Menurunnya Moda Transportasi Pada Masa Pandemi Covid-19

karenta nurma gustami
Menurunnya Moda Transportasi Pada Masa Pandemi Covid-19
Ilustrasi moda transportasi saat pandemi Covid-19

Transportasi menjadi parameter utama dengan maraknya pembangunan kota besar di Indonesia, namun dengan terjadinya pandemi Covid-19 pergerakan moda transportasi menurun

Suara.com - Penyebaran wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) seluruh negara di dunia mengalami masa kesulitan, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) menyatakan wabah virus tersebut menjadi pandemi telah menyebar secara global, begitu cepat dari waktu ke waktu. Salah satu dampaknya berakibat pada penurunan pergerakan moda transportasi karena dibatasi adanya kebijakan pemerintah.

Secara umum, pergerakan moda transportasi digunakan sebagai alat pendukung, sarana dan prasarana memudahkan manusia dalam mobilitas, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Moda transportasi ini dapat berupa moda transportasi darat ,moda transportasi udara dan moda transportasi laut, dimana setiap moda tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda-beda (Munawar, 2005).

Transportasi menjadi parameter utama dengan maraknya pembangunan kota besar di Indonesia. Karena sektor transportasi dan perencanaan transportasi, salah satu sektor yang sangat berperan untuk suatu pertumbuhan ekonomi yang menyeluruh. Selain itu, komponennya tidak dapat dipisahkan dari perencanaan membangun sebuah kota.

Dalam perkembangan sistem transportasi, akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang sedang berjalan. Dengan tersedianya saran dan prasarana transportasi yang baik, mampu memberikan pelayanan kepada penduduk masyarakat dalam melakukan mobilitas agar mewujudkan kesejahteraan.

Jika, suatu pergerakan moda transportasi tersebut terhenti. Tentu akan menimbulkan berbagai dampak lain terutama akan terganggunya aktivitas dibidang sosial dan juga rantai perekonomian suatu masyarakat.

Pandemi COVID-19  mengakibatkan dampak yang berpengaruh secara merata di berbagai aspek kehidupan. Salah satu dampak yang terasa, pada penurunan pergerakan moda transportasi. Hal ini dikarenakan pemerintah membuat suatu keputusan dengan adanya sistem sosial baru yaitu sosial distancing maupun physical distancing, dan ditindaklanjuti dengan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakan tersebut, dibuat agar membatasi sebuah roda kehidupan dalam penyebaran wabah COVID-19 yang begitu cepat. Masyarakat dihimbau untuk menghentikan semua aktivitas publik dan membatasi keluar rumah, seperti sekolah, kuliah , kerja sekaligus ibadah semua dilakukan dari rumah serta membatasi akses pergerakan moda transportasi masyarakat ke luar kota dan sebaliknya.

Penurunan pergerakan moda transportasi ini sebagian besar berakibat juga terhadap omzet, dimana akan berdampak pula ke dalam rantai perekonomian. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan menyebutkan , adanya penurunan omzet secara signifikan pada angkutan barang 25 persen sampai 50 persen.

Sedangkan, penurunan pada angkutan penumpang , seluruh moda telah mencapai 75 persen sampai 100 persen, bahkan bagi angkutan pariwisata telah mencapai 100 persen. Dalam penurunan ini terjadi di berbagai daerah, salah satunya terdapat di wilayah Jabodetabek.

Di wilayah Jabodetabek, Angkutan umum menurun tidak seperti biasanya selama wabah COVID-19 tersebut. Bahkan, pergerakan moda transportasi sudah mengalami penurunan sebelum di berlakukannya Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta.

Oleh karena itu, Transportasi masih dibutuhkan dan tidak dihentikan agar suatu perekonomian tetap berjalan. Menurut surat Dirjen Perhubungan Darat, Udara dan Laut, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) fokus dalam melakukan pengendalian transportasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini adalah kebijakan yang minim resiko, pemerintah mau rantai perekonomian tetap jalan akan tetapi juga mencegah penyebaran COVID- 19.

Dalam keadaan seperti ini, Pemerintah harus cepat tanggap menyelesaikan permasalahan yang dibilang berat , bukan hanya pemerintah saja, namun masyarakat juga memiliki pengaruh besar dalam memutus rantai penyebaran COVID-19.

Masyarakat memiliki kewajiban dan harus lebih sadar mematuhi kebijakan dari pemerintah dalam penanganan COVID-19. Untuk itu, pemerintah dan semua lapisan masyarakat harus bekerja sama melawan virus tersebut. Guna mencegah dan mengurangi penyebaran virus agar permasalahan cepat tertuntaskan.

Oleh: Karenta Nurma Gustami/Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS