Demokrasi dan Otoritarianisme: Kepemimpinan Pada Masa Krisis

adi perwira purba
Demokrasi dan Otoritarianisme: Kepemimpinan Pada Masa Krisis
Ilustrasi demokrasi. (Shutterstock)

Di beberapa negara, pandemi ini telah mengakibatkan erosi dan pelemahan nilai-nilai dan praktik demokrasi sekaligus membuka jalan kembali kepada tegaknya otoritarianisme.

Suara.com - Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 telah membuka banyak ruang permenungan terhadap berbagai hal. Pada aspek ekonomi, bertebaran tulisan dengan tajuk yang hampir mirip satu sama lain: wajah ekonomi setelah pandemi. Dalam teropong yang lebih luas, refleksi tersebut bahkan berusaha untuk memberi prediksi terhadap struktur dunia dalam kenormalan baru (new normal).

Percakapan tersebut pada akhirnya juga tak luput berbicara mengenai advokasi terhadap perubahan sistem-sistem politik. Kehadiran pandemi ini dijadikan kuas untuk melukis ide-ide politik yang dulu mungkin dianggap cukup radikal.

Perbandingan dengan melihat negara-negara lain yang dianggap berhasil menangani pandemi ini memberi ruang terhadap penyerapan nilai-nilai (values) bahkan tendensi untuk melakukan impor ideologi.

Tak jarang, komparasi ini memunculkan kembali garis demarkasi antara politik sayap kiri (left wing) dengan sayap kanan (right wing).

Ben Rhodes, mantan Wakil Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, turut mengomentari fenomena ini dalam akun twitternya dengan melakukan klaim bahwa negara-negara yang menangani pandemi ini secara buruk sebagian besar adalah negara-negara nasionalis sayap kanan.

Konstelasi argumen sistem politik dunia turut membawa demokrasi ke gelanggang pertarungan. Kerugian material yang besar—kehancuran ekonomi menuju resesi—sampai kepada kematian beribu-ribu warga negara telah memberi dorongan untuk mengembalikan kekuasaan politik eksekutif yang lebih besar dan sentralistik.

Di beberapa negara, masa transisi ini telah mengakibatkan erosi dan pelemahan nilai-nilai dan praktik demokrasi sekaligus membuka jalan kembali kepada tegaknya otoritarianisme.

Kelahiran Baru Otoritarianisme

Keadaan serba genting dan penuh ketidakpastian membuat banyak orang mengubah pikirannya. Di masa sebelum pandemi, setiap orang merasa prinsip kebebasan adalah sesuatu yang tidak boleh dicampuri sesuka hati oleh negara.

Namun, belakangan ini, dukungan terhadap tangan besi pemerintah dalam hal memberlakukan pembatasan-pembatasan justru bertambah walaupun harus memasuki wilayah privasinya sebagai warga negara.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS