Desa Tompobulu: Destinasi Wisata Baru dengan Kearifan Lokal dan Ekonomi yang Tumbuh Bersama BRI
Suara.com - Terletak di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, Desa Tompobulu di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, menyimpan potensi alam, budaya, dan kuliner yang kini berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Tompobulu, Abdul Kadir Hakim menjelaskan, mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai petani, namun desa ini juga memiliki kekayaan kuliner tradisional, salah satunya saraba daun kelor yang menjadi minuman khas masyarakat setempat. Seiring waktu, potensi wisata mulai menjadi pendorong baru bagi ekonomi desa. Meski beberapa destinasi masih dalam tahap pengembangan, optimisme masyarakat tetap tinggi karena pariwisata diyakini mampu menjadi penopang masa depan perekonomian desa.
Empat tahun terakhir, Tompobulu mencatat capaian membanggakan. Desa ini pernah menjadi juara nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), meraih penghargaan tingkat nasional dalam Lomba Desa Pariwisata Kemendes, menyabet juara dua tingkat provinsi, hingga masuk nominasi desa terbaik dalam Lomba Desa BRILiaN. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa potensi Tompobulu semakin dikenal dan mendapat pengakuan.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ujar Abdul Kadir Hakim.
Dia menjelaskan, masuknya program Desa BRILiaN di Tompobulu berawal dari kedekatan masyarakat dengan layanan BRI. Hampir seluruh warga merupakan penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bermitra dengan BRI dalam pengembangan usaha UMKM. Kedekatan inilah yang mendorong BRI menjadikan Tompobulu sebagai desa binaan, sekaligus membuka jalan bagi pendampingan ekonomi, digitalisasi, hingga peningkatan kapasitas pengelolaan desa.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Irwandi menjelaskan, potensi wisata Tompobulu terbagi dua, yakni yang berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan yang berada di luar kawasan tersebut. Salah satu titik yang paling mencuri perhatian adalah Puncak Pendagang Bulu Sarang di Dusun Bulu-Bulu dengan ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut. Keindahan alam ini memberikan peluang besar untuk mendongkrak pariwisata, meskipun saat ini desa masih terus memperkuat fasilitas dan pengelolaan. Irwandi optimistis bahwa dalam beberapa tahun ke depan, pariwisata akan menjadi salah satu sektor paling menjanjikan bagi ekonomi Tompobulu.
“Insya Allah untuk ke depan, Pariwisata adalah suatu potensi yang menjanjikan untuk peningkatan ekonomi Masyarakat,” ujarnya.
Kearifan lokal juga menjadi kekuatan lain dari desa ini. Hasni, Ketua Klaster Saraba Daun Kelor, menceritakan bagaimana minuman berbahan jahe dan daun kelor tersebut kini telah menembus pasar luar kota. Pemasarannya dilakukan secara sederhana, yakni dengan menitipkan produk ke toko dan warung di berbagai daerah.
“Kami mengenalkannya dengan membawa produk ke toko dan warung-warung,” jelas Hasni.
Hal serupa juga terlihat pada usaha gula aren yang dikelola Mahmud bersama kelompoknya. Tradisi pembuatan gula aren diwariskan dari nenek moyang dan tetap dipertahankan hingga kini. Prosesnya masih dilakukan secara gotong royong, mulai dari mencari kayu bakar, memasak, hingga mendistribusikan produk. Selain dijual langsung di desa, gula aren juga dibawa ke kota ketika permintaan meningkat.
Di sisi lain, keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) turut memainkan peran penting. Direktur BUMDes, Andi Ruan Naharan, menjelaskan bahwa desa menghadapi tantangan keterbatasan jaringan seluler, sehingga BUMDes menghadirkan layanan Wi-Fi sebagai solusi akses telekomunikasi bagi warga. Selain itu, BUMDes mengelola beberapa unit usaha seperti depot air galon, penyewaan alat musik, barbershop, hingga usaha pengembangbiakan ternak. Saat ini, desa juga sedang membangun unit usaha wisata kuliner dan ketahanan pangan. BUMDes diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus sumber pendapatan asli desa (PAD).
“Dengan adanya BUMDes ini, diharapkan bisa menjadi penggerak perekonomian yang ada di desa dan bisa jadi pemasukan bagi desa melalui PAD yang ada di BUMDes,” urainya.
Dari sisi perbankan, BRI memegang peran strategis dalam perjalanan Tompobulu. Kepala Unit BRI, Muhammad Chaerat Akbar, menjelaskan bahwa BRI melihat potensi besar Tompobulu dalam sektor wisata, pertanian, perkebunan, peternakan, hingga budaya. BRI hadir melalui beragam layanan seperti penyaluran KUR, penguatan agen BRILink di BUMDes, penggunaan pembayaran nontunai melalui QRIS, serta pemanfaatan aplikasi BRImo untuk mempermudah transaksi masyarakat. Ia berharap perekonomian Tompobulu terus meningkat dan dapat menjadi contoh bagi desa lain untuk ikut mengembangkan potensinya.
“Tentunya harapan kami di BRI melihat desa Tompobulu ini ke depannya tentunya desa Tompobulu ini bisa perekonomian lebih meningkat, dan tentunya kami harapkan juga untuk desa-desa yang lain bisa mendaftarkan lewat desa berilihan untuk mengembangkan potensi-potensi di desa yang ada,” jelasnya.
Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menambahkan bahwa program Desa BRILiaN merupakan inisiatif strategis BRI untuk memperkuat perekonomian desa di Indonesia. Program ini berfokus pada empat pilar: penguatan BUMDes dan koperasi desa, digitalisasi layanan keuangan, keberlanjutan ekonomi, serta inovasi dalam menciptakan solusi desa. Saat ini, lebih dari 5.000 desa telah tergabung dalam program ini dan terus mendapatkan pendampingan.
“Di dalam inovasi, Bank BRI mendorong kreativitas seluruh masyarakat desa dalam menciptakan solusi atas tantangan di desa masing-masing. Kita akan terus melakukan pendampingan dan pemberdayaan di desa-desa tersebut,” urainya.
Desa Tompobulu kini berdiri sebagai contoh nyata bagaimana potensi lokal, kekuatan komunitas, dan kolaborasi dengan lembaga keuangan dapat mengangkat ekonomi desa. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat dan program berkelanjutan dari BRI, Tompobulu perlahan tumbuh menjadi desa wisata yang berdaya, kreatif, dan siap menjawab tantangan masa depan.***