Amarah Wali Kota Risma dari Sudut Pandang Kepemimpinan

david malchiel ravanelli
Amarah Wali Kota Risma dari Sudut Pandang Kepemimpinan
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (Foto dok. Humas Pemkot Surabaya)

Risma mengedepankan kekuasaan formal organisasi yaitu legitimate power dan coercive power dalam proses mempengaruhi anak buahnya yang tidak bekerja dengan baik

Suara.com - Tri Rismaharini atau yang biasa disebut Risma adalah Walikota Surabaya periode 2010-2015 dan 2016-2021, sebelumnya beliau merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kota Surabaya yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko).

Risma berhasil mengubah wajah Surabaya menjadi kota yang bersih, nyaman, dan ramah anak, hal itu dapat terwujud karena pengelolaan sampah yang baik dan pembangunan taman serta fasilitas publik bagi masyarakat.

Per Juli 2019, Risma telah berhasil mendapatkan kurang lebih 259 penghargaan dalam berbagai aspek baik secara individu maupun instansi dari dalam dan luar negeri.

Pujian pun berdatangan dari berbagai kalangan, baik itu masyarakat, pengamat, politisi, dan akademisi. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoan, dalam International Forum of Women in Local Government 2019, ikut memuji Risma sebagai sosok perempuan yang inspiratif.

Kritik Kepemimpinan Risma

Kesuksesan Risma dalam memimpin Surabaya tidak terlepas dari kritik, khususnya terkait dengan amarah Risma yang kerap kali meledak di depan publik.

Beberapa di antaranya yang sempat viral di media sosial adalah ketika memarahi panitia acara Wall's Ice Cream Day Mei 2014, memarahi Tim IT saat sidak e-KTP September 2016, memarahi PNS Pemkot Surabaya yang tertawa saat apel pagi Oktober 2017, hingga yang terbaru terkait dengan polemik mobil PCR antara Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur dalam penanganan Covid-19.

Pada kasus yang terakhir yaitu pada tanggal 29 Mei 2020, bantuan mobil PCR dari BNPB ternyata batal beroperasi di Kota Surabaya dan beralih ke Kabupaten Tulungagung, alhasil Risma marah dan terus melanjutkan pembicaraan dengan nada tinggi melalui sambungan telepon.

Setelah kejadian tersebut, terjadi saling klaim di media massa antara Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur terkait pihak mana yang lebih dahulu meminta bantuan kepada BNPB, hal ini oleh banyak pihak dimaknai sebagai lanjutan dari perseteruan antara Risma dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, karena adanya rivalitas politik dan juga perbedaan pendapat dalam penanganan Covid-19 sejak awal.

Banyak pihak menyayangkan kesalahan komunikasi dan koordinasi yang ditambah dengan ego sektoral pemimpin tersebut terjadi, sebab narasi yang dibangun justru tidak diperlukan karena hanya akan mengganggu upaya penanganan Covid-19.

Berkaca dari beberapa kasus di atas, kemarahan Risma sejatinya tidak selalu berhasil menyelesaikan masalah. Emosi yang berlebihan ditambah dengan kata-kata kasar, sejatinya hanya akan menimbulkan masalah baru dan bukan cara yang efektif dalam penyelesaian masalah.

Yukl (2013) dalam bukunya Leadership in Organizations menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya untuk mencapai tujuan bersama.

Ketika menghadapi pegawai yang tidak berkinerja baik atau situasi tertentu yang secara spontan menguras emosi, Risma mengedepankan kekuasaan formal organisasi yaitu legitimate power dan coercive power dalam proses mempengaruhi anak buahnya atau stakeholder terkait.

Risma dalam wawancara bersama Rosi Silalahi Februari 2020, mengaku terpaksa marah kepada pegawai yang susah diatur atau pihak yang lalai dalam menjalankan tugasnya karena khawatir kebijakan yang dilaksanakan dapat merugikan masyarakat, oleh sebab itu marah Risma ditujukan agar penyelesaian masalah dilaksanakan dengan cepat.

Robbins dan Judge (2018) menyatakan bahwa sejatinya hingga saat ini sumber kekuasaan yang efektif bukan berasal dari jabatan pemimpin, melainkan dari dalam diri pemimpin itu sendiri, yakni referent power yaitu sumber kekuasaan yang muncul dari perasaan, kekaguman, dan loyalitas yang kuat terhadap pemimpin yang akan meningkatkan kepuasan pegawai, kinerja pegawai, dan komitmen terhadap organisasi.

Marah Risma boleh jadi merupakan upaya untuk mempengaruhi orang lain untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, namun belum tentu tepat dan berdampak baik bagi individu pegawai.

Bolehkah Pemimpin Marah di Depan Publik?

Menurut Gini dalam Yukl (2013), penekanan yang utama sejatinya bukan pada apakah pemimpin menggunakan kekuasaannya, namun lebih kepada apakah pemimpin menggunakan kekuasaannya tersebut dengan baik dan bijaksana.

Hal tersebut juga terkait dengan kepemimpinan etis yang memiliki nilai-nilai seperti integritas, altruisme, kerendahan hati, empati, pengembangan diri, keadilan, serta pemberdayaan.

Robbins dan Judge (2018) menilai kepemimpinan etis merupakan bagian penting dalam efektivitas kepemimpinan karena akan mempengaruhi anak buah sepanjang struktur komando.

Oleh sebab itu, Risma sebagai pemimpin Surabaya harus mempertimbangkan tindakan yang sesuai dengan standar etika jabatan publik dan etika bermasyarakat.

Risma boleh saja marah di depan publik, namun tetap pada batas tertentu dengan mempertimbangkan kebijaksanaan dalam berperilaku, sebab pemimpin adalah contoh bagi masyarakat dan membawa nama baik institusi.

Marah memang dapat dimaknai sebagai bentuk komunikasi yang terbuka dan jujur dari seorang pemimpin, namun bukan untuk merendahkan orang dan memperlakukannya dengan tidak hormat. Pemberdayaan pegawai justru harus dikedepankan dengan mendorong dan memfasilitasi anak buah agar belajar dari kesalahan, sehingga tidak menimbulkan konflik disfungsional dan berkepanjangan yang dapat menghambat kinerja organisasi.

Kepemimpinan Melayani ala Risma

Terlepas dari karakter yang emosional, Risma sejatinya adalah pemimpin yang merupakan pelayan bagi masyarakat. Menurut van Dierendonck, servant leadership adalah gaya kepemimpinan yang mengedepankan pengembangan bagi orang lain melampaui kepentingan pribadi.

Gaya kepemimpinan servant leadership ini mencerminkan pemimpin yang selalu memperhatikan kebutuhan masyarakat, bersedia mendengarkan aspirasi, menginspirasi, membela apa yang baik dan benar, serta menentang ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Setidaknya dalam beberapa aspek, Risma telah memenuhi kriteria tersebut, Risma tidak hanya bekerja di balik meja, namun juga sering blusukan untuk bertemu dan mendengar aspirasi dari masyarakat secara langsung.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada pelayanan publik dan kebijakan yang menyulitkan atau merugikan masyarakat. Pengetahuan mengenai keadaan akar rumput juga diperlukan agar Pemkot Surabaya menghasilkan kebijakan yang pro rakyat.

Risma juga sering turun langsung memimpin pekerjaan lapangan seperti misalnya pembersihan sampah di saluran air saat terjadi banjir, ikut mengatur lalu lintas saat macet, dan ikut membantu dalam penyemprotan disinfektan.

Hal tersebut beliau lakukan sebagai upaya menjamin komunikasi dan koordinasi antar dinas terkait untuk bekerja demi kepentingan bersama, tanpa adanya ego sektoral masing-masing pihak.

Berbagai pihak menilai apa yang Risma lakukan hanyalah sebatas pencitraan politik saja, namun pro kontra terhadap tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin merupakan hal yang wajar. Sejatinya, pemimpin hadir bukan untuk menyenangkan semua pihak, mengutip perkataan dari Steve Jobs, “If you want to make everyone happy, don't be a leader, sell ice cream”.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS