BBRI Sedang Diskon! Begini Kata Analis Soal Potensi Sahamnya

BBRI Sedang Diskon! Begini Kata Analis Soal Potensi Sahamnya


Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) semakin memperkokoh posisinya sebagai pemimpin di industri perbankan nasional.

Bank pelat merah ini kini dijagokan sebagai salah satu kandidat paling kuat untuk memboyong penghargaan bergengsi dalam ajang The Best Investortrust Companies 2026.

Penghargaan tahunan yang diinisiasi oleh Investortrust ini diberikan sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi emiten-emiten dengan performa paling cemerlang di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Masuknya bank yang fokus pada pembiayaan komersial dan UMKM ini ke dalam jajaran nominasi didorong oleh rekam jejaknya dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis secara konsisten.

BRI dinilai memiliki fundamental keuangan yang kokoh, tingkat profitabilitas yang tinggi, serta likuiditas posisi kas yang sangat sehat.

Selain itu, perseroan juga dinilai sukses memperluas ekosistem layanannya guna menjawab berbagai dinamika kebutuhan masyarakat modern saat ini.

Melihat ke belakang, sepanjang tahun buku 2025, BRI berhasil membukukan kenaikan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) dari Rp116,37 triliun menjadi Rp119,43 triliun.

Adapun laba bersih yang berhasil dikumpulkan untuk setahun penuh mencapai Rp56,65 triliun, sedikit bergeser dari capaian periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp59,94 triliun.

Kinerja tahun lalu tersebut ditopang oleh tingkat margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) yang bertengger kuat di level 7,7% serta pertumbuhan penyaluran kredit yang menembus angka 12%.

Tren pertumbuhan tersebut semakin melesat memasuki awal tahun ini. Pada kuartal I-2026, BRI berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang sangat impresif, yakni melonjak 13,8% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp15,63 triliun, dibandingkan perolehan kuartal I-2025 yang sebesar Rp13,74 triliun.

Rapor hijau ini sejalan dengan raihan PPOP yang terkerek naik dari Rp29,80 triliun menjadi Rp32,18 triliun. Keberhasilan ini juga ditopang oleh pertumbuhan kredit yang melaju hingga 13,7% serta ekspansi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang tumbuh subur sebesar 13,2%.

Analis dari KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, dalam riset terbarunya memaparkan bahwa performa keuangan BRI pada triwulan pertama tahun ini bergerak sangat solid.

Menurutnya, mesin pertumbuhan laba bersih perseroan dipicu oleh efisiensi di pos biaya dana (cost of funding) yang turun tajam, alokasi biaya provisi yang lebih rendah, serta kokohnya perolehan dana murah di dalam struktur pendanaan bank.

Realita di lapangan ini mendorong KB Valbury Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi BUY (Beli) untuk saham BBRI. Target harga yang dipasang berada di level Rp4.010 per lembar saham, yang mencerminkan valuasi Price to Book Value (PBV) sebesar 1,8 kali untuk tahun 2026.

Saat ini, saham BBRI dinilai sangat atraktif dan terdiskon karena diperdagangkan pada level 1,4 kali PBV 2026, posisi yang berada di bawah level minus dua standar deviasi historisnya.

“Kinerja laba BBRI pada kuartal I-2026 sudah sejalan ekspektasi kami maupun konsensus pasar untuk tahun penuh 2026, dengan realisasi mencapai sekitar 26% dari proyeksi laba setahun penuh. Pertumbuhan laba ditopang pendapatan bunga bersih yang tetap kuat di tengah tren penurunan yield kredit,” tulis Akhmad Nurcahyadi dalam risetnya.

Salah satu poin plus yang menjadi sorotan positif bagi KB Valbury Sekuritas adalah kepiawaian BRI dalam menghimpun dana masyarakat.

Tabungan perseroan tumbuh sebesar 11,5% secara tahunan, di mana motor penggerak utamanya berasal dari segmen affluent saving account yang melonjak drastis hingga 45,5%.

Data ini membuktikan bahwa strategi BRI dalam memikat likuiditas dari kelompok nasabah kelas atas berjalan sangat efektif.

Kenaikan porsi CASA ini memegang peran krusial dalam menekan beban bunga, yang pada akhirnya menebalkan margin keuntungan di awal tahun.

Dari sisi intermediasi, total penyaluran kredit BRI hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp1.526,45 triliun atau tumbuh 13,7% secara tahunan.

Akselerasi pembiayaan ini sukses melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional pada periode yang sama, bahkan melompati target internal manajemen serta proyeksi para analis pasar modal.

Menariknya, pertumbuhan kredit kali ini digerakkan secara agresif oleh segmen korporasi yang mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 42,1% secara tahunan.

Transformasi ini mengubah peta portofolio kredit BRI, di mana porsi kredit korporasi terhadap total pembiayaan naik signifikan dari sebelumnya 18% menjadi 22,5% pada kuartal pertama tahun ini.

Menatap sisa tahun ini, manajemen BRI memasang target pertumbuhan kredit yang realistis dan terukur di kisaran 7% hingga 9% sepanjang tahun penuh 2026.

Sementara itu, indikator NIM diproyeksikan akan tetap terjaga di level premium pada rentang 7,4% hingga 7,8%, dengan perkiraan tingkat biaya kredit (Cost of Credit/CoC) bergerak stabil di kisaran 2,9% hingga 3,2%.


Copyright © 2026 Suara.com - BRI. All rights reserved.