Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.401,888
LQ45 632,283
Srikehati 308,081
JII 381,604
USD/IDR 17.820

Kesalahan Informasi Tentang Vape Membuat Perokok Kembali ke Tembakau

Iwan Supriyatna

Rabu, 18 Desember 2019 | 08:31 WIB
Kesalahan Informasi Tentang Vape Membuat Perokok Kembali ke Tembakau
Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)

Suara.com - Mantan Direktur Riset World Health Organization (WHO) yang juga seorang akademisi dari National University of Singapore, Profesor Tikki Pangestu mengatakan bahwa kesalahan informasi tentang produk alternatif seperti rokok elektrik dapat menghambat upaya penyelesaian masalah rokok.

Dalam presentasinya tentang upaya pengurangan dampak buruk rokok (harm reduction) di Asia pada kesempatan E-Cigarette Summit 2019 di London baru-baru ini, Prof. Tikki menjabarkan sejumlah tantangannya dan salah satunya adalah pembuat kebijakan yang salah informasi.

“Pada Januari tahun ini, seorang pembuat kebijakan senior di salah satu negara Asia membuat pernyataan ini dalam sebuah forum publik, Pemuda yang pernah menggunakan rokok elektrik punya kecenderungan lebih besar untuk menjadi perokok reguler. Rokok elektrik bukanlah alternative yang lebih sehat dari rokok biasa, juga tidak membantu orang berhenti merokok," kata Prof. Tikki, Rabu (18/12/2019).

"Ini adalah masalah nyata yang kita hadapi di banyak negara Asia, pembuat kebijakan memilah bukti sesuai dengan kepentingan mereka untuk mempertahankan posisi masing-masing. Tapi, seperti yang dikatakan Daniel Moynihan, semua orang berhak berpendapat, namun tidak ada yang bisa memanipulasi fakta,” Prof. Tikki menambahkan.

Kekhawatiran yang sama juga disampaikan oleh Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI), Dimasz Jeremia. Ia memberikan contoh yang terjadi pada hasil penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine pada tahun 2015.

Penelitian tersebut yang melakukan tes pada rokok elektrik dengan memanaskan cairan dengan dua voltage yang berbeda.

Pada tegangan rendah, mereka tidak mendeteksi formaldehyde (zat yang bersifat karsinogenik dan ada dalam rokok tembakau konvensional), tetapi zat tersebut terdeteksi pada voltage tinggi, lalu menyimpulkan bahwa rokok elektrik mengandung zat yang sama berbahayanya dengan rokok.

Menurut Dimasz, hasil penelitian tersebut mengabaikan fakta penggunaan rokok elektrik.

“Kesimpulan yang dibuat dari penelitian itu agak menyesatkan. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa pengguna rokok elektrik tidak akan pernah memanaskan cairan pada tegangan yang sangat tinggi karena akan menciptakan rasa terbakar yang tidak enak,” ujar Dimasz.

baca juga

Pandangan salah yang dipromosikan oleh banyak pihak dapat secara negatif memengaruhi mantan perokok aktif yang telah pindah ke rokok elektrik untuk berhenti merokok, untuk kembali merokok lagi.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Nicotine and Tobacco Research pada tahun 2014, sepertiga dari pengguna rokok elektrik kembali untuk merokok konvensional karena mereka khawatir akan bahaya rokok elektrik yang diinformasikan pada mereka, walaupun beberapa penelitian telah membuktikan bahwa mereka lebih rendah risikonya dibandingkan dengan rokok tembakau.

“Kesalahpahaman di sekitar rokok elektrik itu membuat putus asa dan mencegah perokok beralih ke alternatif yang lebih rendah risiko. Pendidikan adalah kunci, dengan itu, upaya pengurangan dampak buruk dapat berhasil dan akan menciptakan pendekatan yang lebih terbuka yang diperlukan untuk memotivasi perokok untuk berhenti,” ujar Dimasz.

Kesalahan informasi dan kebingungan seputar rokok elektrik semakin marak belakangan ini setelah terjadinya krisis kesehatan di Amerika Serikat yang dikaitkan dengan penggunaan rokok elektrik atau vape.

Kejadian ini pun sempat mendorong pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan wacana pelarangan produk vape.

Padahal, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah mengumumkan temuan investigasinya sejauh ini bahwa penyakit paru-paru misterius yang selama ini dikaitkan dengan vape disebabkan oleh penyalahgunaan zat terlarang seperti THC dan Vitamin E asetat.

Sejumlah asosiasi vape di Indonesia pun menyatakan bahwa pelarangan ini justru akan mendorong perokok untuk kembali ke kebiasaan merokoknya dan tidak akan menyelesaikan masalah rokok di Indonesia.

Saat ini, terdapat lebih dari 67 juta perokok dewasa, yang merupakan 39% dari populasi orang dewasa, dan jumlah ini menjadikan Indonesia negara dengan populasi perokok terbesar ketiga di dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaleidoskop Kesehatan 2019: Regulasi Vape dan Risiko Penyakit Paru

Kaleidoskop Kesehatan 2019: Regulasi Vape dan Risiko Penyakit Paru

Health | Rabu, 18 Desember 2019 | 06:25 WIB

Badan Kesehatan AS Rilis Merek Rokok Elektrik 'Bermasalah', Ini Daftarnya

Badan Kesehatan AS Rilis Merek Rokok Elektrik 'Bermasalah', Ini Daftarnya

Health | Rabu, 11 Desember 2019 | 11:00 WIB

Pro dan Kontra: Rokok Elektronik

Pro dan Kontra: Rokok Elektronik

Your Say | Selasa, 10 Desember 2019 | 10:48 WIB

Terkini

Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa

Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 23:16 WIB

Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib

Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib

Sumsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu

Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu

Sumsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:40 WIB

Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya

Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya

Entertainment | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:39 WIB

Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal

Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:02 WIB

Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes

Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:46 WIB

73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla

73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla

Kaltim | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:45 WIB

Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Jabar | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:36 WIB

Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9

Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9

Jabar | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:30 WIB

Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run

Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:30 WIB

×