dianggap tidak penting.

Proses perubahan budaya sebagai pendukung program RBTK tersebut mulai menghasilkan hasilnya, sebab pada periode setelah diadakannya Program Revitalisasi Budaya Kemenkeu di tangan Ibu Sri Mulyani, Kemenkeu memperoleh berbagai capaian yang membanggakan (Central Transformation Office, 2019).

Capaian pada tahun 2017 antara lain adalah mendapatkan hasil evaluasi reformasi birokrasi nasional tertinggi dengan skor 85,68, Kemenkeu berhasil mendapatkan nilai A Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP), berdasarkan opini WTP Kemenkeu dinilai mampu menciptakan birokrasi yang lebih akuntabel dan bersih.

Beriringan dengan perkembangan zaman, pada tahun 2019 Kemenkeu mengubah RBTK dalam konteks yang lebih modern melalui penerapan aspek digitalisasi. Dalam hal ini Kemenkeu menggunakan Enterprise Architecture (EA) sebagai alat utama menuju Kemenkeu modern berbasis digital.

Dalam pelaksanaan RBTK berbasis digital, Kemenkeu mengadopsi nilai budaya baru yaitu the new thinking of working2019.Hal ini dibentuk sebagai inisiatif strategis dan aspek digitalisasi yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Peran yang dilakukan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan, antara lain membangun dan membentuk komitmen dari para pemimpin sangat dibutuhkan karena otoritas dan kewenangan untuk melakukan suatu perubahan berada di tangan top management, hal ini juga berkaitan dengan pembentukan budaya organisasi melalui organizational ethics(Jones, 2013).

Budaya organisasi perlu dituangkan dalam bentuk peraturan guna mengatur perilaku anggota organisasi, dapat dilihat dari terbitnya peraturan perundang-undangan yakni KMK Nomor 452/KM.1/2018 sebagai dasar hukum persiapan transformasi digital dan KMK Nomor 302/KMK.01/2019 sebagai dasar hukum implementasinya.

Top management tidak hanya berkaitan dengan otoritas, namun juga terkait dengan applying firmleadershipyang kuat sehingga terjadi kesepahaman dan kesatuan komitmen atas budaya baru ini dari tingkat pimpinan hingga seluruh pegawai Kemenkeu, ditambah lagi dengan saat ini new thinking of working sudah menjadi bagian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) (Central Transformation Office, 2019).

Berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaranpegawai terhadap perubahan budaya organisasi dilaksanakan sebagai upaya untuk mengubah pola pikir pegawai, misalnya terkait dengan pemanfaatan teknologi yaitu sejumlah pegawai masih berpikir bahwa teknologi akan mengurangi profesionalisme dan integritas, padahal akan berlaku sebaliknya (DJKN Kementerian Keuangan, 2019).

Kemenkeu telah melaksanakan berbagai upaya tersebut sesuai dengan teknik mengelola budaya organisasi menurut Robbins dan Barnwell (2006) seperti applying appropriate management skillsdengan menugaskan badan khusus yakni TEAM Finance untuk mempersiapkan The New Thinking of Working, juga CTO untuk memastikan dan mengawal implementasi dari perubahan yang ada.

Kemenkeu juga mengadakan pemilihan duta transformasi di antara pegawai sebagai role model penerapan nilai-nilai Kemenkeu (Kementerian Keuangan, 2019). Avoiding micro-managing the details dan seeking political support juga dilaksanakan dengan upaya membangun dan menyebarkan pengaruh kepada seluruh pegawai terkait dengan budaya organisasi baru. melalui pengenalan, focus group discussion,sharing session, workshop, survei, dan sebagainya (Finaldo, et al., 2019).

Perubahan organisasi ini melihat juga pada kesesuaian dan kebutuhan pegawai yang didominasi oleh millennial sehingga resistensi dari pegawai cenderung dapat ditekan, seperti implementasi collaborative working spacedan flexible working spacemampu menghadirkan fleksibilitas waktu dan tempat bekerja sehingga pegawai tidak lagi bekerja di kubikel melainkan open space sehingga kolaborasi antar pegawai dapat ditingkatkan.

Penggunaan video conferencedan office automationmelalui berbagai aplikasi juga turut mendorong penghematan dari sisi waktu maupun biaya, serta mempermudah pelayanan. Fleksibilitas yang tinggi berdampak pula pada tingkat kepercayaan dan tanggung jawab yang meningkat sehingga relasi pimpinan dan bawahan menjadi kuat.

Daftar Pustaka:

Central Transformation Office. (2019). Program Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan: Sharing dengan Badan Ekonomi Kreatif.Jakarta: Central Transformation Office.

DJKN Kementerian Keuangan. (2019, Juli 26). Gabungkan Budaya Kerja dan Teknologi, DJKN Siap Bertransformasi.Retrieved Mei 29, 2020, from Djkn.kemenkeu.go.id: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/berita/baca/18341/Gabungkan-Budaya-Kerja-dan-Teknologi-DJKN-Siap-Bertransformasi.html

Kementerian Keuangan. (2019). Transformation Office.Retrieved Mei 30, 2020, from Kemenkeu.go.id: https://www.kemenkeu.go.id/transformasi-kelembagaan/change-story-kemenkeu/transformation-office/

Finaldo, Widiana, R., Kurniawan, B., Astuti, Y. K., Ayu, S. P., Susmianti, et al. (2019).Buletin Kinerja Edisi XXXIX/Semester 1.Jakarta: Biro Perencanaan dan Keuangan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan. (2019). Nilai-Nilai Kementerian Keuangan.Retrieved from Kemenkeu.go.id: https://www.kemenkeu.go.id/profil/nilai-nilai-kementerian-keuangan/

Central Transformation Office. (2019). Program Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan: Sharing dengan Badan EkonomiKreatif .Jakarta: Central Transformation Office.

Oleh: Siti Marwah Adinda
E-mail : siti.marwah82@ui.ac.id

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS