Kesalahan Informasi Tentang Vape Membuat Perokok Kembali ke Tembakau

Iwan Supriyatna

Rabu, 18 Desember 2019 | 08:31 WIB
Kesalahan Informasi Tentang Vape Membuat Perokok Kembali ke Tembakau
Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)

Suara.com - Mantan Direktur Riset World Health Organization (WHO) yang juga seorang akademisi dari National University of Singapore, Profesor Tikki Pangestu mengatakan bahwa kesalahan informasi tentang produk alternatif seperti rokok elektrik dapat menghambat upaya penyelesaian masalah rokok.

Dalam presentasinya tentang upaya pengurangan dampak buruk rokok (harm reduction) di Asia pada kesempatan E-Cigarette Summit 2019 di London baru-baru ini, Prof. Tikki menjabarkan sejumlah tantangannya dan salah satunya adalah pembuat kebijakan yang salah informasi.

“Pada Januari tahun ini, seorang pembuat kebijakan senior di salah satu negara Asia membuat pernyataan ini dalam sebuah forum publik, Pemuda yang pernah menggunakan rokok elektrik punya kecenderungan lebih besar untuk menjadi perokok reguler. Rokok elektrik bukanlah alternative yang lebih sehat dari rokok biasa, juga tidak membantu orang berhenti merokok," kata Prof. Tikki, Rabu (18/12/2019).

"Ini adalah masalah nyata yang kita hadapi di banyak negara Asia, pembuat kebijakan memilah bukti sesuai dengan kepentingan mereka untuk mempertahankan posisi masing-masing. Tapi, seperti yang dikatakan Daniel Moynihan, semua orang berhak berpendapat, namun tidak ada yang bisa memanipulasi fakta,” Prof. Tikki menambahkan.

Kekhawatiran yang sama juga disampaikan oleh Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI), Dimasz Jeremia. Ia memberikan contoh yang terjadi pada hasil penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine pada tahun 2015.

Penelitian tersebut yang melakukan tes pada rokok elektrik dengan memanaskan cairan dengan dua voltage yang berbeda.

Pada tegangan rendah, mereka tidak mendeteksi formaldehyde (zat yang bersifat karsinogenik dan ada dalam rokok tembakau konvensional), tetapi zat tersebut terdeteksi pada voltage tinggi, lalu menyimpulkan bahwa rokok elektrik mengandung zat yang sama berbahayanya dengan rokok.

Menurut Dimasz, hasil penelitian tersebut mengabaikan fakta penggunaan rokok elektrik.

“Kesimpulan yang dibuat dari penelitian itu agak menyesatkan. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa pengguna rokok elektrik tidak akan pernah memanaskan cairan pada tegangan yang sangat tinggi karena akan menciptakan rasa terbakar yang tidak enak,” ujar Dimasz.

baca juga

Pandangan salah yang dipromosikan oleh banyak pihak dapat secara negatif memengaruhi mantan perokok aktif yang telah pindah ke rokok elektrik untuk berhenti merokok, untuk kembali merokok lagi.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Nicotine and Tobacco Research pada tahun 2014, sepertiga dari pengguna rokok elektrik kembali untuk merokok konvensional karena mereka khawatir akan bahaya rokok elektrik yang diinformasikan pada mereka, walaupun beberapa penelitian telah membuktikan bahwa mereka lebih rendah risikonya dibandingkan dengan rokok tembakau.

“Kesalahpahaman di sekitar rokok elektrik itu membuat putus asa dan mencegah perokok beralih ke alternatif yang lebih rendah risiko. Pendidikan adalah kunci, dengan itu, upaya pengurangan dampak buruk dapat berhasil dan akan menciptakan pendekatan yang lebih terbuka yang diperlukan untuk memotivasi perokok untuk berhenti,” ujar Dimasz.

Kesalahan informasi dan kebingungan seputar rokok elektrik semakin marak belakangan ini setelah terjadinya krisis kesehatan di Amerika Serikat yang dikaitkan dengan penggunaan rokok elektrik atau vape.

Kejadian ini pun sempat mendorong pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan wacana pelarangan produk vape.

Padahal, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah mengumumkan temuan investigasinya sejauh ini bahwa penyakit paru-paru misterius yang selama ini dikaitkan dengan vape disebabkan oleh penyalahgunaan zat terlarang seperti THC dan Vitamin E asetat.

Sejumlah asosiasi vape di Indonesia pun menyatakan bahwa pelarangan ini justru akan mendorong perokok untuk kembali ke kebiasaan merokoknya dan tidak akan menyelesaikan masalah rokok di Indonesia.

Saat ini, terdapat lebih dari 67 juta perokok dewasa, yang merupakan 39% dari populasi orang dewasa, dan jumlah ini menjadikan Indonesia negara dengan populasi perokok terbesar ketiga di dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaleidoskop Kesehatan 2019: Regulasi Vape dan Risiko Penyakit Paru

Kaleidoskop Kesehatan 2019: Regulasi Vape dan Risiko Penyakit Paru

Health | Rabu, 18 Desember 2019 | 06:25 WIB

Badan Kesehatan AS Rilis Merek Rokok Elektrik 'Bermasalah', Ini Daftarnya

Badan Kesehatan AS Rilis Merek Rokok Elektrik 'Bermasalah', Ini Daftarnya

Health | Rabu, 11 Desember 2019 | 11:00 WIB

Pro dan Kontra: Rokok Elektronik

Pro dan Kontra: Rokok Elektronik

Your Say | Selasa, 10 Desember 2019 | 10:48 WIB

Terkini

FAM Malaysia Protes Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh

FAM Malaysia Protes Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:36 WIB

Belanja Negara APBN 2027 Tertinggi dalam Sejarah, Kemenkeu Klaim Buat Kesejahteraan

Belanja Negara APBN 2027 Tertinggi dalam Sejarah, Kemenkeu Klaim Buat Kesejahteraan

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:35 WIB

Penampilan Siswa Bikin Orang Tua Haru, Gus Ipul: 1 Tahun di Sekolah Rakyat Jadi Lebih Percaya Diri

Penampilan Siswa Bikin Orang Tua Haru, Gus Ipul: 1 Tahun di Sekolah Rakyat Jadi Lebih Percaya Diri

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:34 WIB

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Masih di Atas USD 100/Barel

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Masih di Atas USD 100/Barel

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:31 WIB

Hasyim Asy'ari Akui KPU Tak Cek Keabsahan Dokumen Pendidikan Gibran saat Pilpres 2024

Hasyim Asy'ari Akui KPU Tak Cek Keabsahan Dokumen Pendidikan Gibran saat Pilpres 2024

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Biodata dan Profil Nino Fernandez yang Jadi Omongan Panas di X

Biodata dan Profil Nino Fernandez yang Jadi Omongan Panas di X

Entertainment | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:23 WIB

Reaksi John Herdman Usai Malaysia Lumat Singapura Pesta 6 Gol

Reaksi John Herdman Usai Malaysia Lumat Singapura Pesta 6 Gol

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:23 WIB

Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?

Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:21 WIB

IHSG Mulai Menghijau pada Awal Perdagangan, Pantau ENRG

IHSG Mulai Menghijau pada Awal Perdagangan, Pantau ENRG

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:17 WIB

John Herdman Buka Suara Usai Timnas Indonesia Hujan Gol Lawan Bangladesh

John Herdman Buka Suara Usai Timnas Indonesia Hujan Gol Lawan Bangladesh

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:16 WIB

×