Mamanda adalah kesenian teater tradisional yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin.
Mamanda diibaratkan teater ala Lenong Betawi atau Ketoprak dan Ludruk di Jawa yang biasa dipentaskan oleh masyarakat Banjar.
Dalam pementasannya, para lakon ini juga menggunakan Bahasa Banjar.
Biasanya, cerita dalam Mamanda selalu mengisahkan rivalitas kebaikan dan keburukan yang dikemas dalam suasana kerajaan.
Dikutip dari laman Kemendikbud, Mamanda merupakan perpaduan antara seni tari, seni musik (tetabuhan), lagu (nyanyian), dan seni peran.
Lakon yang digunakan berasal dari pakem cerita syair dan hikayat serta lakon karangan pemain, yang disebut lakon carangan.
Lakon-lakon pakem yang ada di antaranya adalah Kisah Seribu satu Malam, Syair Abdoel Moeloek, Syair Siti Zibaidah, dan Hikayat Si Miskin.
Teater ini sangat dinamis sehingga ia dapat memadukan kesenian populer di dalamnya, misalnya penggunaan musik pop sebagai pengiring.
Mamanda dipentaskan dalam berbagai perhelatan oleh masyarakat Banjar, mulai dari resepsi pernikahan hingga perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: CEK FAKTA: Menyerahkan Diri, Pelaku Utama Penjegalan Anies Baswedan Ngaku Diperintah Istana
Adapun sejarah teater mamanda ini bermula dari perkembangan teater tradisional lain di daerah Kalimantan Selatan, yaitu wayang urang dan wayang gung.
Wayang gung telah dikenal sejak abad ke-11 M, yaitu ketika kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan.
Kemudian teater tradisional di Kalimantan Selatan juga dipengaruhi oleh tradisi lisan dari Melayu, yaitu syair Abdoel Moeloek yang dibawa oleh serombongan seniman asal Malaka sekitar abad ke-18.
Sebelum bernama Mamanda, dulunya di Kalimantan Selatan ini dikenal dengan Komedi Indra Bangsawan.