Menyoroti Gaya Kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta dalam Menghadapi COVID-19

kavin rizqy mubarok
Menyoroti Gaya Kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta dalam Menghadapi COVID-19
Sri Sultan Hamengkubuwono X. [Suara.com/Putu Ayu P]

Jogja dapat menekan angka kasus corona di daerahnya, kuncinya berada dalam model Kesultananan Yogyakarta dan resistensi dari warga lokalnya

Suara.com - Sebagai salah satu dari empat provinsi di Indonesia yang diberikan hak otonomi khusus, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki ciri pemerintahan kerajaan dalam mengurusi bidang pemerintahannya sendiri.

Hal ini dilatarbelakangi oleh faktor sejarah dan budaya yang panjang hingga pada akhirnya provinsi tersebut memakai cara kesultanan dalam tubuh pemerintahannya.

Sistem kerajaan inilah yang menjadi ciri di mana Yogyakarta memiliki pemerintahan daerah yang berbeda dengan daerah-daerah lainnya, hal ini pun juga akan berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan sebagai pemimpin daerah, proses dan keputusan kebijakan yang dibuat, serta respon resistensi dari masyarakat lokal.

Isu kebijakan tentang corona yang saat ini menjadi prioritas misalnya, Provinsi Yogyakarta memiliki gaya tersendiri dalam mengatur rakyatnya guna terbebas dari wabah virus tersebut.                             

Bila dikaitkan dengan teori pendekatan kepemimpinan klasik, pendekatan kepemimpinan yang sesuai dengan kesultanan Yogya ialah pendekatan kepemimpinan sifat (trait approach).

Yukl (1989) berpendapat bahwa dalam pendekatan ini, berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi masing-masing, sehingga pemimpin yang berhasil sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin.

Dengan berkunci kepada kepribadian individu, seorang pemimpin daerah Yogyakarta, yakni sultan, memiliki ciri-ciri kepribadian yang menjadikannya sebagai pemimpin yang layak, seperti energi yang tiada habisnya, ketajaman intuisi, wawasan yang sangat luas, dan kemampuan mempengaruhi/mempersuasi yang tak dapat ditolak.                                 

Dengan model yang seperti ini, kesultanan Yogyakarta melalui pemikirannya mengeluarkan kebijakan-kebijakan guna memberantas virus corona di daerah Yogyakarta. Pada awal mula virus corona muncul di Indonesia, yakni bulan Maret,

Sultan Hamengkubuwono X secara tanggap melakukan koordinasi dengan memanggil kelima kepala daerah kabupaten/kota se-Yogyakarta untuk mengambil langkah preventif guna mencegah penyebaran virus corona.

Hal ini terasa tepat dilakukan mengingat wilayah Yogyakarta merupakan salah satu pusat rekreasi dan pendidikan yang ramai didatangi oleh warga non-lokal.

Dalam pertemuan tersebut Sultan Hamengkubuwono membahas tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kebijakan tentang corona, antara lain fasilitas kesehatan rujukan, penanggulangan pasien, skema isolasi wilayah, kegiatan belajar mengajar, serta himbauan-himbauan pencegahan preventif guna mengedukasi masyarakat.                                                                   

Gaya Kepemimpinan Karismatik Sultan Hamengkubuwono X

Gaya kepemimpinan dari Sultan Hamengkubuwono X dalam mengedukasi masyarakat dan memberi arahan-arahan terkait pencegahan terhadap corona juga menjadi kunci.

Ini bisa dilihat dari bagaimana Sultan Hamengkubuwono pada bulan Maret lalu memberikan pidato yang berisi intsruksi bagi masyarakat lokal di era pandemi saat ini.

Bila dikaitkan dengan teori gaya kepemimpinan, gaya kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta menganut gaya kepemimpinan kharismatik yakni di mana seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas, yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi.

Hal inilah yang menjadi suatu budaya mengapa masyarakat asli Yogyakarta sangat menghormati pemimpinnya dan patuh terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil, sehingga arahan-arahan preventif tersebut dapat terimplikasikan dengan baik.

Dengan memakai gaya kepemimpinan kharismatik tersebut, cenderung tidak ada resistensi dari kelompok-kelompok masyarakat sehingga kebijakan dapat berjalan secara efektif.                                         

Mungkin dapat dikatakan bahwa kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Yogyakarta cenderung sama dengan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah lainnya, yakni dengan pemberlakuan isolasi wilayah, pengedukasian kepada masyarakat, pengalihan kegiatan belajar mengajar melalui sistem daring, dan kebijakan lainnya.

Namun, yang dapat diperhatikan adalah bagaimana peran pendekatan dan gaya kepemimpinan kesultanan dalam memberikan pengaruh ke masyarakat.

Pemimpin dapat memakai kekuasaannya untuk memberikan pengaruh kepada masyarakat dan unsur-unsur yang dipimpinnya, sehingga akibat dari pengaruh yang timbul dari unsur yang dipimpinnya adalah komitmen, kepatuhan, ataupun suatu resistensi.

Dalam hal Yogyakarta, respons yang muncul dari pengaruh yang diberikan pemerintah adalah suatu komitmen dan kepatuhan dalam upaya bersama melawan corona.                                                              

Dengan didukung oleh sistem budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta, kerjasama yang terbentuk antara Kesultanan Yogyakarta sebagai pengambil kebijakan dengan masyarakat lokal merupakan suatu kolaborasi efektif dalam mencegah penyebaran virus corona.

Hal ini dapat dilihat bagaimana hingga saat ini, Provinsi Yogyarakarta dapat menekan angka penyebaran corona hingga saat ini, yakni (per tanggal 21 Juni 2020) dilansir dari laman covid19.go.id terdapat 285 warga yang dinyatakan positif corona.

Dengan jumlah tersebut, Yogyakarta hanya menyumbang sekitar 0,6% dari kasus keseluruhan yang ada di Indonesia dan bila dibandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa, kasus corona di Yogyakarta merupakan kasus terminim diantara provinsi-provinsi lainnya.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS