SuaraBandungBarat - Benci, cinta, kasih serta lain sebagainya barangkali biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Seseorang dapat merasakan jatuh cinta tetapi di sisi lain mereka pun dapat merasakan benci yang begitu mendalam.
Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri mendefinisikan arti benci sebagai perasaan atau tindakan sangat tidak suka, misalnya: Sangat tidak suka kepada penjilat. Artinya ia benci terhadap perilaku para penjilat.
Lantas bagaimana jadinya jika kita membenci seseorang karena perilakunya, tetapi ketika kita telah lama tidak berinteraksi dengan dirinya kebencian itu seolah-olah hilang namun saat tetiba mengingatnya, kita menjadi benci kembali? Untuk menjawab hal tersebut berikut adalah penjelasan Buya Yahya.
Buya menggarisbawahi jika apa yang disebut dengan benci, tidak akan serta merta hilang akan tetapi kita diberi kesempatan oleh Allah di saat diberi benci ini untuk memerangi kebencian.
"Ia benci dalam hati memang tidak mudah untuk dihilangkan akan tapi yang wajib Anda lakukan adalah yang penting anda menyesal Anda menganggap kebencian adalah sebuah keburukan" ungkap Buya Yahya.
Namun, jika kebencian itu tetap tidak hilang namun kita menyesal dan menganggap itu sebuah keburukan maka Allah yang akan menghilangkannya. Kedua yang terpenting dan sering dilupakan adalah jangan sampai perilaku kita berubah saat membenci, hati benci tetapi kita tetap tersenyum dan sebagainya itu dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk jihad.
"Maka, jangan sampai kebencian kita dilahirkan dalam perilaku zahir" papar Buya Yahya.
Benci dalam hati memang susah untuk dihilangkan, tetapi seorang ahli iman tidak mungkin akan terpengaruh. Bahkan ketika seseorang dijahati alangkah baiknya dibalas dengan kebaikan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
"Kelebihan manusia yang diberikan oleh Allah SWT itu adalah diberikan hawa nafsu kemudian dilawan," paparnya lebih lanjut.
Baca Juga: Yamaha Tebar Kejutan dan Promo Khusus Bagi Konsumen, Rayakan Hari Pelanggan Nasional
Ia menganggap bahwa iri, dengki, benci dan sebagainya adalah perilaku yang biasa-biasa saja tetapi kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia adalah adanya kekuatan untuk melawan hal tersebut.
"Jangan sampai berkata aku tidak punya dendam, tidak punya benci, jangan bohong tetapi kelebihan kita adalah punya cara untuk melawannya dan jangan sampai terlarut dalam perilaku tersebut" lanjutnya.
Ia pun memaparkan bahwa seorang ahli iman ketika ia benci terhadap seseorang tidak berpengaruh terhadap perilaku zahirnya. (*)